Jurnal
18 Apr, 08
BPS: Produksi Padi 2007 Naik 4,77%, NTP 108,63
Ditulis oleh Webmaster
JAKARTA – Jumlah produksi padi nasional tahun 2007 mencapai 57,052 juta ton gabah kering giling (GKG) atau naik 4,77% (2,60 juta ton) dibanding produksi tahun 2006. Capaian ini lebih baik dari angka ramalan (ARAM) III yang sebelumnya menyebut 57,048 juta ton atau naik 4,76% dari produksi padi 2006 yang mencapai 54,455 juta ton (Angka tetap).
Kenaikan produksi padi, berdasarkan Berita Resmi BPS per 3 Maret 2008, terjadi karena adanya penambahan luas panen sebanyak 338,4 ribu hektar (2,87%) dan peningkatan produktivitas sebesar 0,85 kuintal per hektar (1,84). Kenaikan produksi tahun 2007 sebagian besar disumbang luas Jawa sebesar 2,09 juta ton atau naik 8,54% dari catatan produksi tahun sebelumnya. Pulaw Jawa menyumbang 0,51 juta ton atau naik sekitar 1,69% dari capaian produksi 2006.
Di luar Jawa, peningkatan produksi disebabkan oleh naiknya luas panen sebesar 372,04 ribu hektar (6,10%) dan kenaikan produktivitas sebesar 0,92 kuintal per hektar (2,28%). Di Jawa, kenaikan produksi disebabkan oleh naiknya produktivitas sebesar 1,19 kuintal per hektar (2,27%). Luas panen di Jawa selama 2007 mengalami penurunan sebesar 32,64 ribu hektar (0,57%).Kenaikan yang relatif besar terjadi antara lain di Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Nanggroe Aceh darussalam, Kalimantan Selatan, Lampung dan Kalimantan Barat.
Sebelumnya, menurut ARAM III 2007 BPS, kenaikan produksi padi terjadi karena adanya penambahan luas panen sebanyak 379,18 ribu hektar (3,22%) dan peningkatan produktivitas sebesar 0,69 kuintal per hektar (1,49%). Kenaikan produksi terjadi antara lain di Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Nanggroe Aceh darussalam, Kalimantan Selatan, Lampung dan Kalimantan Barat.Dilihat dari periode waktunya, kenaikan produksi padi 2007 terjadi pada subround Mei-Agustus sebesar 3,46 juta ton (18,65%) dan subround September-Desember sebesar 2,74 juta ton (27,57%).
28 Feb, 08
Mentan: Pasar Pangan Halal Lebih dari 600 Milyar Dolar
Ditulis oleh Webmaster
JAKARTA – Prospek pasar dari produk pangan halal terbilang amat cerah. Menurut Mentan Anton Apriyantono, sedikitnya 1,6 milyar Muslim membutuhkan pangan halal dengan nilai lebih dari 600 milyar dolar AS. Di Eropa saja terdapat sekitar 30 juta Muslim punya daya beli tinggi terhadap aneka pangan halal.
Berbicara dalam Seminar Nasional
Pada bagian lain, Mentan yang telah melahirkan sejumlah buku pangan halal mengeskan bahwa kehalalan suatu produk akan menentrtamkan konsumen. Produk halal tidak saja memenuhi kebutuhan aspek keimanan dan ketakwaan, melainkan juga terjaga dari segi kualitas dan higienisnya. Itulah sebabnya, produk halal amat didambakan dan dicari oleh konsumen Muslim. Sementara konsumen non-Muslim juga dijamin memperoleh produk yang diproses secara sehat, bersih dan aman dikonsumsi.
Dengan tingkat pendidikan konsumen yang meningkat dan akses informasi yang kian luas, lanjut Mentan, konsumen akan semakin kritis dan peduli dengan masalah halal. Negara berkewajiban menjamin halalnya makanan, minuman, obat, kosmetika dan produk-produk lainnya melalui hukum dan peraturan.
Pada kesempatan itu, Mentan mengimbau agar masyarakat waspada terhadap kemungkinan masuknya produk tidak halal. Sebagai negara tujuan impor yang relatif besar, Indonesia rentan dimasuki aneka produk tidak halal. ‘’Jangan sampai kegemparan yang pernah terjadi di beberapa engara terjadi di sini.’’ Akhir 2006, warga Malaysia telah dibuat heboh oleh hadirnya sosis dan mie berlabel halal palsu. Tahun 1997, Deptan AS telah menjatuhkan sanksi bagi perusahaan daging yang memalsukan label halal. Untuk mencegah munculnya produk halal palsu lainnya, Negara Bagian California dan New jersey memberlakukan undang-undang produk halal dengan sanksi denda bagi sia[a saja yang menjual dan mempromosikan produk/makanan berlabel halal palsu.
Di Indonesia, isus produk halal palsu belum seheboh di dua engara tersebut. Namun begitu, bukan berarti umat Muslim di sini bisa tenang-tenang saja. Lembaga Pengawas Produk Obat dan makanan (LPPOM)
25 Feb, 08
Mentan Optimis Indonesia Bisa Jadi Pengekspor Beras
Ditulis oleh Webmaster
Jakarta –Mentan Apriyantono optimis Indonesia bisa menjadi negara pengekspor beras. Caranya dengan menggenjot produktivitas dan menaikkan index pertanaman. Tampil sebagai pembicara kunci dalam seminar nasional Penguatan Strategi Ketahanan Pangan Nasional yang diselenggarakan CIDES Indonesia di Jakarta, Senin (25/2), Mentan menjelaskan bahwa optimisme itu bukan mimpi. Tapi ada dasarnya. Bahkan ada bukti empiriknya.
Melalui program P2BN (Peningkatan Produksi Beras Nasional), tahun 2007 Indonesia berhasil meningkatkan produksi padi sampai 4,8%. ‘’Ini capaian pertumbuhan terbesar dalam 15 tahun terakhir.’’
Prestasi itu, tambah Mentan, antara lain berkat penggunaan benih unggul. Karena berbagai hal, realisasi penggunaah benih unggul bersubsidi baru mencapai 30-an persen. Namun begitu, hasilnya sangat bermakna meningkatkan produksi padi nasional.
Ke depan, selain meningkatkan produktivitas dengan benih unggul, upaya peningkatan produksi padi nasional masih terbuka ditingkatkan dengan menaikkan index pertanaman. Pasalnya, selama ini index pertanaman padi secaranasional masih sekitar 1,5-1,6 per tahun. Jika bisa ditingkatkan menjadi 2,0 per tahun terbuka menambah produksi lebih dari 13,5 juta ton padi atau setara 9 juta ton beras.
Di depan ratusan peserta seminar, Mentan menegaskan bahwa ketahanan pangan tidak sekedar masalah kecukupan (ketersediaan pangan), melainkan juga soal keterjangkauan dan menyangkut kesejahteraan petani. Yang ingin kita adalah bahan pangan tersedia cukup memenuhi kebutuhan konsumsi, harga terjangkau, dan yang tak kalah penting petani harus terjamin kesejahteraannya.
Masalah kita sekarang bukan ketersedian. Bahan pangan itu ada tersedia cukup. Tapi, harganya menjadi masalah bagi sebagian kalangan masyarakat. Ini terkait dengan rendahnya daya beli dan tingginya masyarakat miskin.
Untuk menjamin keseimbangan tiga hal itu, mutlak diperlukan instrumen kebijakan yang memadai untuk membei insentif dan proteksi bagi petani. ‘’Di negara mana pun insentif dan proteksi ini masih ada. Jadi merupakan hal yang wajar saja.’’ Apalagi pertanian tak hanya berperan menyediakan pangan, melainkan juga solusi untuk pengentasan kemiskinan dan bahkan solusi pertumbuhan ekonomi nasional.
Akhir tahun 2007, sektor pertanian tercatat sebagai penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi nasional. Triwulan I 2008, menurut BPS, sektor pertanian juga mencapai rekor sebagai sektor dengan indeks tendensi bisnis (ITB) yang tertinggi dibanding sektor lain. ITB pertanian mencapai 128, sementara rata-rata sektor baru 114,5.
Dengan serangkaian program dan kebijakan yang ada, Mentan yakin indikator keberhasilan pembangunan pertanian bisa meningkat lagi. Berbagai insentif yang selama ini diberikan dalam bentuk subsidi pupuk yang terus naik mulai dari Rp 5,8 trilyun (2006), Rp 7,5 trilyun (2007), hingga Rp 20 trilyun (2008); berikutnya subsidi benih unggul untuk padi, jagung dan kedelai; subsidi modal dalam bentuk subsidi bungan, penjaminan dan beberapa skim paket kredit lunak. Sementara proteksi diterapkan misalnya dalam bentuk pembatasan impor komoditas dan penerapan bea masuk.
Mengingat lahan yang terbatas dan jumlah penduduk yang amat besar, kata Mentan, Indonesia sebaga negara agraris tak mungkin seluruhnya memenuhi kebutuhan sendiri. ‘’Kita harus memilih, mana komoditas yang strategis sebagai prioritas.’’ Dalam hal ini, tegas Mentan, pemerintah telah memilih lima komoditas strategis yaitu: padi, jagung, kedelai, gula, dan daging sapi.
Untuk memperkuat ketahanan pangan nasional, dalam seminar tersebut, CIDES menawarkan tiga rekomendasi. Pertama, penyediaan lahan yang memadai untuk petani. Kedua, meningkatkan subsidi untuk petani (pangan) yang dinilai jauh lebih sedikit dibanding subsidi untuk BBM. Ketiga, perlunya peningkatan DKP dalam menyelesaikan persoalan ketahanan pangan di Indonesia. (
25 Feb, 08
Mentan Panen Perdana Padi Hibrida Bersama TB Silalahi Center
Ditulis oleh Webmaster
Balige – Mentan Anton Apriyantono Sabtu (23/2) melakukan panen perdana padi hibrida Bernas Prima hasil pola kemitraan TB Silalahi center dengan Kelompok Tani Saroha-Pemkab Tobasa. Hasil ubinan, penggunaan benih unggul bernas prima rata-rata mampu menghasilkan produktivitas 9,4 ton per hektar.
Disaksikan ribuan petani Balige, Kabupaten Tobasa, Mentan memanen padi Bernas Prima bersama Letjen (pur) TB Silalahi (anggota Dewan Pertimbangan Presiden yang juga tokoh pemangku adat Batak-Melayu Sumut), Bupati Tobasa Monang Sitorus dan tujuh bupati di Sumut. Ikut bepartisipasi dalam acara ini Dinas Pertanian setempat dan PT Sumber Alam Sutera (SAS) dari Artha Graha Group.
Dalam sambutannya, Mentan mengungkapkan bahwa upaya peningkatan kesejahteraan petani tidak dapat hanya mengandalkan kenaikan harga produk pertanian. Yang lebih penting dan bermakna adalah melalui peningkatan index pertamanan dan peningkatan produktivitas.
Mentan memberi ilustrasi. Dengan kenaikan harga HPP, katakanlah dari Rp 2000 menjadi Rp 2500 per kg gabah, petani Tobasa hanya akan mendapat tambahan penghasilan sekitar Rp 2 juta per ha (produktivitas rata-rata 4ton/ha). Dengan peningkatan index pertanaman dari satu menjadi dua kali panen, petani bisa menambah pendapatan dua kali lipat (Rp 8 juta per ha).
Sekarang, dengan penggunaan benih unggul Ciherang (produktivitas 9 ton/ha) atau padi hibrida (9-12 ton/ha), petani bisa mendapatkan tambahan penghasilan Rp 10 juta lebih. Dan, alangkah baiknya bila petani kita bisa meningkatkan kesejahteraan melalui dua atau dua cara sekaligus. Yakni peningkatan index pertanaman dan peningkatan produktivitas melalui penggunaan benih unggul.
Seperti disampaikan Bupati Tobasa dalam sambutan pengantarnya, selama ini dari kahan sawah seluas 18.025 ha di Kabupaten Tobasa, hanya 4.000 ha saja yang bisa ditanam dua kali setahun. Dengan demikian, sangat terbuka peluang meningkatkan produksi dengan peningkatan index pertanaman.
Peningkatan index pertanaman dapat dilakukan melalui perbaikan dan pengembangan saluran irigasi, penggunaan teknologi pertanian dan pemakaian pupuk yang benar. ‘’Jika apa yang dilakukan kelompok tani Saroha ini juga diikuti oleh kelompok tani yang lain di Sumut, saya yakin Sumut bisa meraih kejayaan di sektor pertanian.’’
Kepada para petani, Ketua TB Silalahi Center Letjen (pur) TB Silalahi meminta untuk menyambut dan mendukung pemakaian benih unggul maupun peningkatan index pertanaman. ‘’Kalau masyarakat tidak menyambut, maka pembangunan tidak akan terjadi. Saya minta para lurah, camat dan kelompok tani untuk melanjutkan penggunaan benih hibrida ini di seluruh kecamatan yang ada di Tobasa. Langkah serupa patut dilakukan di seluruh Sumut.’’
TB Silalahi menekankan pentingnya kerjasama antara penyuluh dari SAS dan alumni Yayasan Soposurung dalam membina para petani dan kelompok tani. Hasil 9,4 ton per ha belum maksimal. ‘’Ke depan masih bisa ditingkatkan lagi karena potensinya bisa mencapai 12 ton per ha seperti pernah dibuktikan petani di Lampung dan Jawa Timur,’’ tambahnya.
Melibatkan 59 keluarga petani dan 22 ha sawah, benih Bernas Prima hasil pembibitan PT SAS Lampung memiliki beberapa keunggulan. Antara lain waktu tanam relatif pendek sekitar 105 hari, menghemat air dan berpotensi menghasilkan 12 ton gabah per ha.
Dalam kemitraan di Balige, TB Silalahi Center menyediakan sarana produksi berupa benih, pupuk, dan pestisida. Para petani juga dibantu dalam permodalan untuk menyewa lahan dan upah buruh pengolah. Semua pinjaman dikembalikan tanpa bunga setelah panen.
19 Feb, 08
Indonesia Negara Pertama Terapkan Teknik Somatic Embryogenesis Kakao
Ditulis oleh Webmaster

JEMBER – Masyarakat kopi dan kakao siap memasuki babak baru. Ini diawali dengan beroperasinya Laboratorium Teknologi Somatic Embryogenesis (SE) di Indonesia. Mentan Anton Apriyantono telah meresmikan laboratorium canggih ini di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (PPKKI) di Jember, Jatim, Sabtu (16/2). Dengan peresmian Laboratorium SE tersebut, menurut Mentan, Indonesia tercatat sebagai negara pertama di dunia yang menerapkan teknologi SE untuk perbanyakan bibit kakao secara komersial. Sementara komoditas kopi, Thailand tercatat sebagai pengguna pertama teknologi SE.
Dalam sambutannya, Mentan menjelaskan bahwa sekitar 80% produksi biji kopi dan kakao Indonesia pada saat ini dihasilkan oleh perkebunan rakyat. Hasil produksi perkebunan ini juga sebagian besar untuk keperluan ekspor (biji kopi lebih dari 50% dan biji kakao hampir 90%). Dan, sekitar 2 juta petani Indonesia pada saat ini mengandalkan kopi dan kakao sebagai sumber mata pencahariannya.
Kakao merupakan salah satu komoditas utama dalam program revitalisasi perkebunan dengan target capaian pengembangan perkebunan rakyat pada tahun 2010 seluas 200.000 ha, yang meliputi program peremajaan tanaman seluas 54.000 ha, rehabilitasi tanaman tua 36.000 ha, dan perluasan areal tanaman 110.000 ha. Salah satu kunci keberhasilan program ini adalah dapat diimplementasikannya inovasi teknologi, khususnya penggunan benih unggul berkualitas. Dari target ini, dalam waktu 4 tahun ke depan diperlukan lebih dari 200 juta satuan bahan tanam (rata-rata 50 juta satuan bahan tanam/tahun). Apabila dijumlahkan dengan kebutuhan regular di luar program revitalisasi kakao sebesar 25 juta satuan bahan tanam/tahun, maka total kebutuhan menjadi 75 juta satuan bahan tanam/tahun.
Pada saat ini diperkirakan sekitar 80% dari hasil kebun kakao yang dipanen, benihnya berasal dari populasi tanaman yang telah ada sebelumnya. Hal ini menyebabkan rata-rata produktivitas kakao hanya sebesar 625 kg/ha/thn atau sekitar 0,31 % dari potensi yang diharapkan, yaitu di atas 2000 kg/ha/thn.
Kemampuan penyediaan benih kakao secara konvensional sampai lima tahun ke depan diperkirakan hanya dapat mencapai 36-50 juta pertahun atau hanya sekitar 0,48-0,67% dari kebutuhan. Selain jumlahnya belum mencukupi, benih kakao yang berasal dari biji sebenarnya belum layak disebut sebagai benih karena kualitas benihnya rendah dan sangat heterogen.
Penggunaan teknologi penghasil benih unggul bermutu yang disebut dengan teknologi Somatic Embryogenesis (SE) akan dapat mendukung penyediaan bibit klonal secara massal dengan harga yang terjangkau oleh petani. Sebagai informasi pembanding, teknologi semacam ini baru dalam tahap uji lapang untuk skala komersial di Equador, sedangkan untuk tanaman kopi Robusta telah diterapkan di Thailand.
Beberapa sifat unggul bibit yang diperoleh dengan teknologi SE adalah tanaman memiliki tajuk sempurna lengkap dengan jorquette, sistem perakaran tunggang, pertumbuhan seragam dan bersifat vigor, masa TBM empat bulan lebih cepat, relative tahan kekeringan, dan produksinya tinggi. Panen pertama dapat dilakukan pada tanaman umur tiga tahun dengan produksi sudah mencapai 500 kg/ha/thn (500% lebih tinggi dari tanaman asal benih). Pada tanaman umur lima tahun produksinya telah dapat mencapai 1.680 kg/ha/thn. Tanaman kakao yang berasal dari teknologi SE tidak hanya bersifat true type saja, melainkan juga lebih unggul dibandingkan tanaman yang diperoleh dengan teknik konvensional yang selama ini digunakan di seluruh dunia.
Pengembangan teknologi SE pada tanaman kopi dan kakao telah dilakukan oleh PPKKI, bekerjasama dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Nestle (Nestle R&D Centre) Tours, Perancis. Setelah melalui serangkaian proses uji lapang, teknologi SE dapat diterapkan dalam skala besar. Teknologi ini telah ditransfer ke PPKKI melalui system training pada tahun 2006-2007, yang diikuti dengan program pendampingan teknologi dalam proses produksi bibit.
Untuk mendukung pengembangan operasional secara massal, Deptan cq. Ditjenbun pada tahun 2007 telah mengalokasikan dana untuk renovasi bangunan gedung laboratorium tahap pertama seluas 900 m² dan pengadaan peralatan laboratorium SE yang ada di PPKKI Jember. Dengan telah selesainya renovasi laboratorium tahap pertama dan proses transfer teknologi SE kopi dan kakao, mulai tahun 2008 PPKKI siap memproduksi plantlet paska aklimatisasi kopi dan kakao asal SE, yaitu setara dengan 250.000 bibit kopi Robusta dan 1.100.000 bibit kakao.
Dalam upaya meningkatkan produksi dan menekan biaya produksi bibit SE, pada tahun 2008, direncanakan akan dilakukan renovasi laboratorium tahap kedua seluas 2.000 m² melalui anggaran Badan Litbang Pertanian, sekaligus melakukan lanjutan transfer teknologi SE kakao dan kopi Arabika menggunakan teknis bioreactor.
Target produksi bibit kopi asal SE tahun 2008 dan 2009 berturut-turut adalah 250.000 dan 1 juta satuan bahan tanam, sedangkan untuk bibit kakao tahun 2008 dan 2009 berturut-turut 1,1 juta dan 4 juta satuan bahan tanam. Selanjutnya mulai tahun 2010 target produksi kopi dan kakao pertahun berturut-turut sebesar 2-5 juta dan 10 juta satuan bahan tanam (***)
19 Feb, 08
Mentan pada Rakernas 2008: Jadilah Imam Pertanian yang Baik
Ditulis oleh Webmaster

JAKARTA – Mentan Anton Apriyantono meminta seluruh aparat pertanian, yang ada di pusat maupun daerah, agar bekerja profesional dengan arah koordinasi yang baik. ‘’Berusahalah menjadi sebagai ‘imam’ yang baik. Pemimpin yang bisa menggerakkan segala potensi dan sumberdaya yang ada,’’ kata Mentan di Jakarta, Rabu (13/2).
Saat membuka Rapat Kerja Nasional Sinkroninasi Kegiatan Pertanian 2008 dan Persiapan Penyusunan Rencana Kegiatan 2009 di Aula Gedung Deptan, Mentan menegaskan bahwa pembangunan pertanian tidak harus selalu bertumpu pada anggaran Departemen Pertanian (APBN). Di luar Deptan, ada departemen atau lembaga lain yang punya anggaran untuk mendukung kegiatan pertanian. Departemen PU misalnya memeiliki anggaran untuk pembangunan dan perbaikan irigasi senilai 9 triliyun. Dengan peran ‘imam’ yang baik, koordinasi dan kerjasama bisa dilakukan oleh aparat pertanian untuk mendorong optimalisasi pembangunan di daerah.
Di luar itu, ada pihak swasta yang punya sumber dana dan masyarakat yang memiliki sumberdaya. Sebagai imam, kata Mentan, kita berperan untuk menjadi regulator dan fasilitator. ‘’Tugas kita untuk mempertemukan bagaimana pihak swasta bisa diajak untuk terlibat dalam pola inti-plasma bersama para petani.’’
Kegiatan pembangunan pertanian, tambah Mentan, selalu ditempuh dengan penerapan strateggi Panca Yasa, meliputi: penyediaan/perbaikan insfrastruktur termasuk perbenihan/pembibitan dan riset; penguatan kelembagaan, perbaikan sistem penyuluhan, penanganan pembiayaan pertanian, dan fasilitasi pemasaran hasil pertanian.
Dalam rakernas yang dihadiri oleh lebih 350 peserta dari seluruh dinas/badan/kantor lingkup pertanian provinsi dan UPTP (unit Pelaksana Teknis Pusat) yang ada di daerah dan pusat, Mentan mengajak jajaran pertanian untuk sama-sama bekerja keras mensukseskan semua program yang sudah direncanakan. ‘’Jangan sampai ada lubang sedikit pun yang bisa membuat kita jadi sasaran tembak,’’ kata Mentan.
Mentan memberi contoh. Akhir 2007, sebenarnya sektor pertanian telah diakui tampil sebagai bintang lapangan. Pertumbuhan PDB sektor pertanian tercatat paling tinggi dalam sejarah. Begitu pun sektor pertanian telah menjadi sumber kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Produksi padi dan jagung secara nasional juga mencatat rekor pertumbuhan tertinggi. ‘’Sayang, gara-gara kedelai, kita dikritik habis seakan kita tidak melakukan apa-apa,’’ jelasnya.
Rakernas Pertanian, menurut Sekjen Deptan Hasanuddin Ibrahim, diselenggarakan sebagai upaya memantapkan pelaksanaan kegiatan pertanian tahun 2008 sekaligus mengantisipasi permasalahan yang mungkin timbul. Pada forum ini disampaikan arahan-arahan umum kegiatan pertanian 2008, pembahasan rancangan kegiatan masing-masing daerah dalam sidang kelompok round-table. ‘’Peserta dibagi 11 kelompok persidangan.’’
Secara khusus, peserta membahas berbagai program unggulan seperti peningkatan produksi lima komoditas prioritas swasembada (padi 60-61 juta ton GKG, jagung 15,9-16,5 juta ton, kedelai 1,0-1,3 juta ton, gula 2,74 juta ton, dan daging sapi 372 ton); pengembangan usaha agribisnis pedesaan (PUAP), tindak lanjut Inpres No.2 tahun 2007 tentang Reklamasi dan Rehabilitasi PLG di Kalimantan Tengah dan Inpres No.5 tahun 2007 tentang Percepatan Pembangunan Papua.
Sementara itu, desain akselesasi pembangunan pertanian di lapangan ditempuh dengan cara: (1) menerapkan pendekatan satu desa, satu komoditas, satu penyuluh; (2) menyusun konsep perencanaan berdasarkan mastes-plan dan road-map; (3) melibatkan partisipasi berbagai komponen masyarakat; (4) fokus penanganan terhadap sejumlah komoditas strategis dan unggulan nasional; (5) sinergis seluruh potensi sumberdaya secara optimal; (6) memperkuat sistem monitoring dan database. (***)
RSS Blog