Jurnal

Semua bergantung juga pada kita

Ditulis oleh Webmaster

Belum lama ini Food and Agriculture Organisation (FAO) meluncurkan perkiraan pangan dunia. Kita harus melihat apa yang dikemukakan oleh FAO itu sebagai general picture seluruh dunia, yang gambarannya memang demikian. 

Hal itu karena ada beberapa faktor. Pertama, perebutan antara pangan dan energi, yang sudah diketahui secara umum. Di sisi lain perubahan iklim sudah terjadi sekarang. Dengan perubahan iklim ini ada daerah-daerah yang kelebihan curah hujan dan ada yang kekeringan. Jelas, ini akan mempengaruhi produksi manakala juga iklim tidak mudah diprediksi, sehingga timbul statement seperti itu secara umum. 

Nah, akan tetapi, inti laporan yang lebih rinci dari FAO itu, dimana saya ikut dalam siding FAO yang terakhir ketika masalah itu dibicarakan, disebutkan bahwa yang mengalami pengaruh severe (berat) terjadi pada least developing country karena  ketidakmampuan mereka untuk meningkatkan produksi. Negara maju, tetap masih tertinggi dalam meningkatkan produksinya. Negara-negara berkembang cukup bagus. Nah, jadi kalau kita katakan krisis, kemungkinan, yang paling terkena dampak itu Negara-negara yang masih belum maju. Kedua, negara berkembang bisa terkena kalau tidak hati-hati. Ini gambaran umumnya.  

Sekarang, masuk ke Indonesia. Kita sebenanrnya punya dua sisi. Pertama, kalau kita tidak hati-hati, krisis itu bisa terjadi di Indonesia. Kedua, atau di  sisi lain, ini merupakan suatu peluang. Jadi antara ancaman dan peluang itu, sama besarnya. Artinya, kemungkinan terjadinya sama besar. Sekarang tinggal pandai-pandainya kita memanfaatkan situasi ini. 

Saya ingin bicara dari sisi peluang. Pertama, harga pangan dunia naik. Ini akan memberikan insentif yang sangat besar bagi petani-petani Indonesia untuk bisa lebih meningkatkan produksi dengan cara meningkatkan produktivitas dan ekstensifikasi. Harga pangan yang bagus ini merupakan dorongan yang luar biasa karena keuntungan petani meningkat dan dengan sendirinya diharapkan kesejahteraan petani juga meningkat. Contoh-contoh seperti itu sudah ada. 

Kemampuan kita meningkatkan produksi beras itu diantaranya didorong oleh harga beras yang cukup bagus sepanjang tahun. Retorika lama yang mengatakan harga gabah drop pada saat panen, itu tidak terlalu terjadi. Mungkin terjadi tapi sifatnya sangat lokal. Secara nasional harga selalu di atas harga pembelian pemerintah (HPP) rata-rata. Jadi itu membuktikan bahwa petani-petani kita sangat bergairah bertanam padi.  

Indikasi lain, makin banyak swasta-swasta yang masuk ke padi, yang sebelumnya hampir tidak pernah ada. Ini indikasi bahwa bisnis produksi padi itu sesuatu yang menguntungkan, yang menarik. 

Saya malah sudah menghitung, secara umum, angka rata-rata keuntungan bisa 100% dari modal dalam waktu sekitar tiga hingga empat bulan. Bisnis mana yang bisa menyaingi seperti itu? Saya selalu mengatakan kalau petani kita masih miskin, bukan bisnisnya yang tidak menguntungkan. Tapi, karena masalah lain seperti kepemilikan lahan yang sempit, mereka tidak punya modal, harus pinjam dulu, dan macam-macam. Tapi bisnis sendiri, luar biasa menguntungkan. 

Jagung juga demikian. Harga membaik, keuntungan membesar. Bahkan ada sedikit kekhawatiran dari kami. Jagung bisa menggeser padi seperti di beberapa tempat. Kenapa? Karena bisa lebih menguntungkan daripada padi, terutama jika menggunakan benih jagung hibrida yang potensi produksitifitasnya bisa mencapai 12 ton per hektar. Pemeliharaannya juga lebih sederhana, modalnya lebih rendah, tapi hasilnya lebih baik atau minimal sama dengan padi. 

Itu dari sisi harga. Dari sisi potensi, masih memungkinkan untuk meningkatkan produksi. Bukan hanya dengan jalan ekstensifikasi, tapi juga dengan jalan intensifikasi. Kalau kita lihat sebaran daerah yang didasarkan pada produktivitas, terlihat masih banyak terjadi ketimpangan. Secara umum, luar Jawa produktivitasnya masih rendah dibandingkan dengan Jawa. Di Jawa pun masih ada variasi. Apalagi di luar Jawa. Jadi, potensi meningkatkan produktivitas di luar Jawa jauh lebih besar dibandingkan dengan Jawa. Walau di Jawa pun masih memungkinkan untuk naik, apalagi berkembangnya varitas-varitas unggul. 

Kemudian, di luar Jawa, dan bahkan di Jawa sekalipun (khususnya di lahan sawah tadah hujan), itu masih banyak yang memiliki IP (Indeks Pertanaman) hanya 1 atau secara nasional masih 1,5-1,6. Bayangkan kalau kita naikkan menjadi dua saja secara rata-rata nasional. Secara nasional berarti ada kenaikan 0,4. Lalu kalikan dengan luas panen 12 juta hektare. Berapa? 4,8 juta hektare dan kalikan dengan produktivitas yang rata-rata 4.7 ton GKG/Ha. Berapa hasilnya? Bisa kita hitung sendirilah itu. Saya hitung minimal ada tambahan sekitar 10 juta ton beras. Bagaimana cara meningkatkan IP? Salah satunya dengan membangun dan memperbaiki irigasi. Kalau irigasi diperbaiki, dibangun, sawah-sawah menjadi sawah irigasi teknis semua. Itulah yang bisa menaikkan IP. 

Kemudian di luar Jawa, masih banyak yang satu kali tanam. Kalau irigasinya diperbaiki bisa dua kali tanam dalam setahun. Dari sisi lain, di Sumatra, Kalimantan, masih banyak daerah-daerah rawa pasang surut, rawa lebak yang bisa kita manfaatkan. Itu kita buktikan 2007. Bagaimana Sumatra Selatan bisa naik produksinya sampai 15%. Diantaranya dengan memanfaatkan rawa pasang surut. Jadi itu contoh-contoh gambaran bagaimana kita masih punya potensi. 

Belum lagi kita berbicara intensifikasi. Perbaikan varietas, yang kita lakukan, itu diantaranya yang menyumbang kenapa kita bisa menaikkan produksi. 

Kalau kita evaluasi tahun 2007, peningkatan produksi karena dua hal. Pertama, luas tanam. Kedua, karena peningkatan produktivitas. 

Kita menduga peningkatan produktifitas itu karena perbaikan varietas. Itu pun program bantuan benih kita baru lancar diakhir tahun, sehingga sebagian besar hasil program benih itu baru bisa kita peroleh tahun 2008.  

Namun, katakanlah pada 2007 perkiraan kita hanya 30% dari program benih kita yang terealisasi, yang menyumbangkan produksi di tahun 2007. Tapi, itu saja dampaknya sudah besar. Itu dari sisi padi, jagung potensinya juga sangat besar. Disamping  penggunaan benih jagung hibriada yang produktivitasnya tinggi, baru sekitar 30-an%. Kalau itu kita naikkan 70%, berapa besar dampaknya? 

Itu dari segi produktivitas. Dari segi eksistensifikasi luas tanam masih mungkin. Kita perhatikan saja secara kualitatif. Petani-petani kita masih banyak yang belum terbiasa menanam palawija di musim kemarau. Sawah-sawah banyak yang menganggur di musim kemarau. Ini suatu potensi. Mereka selalu menginginkan padi, padi, padi. Padahal kan tidak mungkin. Sawah tadah hujan kita masih cukup besar. Ini masih bisa kita manfaatkan untuk menanam jagung, sehingga rencana kita, kita akan memberikan benih jagung gratis di sawah-sawah tadah hujan di musim kemarau, yang masih memungkinkan sedikit air, tapi untuk padi tidak cukup.  

Itu kita baru bicara dua. Belum untuk bahan pangan yang lain. Itupun kita masih punya banyak potensi. 

Lalu bagaimana semua itu diakselerasi? Kita kembali pada hal yang mendasar, yang harus kita bangun, yang sering saya katakan, yakni Pancayasa. Ada lima hal yang harus dilakukan secara bersamaan. Pertama, infrastruktur harus dibangun, diperbaiki dan dipelihara. Kedua, penguatan kelembagaan petani. Saya baru saja berkunjung ke Banten, disana saya menyimpulkan bahwa memang kelembagaan ini masih sangat diperlukan. Kenapa? Ini karena struktur petani kita di tingkat desa itu ‘dikuasai’ oleh pemimpin-pemimpin informal, yang dalam bahasa sehari-hari disebut dengan tengkulak, rentenir, dll. Mereka ini ternyata juga betindak sebagai penyalur pupuk, benih, menyewakan lahan, dan lain-lain seperti meminjamkan modal. Semua itu dibayar setelah panen, hasil panen petani mereka serap tapi dengan harga yang relatif lebih rendah dari harga pasaran. Dengan Yarnen (dibayar setelah panen) sebetulnya petani rugi, sebagai contoh satu karung urea (50 Kg) seharga Rp 120,- dibayar dengan satu karung (50 Kg) gabah seharga minimal Rp 200,-. Ini sebenarnya titik kritis, sehingga kenapa petani kita sebagian besar masih miskin, karena ketergantungan kepada orang-orang seperti itu. 

Karena itu, untuk mengatasi masalah ini, program kita  adalah penguatan kelembagaan petani yaitu kelompok tani, gabungan kelompok tani, dan penumbuhan lembaga keuangan mikro di tingkat desa yang dikelola oleh petani sendiri. Kita harapkan lembaga keuangan mikro ini menjadi pengganti tokoh informal itu. Mau tidak mau harus seperti ini. Ketidakberdayaan petani terhadap akses sarana produksi dan modal akan berdampak pada produktivitas dan lainnya. 

Dengan ketersediaan modal yang memadai yang pengembaliannya ringan, petani bisa dikatakan mampu memproduksi secara optimal. Ketiga, penyuluhan. Ini juga sedang kita perkuat tahun-tahun terakhir ini. Orangnya ditambah, dana operasionalnya ditambah. Di samping juga program-programnya. Tetapi juga penyuluhan ini ternyata kita lihat di lapangan masih belum bergerak sesuai dengan yang kita harapkan. Contoh sederhana bagaimana pengetahun petani soal pemupukan, yang kita nilai masih belum sesuai anjuran. Ini berarti penyuluhan belum berjalan dengan baik, masih akan kita tingkatkan terus. Pemupukan yang tidak sesuai anjuran tentu berpengaruh pada produksi. 

Keempat, permodalan. Banyak petani kita yang kekurangan bahkan tidak punya modal dan jangan bicara perbankan apabila kita bicara petani kecil. Bank hanya menjangkau petani menengah atas dengan agunan dan persyaratan yang begitu rumit bagi petani kecil. Hampir tidak mungkin petani kecil dibiayai oleh bank. Bank mensyaratkan adanya agunan. Mereka tidak punya, sehingga kuncinya adalah lembaga keuangan mikro di tingkat desa, dimana modal awalnya dari pemerintah. Lembaga inilah yang memberikan modal kepada petani kecil dengan tanpa agunan. Inilah yang kita programkan dalam program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) untuk 10.000 desa miskin di Indonesia pada 2008. Dana satu trilyun telah disediakan untuk memodali 10 ribu lembaga keuangan mikro yang akan ditumbuhkan di 10 ribu desa dimana masing masing desa memiliki satu lembaga keuangan mikro dengan modal awal dari APBN sebesar Rp 100 juta per desa. 

Kelima, jaminan pemasaran, ini yang akan kita aktifkan dan kembangkan lagi, misalnya, pembelian yang dilakukan untuk Bulog. Kita akan lebih aktif lagi mendorong agar gabungan kelompok tani itu bermitra dengan Bulog supaya hasil mereka itu, jika harganya tidak bagus, bisa dijual ke Bulog. Kalau harga bagus, mereka bisa langsung menjual ke pedagang sampai ke tingkat wholesale market dimana para petani menjual secara berkelompok. Sebab, secara berkelompok lebih menguntungkan daripada sendiri-sendiri. Kelima hal itu yang akan kami lakukan secara simultan dalam upaya meningkatkan produksi pangan sehingga tidak hanya tercapai swasembada tapi juga mampu mengekspor pangan (net exporter), khususnya jagung yang ditargetkan mampu kita lakukan di tahun 2008 ini, insya Allah.

0 komentar »

DILEMA PERSOALAN KEDELE*)

Ditulis oleh Webmaster

Ketahanan pangan adalah kemampuan suatu negara dalam menyediakan pangan yang cukup, baik dari segi kuantitas maupun kualitas serta terdistribusi merata ke seluruh pelosok negeri. Suatu negara dinilai memiliki ketahanan pangan yang baik jika memenuhi syarat diatas, selain itu disyaratkan pula bahwa setiap keluarga memiliki akses terhadap pangan, mampu mendapatkan pangan yang berkualitas dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Banyak kalangan menilai ketahanan pangan saja tidak cukup karena bisa saja penyediaan pangan yang cukup dan terjangkau itu diperoleh melalui impor, akibatnya walaupun kebutuhan pangan kita tercukupi dan masyarakat mampu menjangkau pangan tersebut, akan tetapi rawan akan guncangan jika terjadi apa-apa terhadap pangan impor tersebut semisal kenaikan harga pangan impor yang tajam. Oleh karena itu dikenal pula istilah kemandirian pangan yang diartikan bukan hanya sekedar ketahanan pangan akan tetapi pangan yang tersedia tersebut sebagian besar atau seluruhnya diperoleh dari dalam negeri, bukan impor.

                Kejadian akhir-akhir ini yaitu naiknya harga kedele yang tajam, dua kali lipat hanya dalam waktu 3 bulan, telah menyadarkan kita bahwa kita membutuhkan kemandirian pangan. Kebergantungan kita terhadap kedele impor (60% dari kebutuhan) ternyata membawa petaka,  kita tidak mampu menahan naiknya harga kedele begitu terjadi gejolak di negara pengekspor atau jika terjadi penurunan suplai kedele di pasar internasional. Kenaikan harga kedele yang tajam membawa dampak rentetan yaitu pengrajin makanan berbahan baku kedele seperti tahu dan tempe kelimpungan karena mereka harus menjual produknya dengan harga yang tinggi sementara mereka juga tahu daya beli masyarakat masih sangat terbatas. Akibatnya, disamping upaya menaikan harga yang jelas akan terbatas kenaikannya karena disesuaikan dengan daya beli masyarakat, mereka juga melakukan penyesuaian ukuran produk mereka agar harganya tetap terjangkau. Rentetan berikutnya yaitu konsumen menjerit karena makanan bergizi tinggi dan favorit seperti tahu dan tempe semakin mahal harganya, akibatnya mereka tidak mampu membeli atau mengurangi jumlah yang dibeli. Jika hal ini berlangsung lama maka dikhawatirkan kondisi gizi masyarakat kurang mampu akan semakin buruk akibat kurangnya asupan tahu dan tempe, makanan yang bergizi tinggi.

                Produsen tahu dan tempe menuntut penurunan harga kedele, tapi bagaimana caranya? Solusi jangka pendek pemerintah dengan menurunkan bea masuk impor kedele dari 10% menjadi 0% dapat mengurangi beban produsen karena harga kedele akan turun walaupun hanya SEKITAR 10%. Banyak pengamat mengatakan penurunan bea masuk tidak ada artinya, tapi itu jelas tidak benar karena walaupun harga hanya turun 10% tentu bisa mengurangi beban produsen dan akhirnya konsumen juga. Sayangnya, hampir tidak ada seorang pengamat pun yang mampu memberikan solusi dalam jangka pendek ini karena memang kenaikan harga tersebut dipicu oleh faktor eksternal, naiknya harga kedele di pasar internasional. Secara teoritis untuk menurunkan harga adalah dengan memperbanyak suplai ke pasaran, akan tetapi dari mana kedelenya? Produksi dari dalam negeri masih terbatas akibat harga kedele di masa lalu yang tidak memberikan insentif yang memadai bagi petani. Keuntungan dari budidaya kedele sangat tipis, petani lebih tertarik menanam jagung yang harganya baik dan produktifitasnya jauh lebih baik dari kedele. Disinilah dilemanya, di satu sisi kita ingin menyediakan pangan bergizi yang terjangkau oleh masyarakat, untuk itu pemerintah mengizinkan impor kedele mengingat kedele impor relatif murah karena mendapatkan subsidi yang besar oleh negara pengekspornya, khususnya kedele dari Amerika. Di sisi lain  kedele produksi dari dalam negeri menjadi tertekan karena kedele dari dalam negeri tidak mampu bersaing dengan kedele impor yang disubsidi tersebut, akibatnya produksi kedele dari dalam negeri tidak berkembang bahkan cenderung turun karena harga kedele pada saat itu tidak memberikan keuntungan yang layak bagi petani.

                Menyadari akan pentingnya peningkatan produksi kedele didalam negeri agar kita memiliki ketahanan pangan yang kuat, Departemen Pertanian pada awal tahun 2005 mengusulkan bea masuk impor kedele dinaikkan dari 5% menjadi 25%. Hal ini dimaksudkan agar harga kedele didalam negeri cukup memberikan insentif bagi usaha produksi kedele sehingga petani mau menanam kedele yang pada akhirnya produksi kedele meningkat. Akan tetapi, usulan ini tidak disetujui karena dengan kenaikan bea masuk impor akan menaikkan harga kedele yang akan mengakibatkan beban berat bagi produsen tahu tempe dan produk berbahan baku kedele lainnya karena mereka harus menaikkan harga jual produknya. Jika harga tahu tempe dan produk berbahan baku kedele lainnya meningkat maka konsumen pun protes karena kemampuan mereka, khususnya golongan miskin, masih sangat terbatas. Akhirnya, melalui perdebatan seru disepakati kenaikan tarif impor kedele dari 5% menjadi 10%. Kenaikan tarif sebesar 5% tersebut ternyata belum mampu menaikkan produksi kedele secara signifikan, bahkan pada tahun 2007 terjadi penurunan produksi akibat sebagian petani beralih menanam jagung karena harganya lebih menarik, walaupun pada tahun 2007 itu benih kedele dibagikan gratis.

Bagaimana solusinya?

                Gonjang ganjing naiknya harga kedele yang tajam seharusnya membawa hikmah dan kesadaran betapa kemandirian pangan mutlak diwujudkan. Produksi kedele didalam negeri tidak akan meningkat jika harga kedele tidak memberikan insentif yang layak bagi petani. Di sisi lain, harga kedele yang terlalu mahal juga berakibat buruk bagi produsen tahu tempe dan konsumen. Oleh karena itu harga kedele harus pas, pas bagi petani agar memberikan keuntungan yang memadai dari usaha taninya, pas bagi konsumen agar sesuai dengan kemampuan daya belinya, pas pula bagi produsen tahu tempe agar memberikan keuntungan yang layak dari usahanya. Harga yang pas ini harus dihitung secara cermat. Departemen pertanian sendiri mengusulkan harga yang pas di tingkat petani sebesar Rp 5500 (berdasarkan biaya produksi dan keuntungan sebesar 40%) sehingga di tingkat konsumen akan berkisar antara Rp 6500 sampai Rp 7000.

                Jika harga patokan kedele sudah ditetapkan maka langkah berikutnya upaya-upaya menaikkan produksi kedele didalam negeri melalui pembagian benih kedele unggul gratis, bimbingan teknis budidaya melalui penyuluhan, penyediaan fasilitas pembiayaan, penggunaan pupuk organik yang sesuai untuk kedele dan perluasan areal tanam. Untuk menjaga harga yang stabil pada kisaran yang diharapkan maka harus ada lembaga penyangga (bisa kita minta Bulog) yang menyerap kedele petani jika harganya dibawah harga patokan pembelian pemerintah. Lembaga penyangga harus memiliki stok agar mampu melakukan stabilisasi harga pada saat harga kedele melambung. Instrumen bea masuk impor kita mainkan untuk mengontrol harga kedele didalam negeri, bea masuk kita naikkan jika harga kedele internasional turun dan diturunkan bahkan dihilangkan jika harga internasional kedele naik. Besaran bea masuk kedele impor diatur sesuai dengan harga patokan kedele didalam negeri yang diharapkan. Jika langkah-langkah diatas dijalankan maka insya Allah permasalahan kedele yang terjadi saat ini dapat kita atasi dengan baik.

*)diterbitkan Harian Bisnis Indonesia

0 komentar »

MENYIASATI GEJOLAK PASOKAN DAN HARGA PANGAN*)

Ditulis oleh Webmaster

Demonstrasi pengusaha tahu dan tempe se Jabodetabek menuntut stabilisasi harga kedelai merupakan fenomena gejolak pasokan dan harga komoditas pangan yang harus diwaspadai dan dicari solusinya. Kenaikan harga kedelai beberapa kali dari Rp 3500 menjadi Rp 7500 selama tiga bulan terakhir memosisikan pengusaha pada ketidakpastian. Munculnya double pressure dari konsumen dan pemasok kedelai ini sangat mencemaskan. Penolakan konsumen akibat harga naik berkepanjangan dan kontraksi modal usaha akibat harga jual tahu dan tempe yang mengakibatkan tidak dapat digunakan untuk membeli kedelai pada proses produksi berikutnya menjadikan pengusaha harus nombok modal dalam waktu tidak terbatas. Cepat dan pasti situasi ini akan mendorong pengusaha tahu dan

tempe menuju jurang kebangkrutan. Dinamika fluktuasi pasokan dan harga komoditas pangan diprakirakan semakin sering terjadi karena terjadinya perubahan iklim yang mengakibatkan intensitas dan frekuensi bencana alam semakin meningkat, trade off kebutuhan pangan dengan energi serta persaingan penggunaan lahan antar komoditas akibat disparitas harga dan produktivitas. Turbulensi harga saat terjadinya musibah selain karena akibat kelancaran distribusi yang terganggu juga akibat spekulasi dan psikologis pasar akibat pemberitaan yang gegap gempita dan cenderung mengeksloitasi bencana tersebut sehingga seakan-akan seluruh Indonesia banjir dan ketahanan pangan terganggu, kamera televisi selalu menyorot sawah yang tergenang banjir tapi tidak diimbangi dengan menyorot sawah-sawah yang selamat yang jauh lebih banyak. Menajamnya persaingan penggunaan lahan untuk jagung dan kedelai akibat perbedaan pendapatan usaha tani dan kompetisi pemanfaatan minyak sawit untuk minyak goreng dan biofiul menjadikan titik equilibrium antara pasokan dan harga makin rentan goncangan. 
Liberalisasi perdagangan ASEAN 

Liberalisasi perdagangan ASEAN memosisikan Indonesia pada dua kondisi yang dilematis antara menjadi pasar produk pangan dari luar atau mengekspor produk pangan domestik ke pasar internasional. Kesulitan paling fundamental adalah masalah kuantitas, kualitas dan kontinyuitas serta harga dari produk kita yang kadang kurang kompetitif. Membanjirnya jeruk jenis tertentu di pasaran saat ini dengan kualitas lebih baik dan harga lebih murah dibandingkan produk lokal merupakan realitanya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Penyebab utamanya adalah biaya transportasi, sebagai contoh biaya transportasi dari Medan ke

Jakarta lebih mahal dibandingkan Bangkok-Jakarta akibat tingginya pungutan liar dan infrastruktur yang kurang menunjang serta belum adanya insentif transportasi produk pertanian. Semua pihak tahu, tetapi jalan keluarnya ternyata tidak sederhana, bagai lingkaran syetan. Kita harus mencarikan jalan jika petani sebagai tiang negara semakin tidak berdaya?Harus ada keberpihakan dalam menekan biaya produksi dan pemasaran produk pertanian termasuk tata niaganya agar daya saing komoditas pertanian semakin kuat. Hampir semua komoditas mulai bawang merah, wortel, tomat, mangga, jeruk, duku, telur, ikan, daging ayam secara periodik selalu mengalami tekanan harga luar biasa saat panen raya. Ironisnya, seringkali kita juga tidak berdaya menahan harga komoditas pangan saat pasokan dalam negeri menurun. Tragis memang, pertanyaan yang mengemuka, apa jalan keluar yang bisa kita lakukan agar masalah ini tidak berulang dan berulang?. Target dan komitmen  Kunjungan Presiden dan Wakil Presiden beserta Menteri terkait ke Departemen Pertanian pertengahan Januari 2008 untuk evaluasi kinerja program tahun 2007 dan rencana program 2008 merupakan momentum penting yang dapat dimanfaatkan untuk memecahkan gejolak pasokan dan harga komoditas pangan. Prestasi spektakuler pertama sejak 12 tahun terakhir dalam peningkatan produksi padi dan jagung masing masing 4.8% dan 14.4% yang dicapai tahun 2007 harus didukung stock management dan harga yang sehat. Target peningkatan produksi tahun 2008 untuk padi naik 5%, jagung 20% dan kedelai 20% harus didukung komitmen kuat semua pihak. Stimulan harga komoditas yang menarik, dukungan rehabilitasi dan pembangunan infrastruktur irigasi, pengendalian impor, subsidi pupuk, benih gratis, penyediaan modal dan reduksi losses secara sinergis, penyediaan sarana produksi pertanian tepat waktu, jumlah, kualitas, tempat harus dioptimalkan. Apalagi presiden telah menekankan bahwa program pemenuhan pangan dan kesejahteraan petani merupakan salah satu program utama Kabinet Indonesia Bersatu yang harus berhasil sekalipun mahal ongkosnya.Peningkatan produksi bahan pangan khususnya padi, jagung dan kedele akan membantu menyediakan bahan pangan yang terjangkau dan mengurangi ketergantungan kita kepada impor dan untuk kedele dapat mengurangi tekanan kenaikan harga kedele impor. Oleh karena itu menjadi penting terbentuknya kemitraan antara produsen pengguna kedele dengan petani kedele agar mereka saling mendukung agar mampu memproduksi kedele dalam jumlah yang cukup untuk kebutuhan didalam negeri. Hal ini sangat memungkinkan mengingat lahan pertanian kita masih cukup luas, mulai tersedianya benih benih kedele unggul dengan produktifitas yang relatif tinggi dan harga kedele yang menarik bagi usaha budidaya kedele dengan keuntungan yang layak. 
Format “baru” diversifikasi 

Pengendalian laju pertumbuhan penduduk dan diversifikasi pangan merupakan instrumen penting untuk mengurangi tekanan atas permintaan dan harga pangan. Perubahan mind set terhadap pangan seperti “belum makan sebelum makan nasi”, persepsi terhadap tiwul, nasi aking dan bahan pangan lainnya sebagai makanan orang miskin dan kelaparan mutlak harus dilakukan. Media harus berkontribusi positif dalam mendorong diversifikasi dan bukan sebaliknya menyudutkan pemerintah dan memperolok masyarakat yang memakan makanan pokoknya bukan nasi. Andai masyarakat tidak mampu membeli beras dan membeli tiwul sebagai pengganti karena lebih murah maka jangan dihina, itu malah bagus karena dapat mengurangi permintaan terhadap beras dan melakukan diversifikasi ke bahan pangan yang lebih murah dengan gizi yang tidak terlalu inferior, apalagi jika dikombinasi dengan bahan pangan yang bergizi tinggi seperti ikan dan sayuran. Diversifikasi melalui kombinasi gandum dengan bahan pangan lokal untuk menghasilkan pangan bergizi, terjangkau dan prestisius merupakan pilihan lain. Keunggulan gandum dalam hal kandungan gluten, gizi, harga, kegunaan, ketersediaan, dan daya simpan harus dapat diintegrasikan dalam merancang pangan berbasis kombinasi gandum dan bahan pangan lokal. Naiknya harga gandum di pasar dunia merupakan momentum dan entry point ideal untuk mendorong terbentuknya format baru diversifikasi tersebut. Peluang sudah tersedia, saatnya kita bangkit dengan pangan hibrid agar bangsa ini tidak masuk ke perangkap pangan.*** 

*)Dimuat Harian Kompas edisi 16 Januari dengan judul Gejolak Pasokan dan Harga Pangan

0 komentar »

Laporan dari Roma: Berupaya Tanaman Hias RI Masuk Uni Eropa

Ditulis oleh Webmaster

ROMA - Mentan Anton Apriyantono meminta sejawat Mentan Belanda Gerda Verburg agar tanaman hias dan bunga potong Indonesia bisa masuk ke Belanda dan Uni Eropa.

Itulah salah satu pokok pembicaraan yang terungkap dari pertemuan bilateral antara Menteri Pertanian RI Anton Apriyantono dengan Menteri Pertanian Belanda Gerda Verburg di sela acara Konferensi FAO ke-34 di Roma, 20/11/2007.

Anton didampingi Dirjen Tanaman Pangan Soetarto Alimoeso, Dubes KBRI Roma Susanto Sutoyo, Kepala Badan Ketahanan Pangan Deptan Kaman Nainggolan, dan Atase Pertanian KBRI Roma Erizal Sodikin.

Kedua produk pertanian Indonesia yang diharapkan dapat ikut menangguk devisa itu diharapkan dapat diekspor melalui Aalsmeer, kota pusat pelelangan bunga terbesar di Belanda, yang merupakan pintu masuk tanaman hias dan bunga potong dunia ke Belanda dan Uni Eropa.

Dalam konteks tersebut disepakati nantinya perlu suatu Mutual Recognition Agreement (MRA) antara Indonesia dan Belanda terhadap komoditi pertanian. Anton berjanji akan mengirimkan tim khusus ke Belanda untuk membahas hal ini.

Menanggapi hal ini, Mentan Belanda Gerda Verburg menyanggupi akan membantu dan menindaklanjutinya. Menteri dari Partai Kristen Demokrat (CDA) itu juga menanyakan isu perkebunan kelapa sawit, lingkungan dan visi berkelanjutan.

Generasi Kedua
Anton menjelaskan bahwa Indonesia sangat memperhatikan tentang pembangunan kelapa sawit yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

“Meskipun ada saja pelanggaran, tetapi hal tersebut hanya merupakan kasus yang ilegal. Saat sekarang pemerintah sedang menyusun suatu sertifikasi soal ini dengan segala kriterianya,” tegas Anton.

Pada kesempatan itu Anton mengajak Belanda mengembangkan tanaman untuk biofuel, tidak hanya kelapa sawit tetapi juga tanaman jarak (Jatropa). Tanaman ini tidak berkompetisi dengan kebutuhan bahan untuk pangan maupun pakan. Hanya saja saat sekarang produksinya masih rendah dan belum ekonomis.

Belanda akan menindaklanjuti soal ini, karena tanaman ini dapat menjadi generasi kedua bagi bioenergi di masa depan.

Selain tema tentang produk hortikultura, pertemuan juga membahas beberapa isu seperti soal karantina produk peternakan, benih kentang, ternak sapi, dan penyakit Flu Burung.

Mengenai hal ini, Anton mengatakan bahwa segala sesuatunya dapat diselesaikan melalui beberapa persyarakatan. Dia menjamin akan menindaklanjuti persoalan ini ke institusi teknis terkait.

Menteri pertanian Belanda mengharapkan adanya suatu kerjasama dalam persoalan karantina ini dengan mengundang tim inspeksi Indonesia ke Belanda untuk meninjau segala sesuatunya. (sumber detik.com)

2 komentar »

Laporan dari Roma: FAO Bertanggung Jawab Kurangi Kemiskinan Penduduk Dunia

Ditulis oleh Webmaster

ROMA - Masyarakat dunia hanya punya waktu 8 tahun saja untuk mengurangi separuh jumlah penduduk yang kelaparan. Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) bertanggung jawab untuk itu.

Demikian disampaikan Menteri Pertanian RI Anton Apriantono dalam pidatonya pada sidang Konferensi FAO ke-34 di kantor pusat FAO, Roma, pada 19/11/2007. Konferensi ini berlangsung seminggu, 17/11 - 24/11/2007, dihadiri oleh 192 negara anggotanya.

“Kita hanya tinggal punya waktu delapan tahun saja untuk mencapai target Millennium Development Goals (tujuan pembangunan milenium), yaitu terkuranginya separuh jumlah penduduk yang kelaparan pada 2015,” kata Anton, seperti disampaikan Atase Pertanian KBRI Roma Erizal Sodikin kepada detikcom kemarin malam atau Kamis pagi hari ini, 22/11/2007.

Pertanyaannya, menurut Anton, adalah apakah masyarakat dunia sudah pada jalur yang benar untuk tujuan tersebut?

Anton menegaskan bahwa sektor pertanian merupakan sektor yang berperan secara signifikan untuk mencapai tujuan itu. “Karena sektor inilah yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi sebagian besar negara berkembang,” tandas Anton.

Berkelanjutan
Dalam pidatonya Anton juga menyinggung tentang komitmen pemerintah Indonesia untuk membangun sektor pertanian secara berkelanjutan (sustain).

Sebagai produsen utama minyak sawit, Indonesia sangat perhatian dalam penerapan prinsip-prinsip dan kriteria yang menyangkut perkebunan sawit secara berkelanjutan. Oleh karena itu dia mengajak semua peserta konferensi FAO untuk lebih memperkuat hubungan kerjasama mencari solusi daripada saling tuduh satu sama lain.

“Pada konteks ini, FAO mempunyai peranan sangat penting,” tambah Anton.

Terkait dengan penanggulangan flu burung, Anton atas nama pemerintah dan rakyat Indonesia mengucapkan terima kasih kepada FAO atas dukungannya yang besar dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit ini di Indonesia. Berbagai tindakan telah dilakukan untuk memerangi penyakit ini, termasuk dibentuknya Pusat Pengontrolan dan Penanggulangan Penyakit Flu Burung pada level daerah.

Dalam kesempatan itu Anton juga menyambut baik beberapa rekomendasi yang dikeluarkan oleh tim evaluasi independen eksternal. Selain itu Anton juga mengajak semua anggota FAO bekerjasama untuk memformulasikan strategi terbaik dalam implementasi rekomendasi tersebut, sehingga memungkinkan FAO memprioritaskan program kerjanya secara lebih tepat dan bermanfaat. (sumber detik.com)

2 komentar »

Permohonan Maaf

Ditulis oleh Webmaster

Assalamu’alaikum Wr Wb,
Saya pribadi mohon maaf bila blog yang seharusnya dapat di-update setiap hari (atau beberapa kali dalam sepekan) agar dapat memberi informasi terbaru dan lebih lengkap tentang aktivitas saya di Departemen Pertanian, ternyata masih belum selancar yang saya harapkan. Memang ada staf yang saya minta untuk membantu melakukan update, namun tampaknya tak seperti yang diharapkan. Mudah-mudahan dalam waktu dekat blog ini dapat berjalan seperti semula sehingga berbagai informasi terkait dunia pertanian dapat tersampaikan. Terima kasih kepada semua pihak yang telah memberi respon atas blog ini.
Wassalamu’alaikum Wr Wb,
Anton Apriyantono

3 komentar »

Komentar Terbaru

  • M.Lafhaddin: Ass.Wr.Wb. Slamat buat Pak menteri dan jajarannya yang telah memberikan...
  • M.Lafhaddin: Ass.Wr.Wb. Pembangunan pertanian harus mulai dari kebutuhan petani, bukan kebutuhan...
  • Agus Nizami: Untuk membebaskan kembali sesuai harga beli pemerintah harus mengeluarkan uang rp...
  • Setyo Budi: Pendekatan yang dilakukan bapak menteri, menurut saya bijaksana. saya senang kalau...
  • Agus Nizami: Tambahan komentar dari saya (kok cuma saya ya yang kasih komentar…???:)...