Jurnal

Mentan Optimis Indonesia Bisa Jadi Pengekspor Beras

Ditulis oleh Webmaster

Jakarta –Mentan Apriyantono optimis Indonesia bisa menjadi negara pengekspor beras. Caranya dengan menggenjot produktivitas dan menaikkan index pertanaman. Tampil sebagai pembicara kunci dalam seminar nasional Penguatan Strategi Ketahanan Pangan Nasional yang diselenggarakan CIDES Indonesia di Jakarta, Senin (25/2), Mentan menjelaskan bahwa optimisme itu bukan mimpi. Tapi ada dasarnya. Bahkan ada bukti empiriknya.

Melalui program P2BN (Peningkatan Produksi Beras Nasional), tahun 2007 Indonesia berhasil meningkatkan produksi padi sampai 4,8%. ‘’Ini capaian pertumbuhan terbesar dalam 15 tahun terakhir.’’

Prestasi itu, tambah Mentan, antara lain berkat penggunaan benih unggul. Karena berbagai hal, realisasi penggunaah benih unggul bersubsidi baru mencapai 30-an persen. Namun begitu, hasilnya sangat bermakna meningkatkan produksi padi nasional.

Ke depan, selain meningkatkan produktivitas dengan benih unggul, upaya peningkatan produksi padi nasional masih terbuka ditingkatkan dengan menaikkan index pertanaman. Pasalnya, selama ini index pertanaman padi secaranasional masih sekitar 1,5-1,6 per tahun. Jika bisa ditingkatkan menjadi 2,0 per tahun terbuka menambah produksi lebih dari 13,5 juta ton padi atau setara 9 juta ton beras.

Di depan ratusan peserta seminar, Mentan menegaskan bahwa ketahanan pangan tidak sekedar masalah kecukupan (ketersediaan pangan), melainkan juga soal keterjangkauan dan menyangkut kesejahteraan petani. Yang ingin kita adalah bahan pangan tersedia cukup memenuhi kebutuhan konsumsi, harga terjangkau, dan yang tak kalah penting petani harus terjamin kesejahteraannya.

Masalah kita sekarang bukan ketersedian. Bahan pangan itu ada tersedia cukup. Tapi, harganya menjadi masalah bagi sebagian kalangan masyarakat. Ini terkait dengan rendahnya daya beli dan tingginya masyarakat miskin.

Untuk menjamin keseimbangan tiga hal itu, mutlak diperlukan instrumen kebijakan yang memadai untuk membei insentif dan proteksi bagi petani. ‘’Di negara mana pun insentif dan proteksi ini masih ada. Jadi merupakan hal yang wajar saja.’’ Apalagi pertanian tak hanya berperan menyediakan pangan, melainkan juga solusi untuk pengentasan kemiskinan dan bahkan solusi pertumbuhan ekonomi nasional.

Akhir tahun 2007, sektor pertanian tercatat sebagai penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi nasional. Triwulan I 2008, menurut BPS, sektor pertanian juga mencapai rekor sebagai sektor dengan indeks tendensi bisnis (ITB) yang tertinggi dibanding sektor lain. ITB pertanian mencapai 128, sementara rata-rata sektor baru 114,5.

Dengan serangkaian program dan kebijakan yang ada, Mentan yakin indikator keberhasilan pembangunan pertanian bisa meningkat lagi. Berbagai insentif yang selama ini diberikan dalam bentuk subsidi pupuk yang terus naik mulai dari Rp 5,8 trilyun (2006), Rp 7,5 trilyun (2007), hingga Rp 20 trilyun (2008); berikutnya subsidi benih unggul untuk padi, jagung dan kedelai; subsidi modal dalam bentuk subsidi bungan, penjaminan dan beberapa skim paket kredit lunak. Sementara proteksi diterapkan misalnya dalam bentuk pembatasan impor komoditas dan penerapan bea masuk.

Mengingat lahan yang terbatas dan jumlah penduduk yang amat besar, kata Mentan, Indonesia sebaga negara agraris tak mungkin seluruhnya memenuhi kebutuhan sendiri. ‘’Kita harus memilih, mana komoditas yang strategis sebagai prioritas.’’ Dalam hal ini, tegas Mentan, pemerintah telah memilih lima komoditas strategis yaitu: padi, jagung, kedelai, gula, dan daging sapi.

Untuk memperkuat ketahanan pangan nasional, dalam seminar tersebut, CIDES menawarkan tiga rekomendasi. Pertama, penyediaan lahan yang memadai untuk petani. Kedua, meningkatkan subsidi untuk petani (pangan) yang dinilai jauh lebih sedikit dibanding subsidi untuk BBM. Ketiga, perlunya peningkatan DKP dalam menyelesaikan persoalan ketahanan pangan di Indonesia. (

2 komentar »

Mentan Panen Perdana Padi Hibrida Bersama TB Silalahi Center

Ditulis oleh Webmaster

Balige – Mentan Anton Apriyantono Sabtu (23/2) melakukan panen perdana padi hibrida Bernas Prima hasil pola kemitraan TB Silalahi center dengan Kelompok Tani Saroha-Pemkab Tobasa. Hasil ubinan, penggunaan benih unggul bernas prima rata-rata mampu menghasilkan produktivitas 9,4 ton per hektar.

Disaksikan ribuan petani Balige, Kabupaten Tobasa, Mentan memanen padi Bernas Prima bersama Letjen (pur) TB Silalahi (anggota Dewan Pertimbangan Presiden yang juga tokoh pemangku adat Batak-Melayu Sumut), Bupati Tobasa Monang Sitorus dan tujuh bupati di Sumut. Ikut bepartisipasi dalam acara ini Dinas Pertanian setempat dan PT Sumber Alam Sutera (SAS) dari Artha Graha Group.

Dalam sambutannya, Mentan mengungkapkan bahwa upaya peningkatan kesejahteraan petani tidak dapat hanya mengandalkan kenaikan harga produk pertanian. Yang lebih penting dan bermakna adalah melalui peningkatan index pertamanan dan peningkatan produktivitas.
Mentan memberi ilustrasi. Dengan kenaikan harga HPP, katakanlah dari Rp 2000 menjadi Rp 2500 per kg gabah, petani Tobasa hanya akan mendapat tambahan penghasilan sekitar Rp 2 juta per ha (produktivitas rata-rata 4ton/ha). Dengan peningkatan index pertanaman dari satu menjadi dua kali panen, petani bisa menambah pendapatan dua kali lipat (Rp 8 juta per ha).

Sekarang, dengan penggunaan benih unggul Ciherang (produktivitas 9 ton/ha) atau padi hibrida (9-12 ton/ha), petani bisa mendapatkan tambahan penghasilan Rp 10 juta lebih. Dan, alangkah baiknya bila petani kita bisa meningkatkan kesejahteraan melalui dua atau dua cara sekaligus. Yakni peningkatan index pertanaman dan peningkatan produktivitas melalui penggunaan benih unggul.

Seperti disampaikan Bupati Tobasa dalam sambutan pengantarnya, selama ini dari kahan sawah seluas 18.025 ha di Kabupaten Tobasa, hanya 4.000 ha saja yang bisa ditanam dua kali setahun. Dengan demikian, sangat terbuka peluang meningkatkan produksi dengan peningkatan index pertanaman.

Peningkatan index pertanaman dapat dilakukan melalui perbaikan dan pengembangan saluran irigasi, penggunaan teknologi pertanian dan pemakaian pupuk yang benar. ‘’Jika apa yang dilakukan kelompok tani Saroha ini juga diikuti oleh kelompok tani yang lain di Sumut, saya yakin Sumut bisa meraih kejayaan di sektor pertanian.’’

Kepada para petani, Ketua TB Silalahi Center Letjen (pur) TB Silalahi meminta untuk menyambut dan mendukung pemakaian benih unggul maupun peningkatan index pertanaman. ‘’Kalau masyarakat tidak menyambut, maka pembangunan tidak akan terjadi. Saya minta para lurah, camat dan kelompok tani untuk melanjutkan penggunaan benih hibrida ini di seluruh kecamatan yang ada di Tobasa. Langkah serupa patut dilakukan di seluruh Sumut.’’

TB Silalahi menekankan pentingnya kerjasama antara penyuluh dari SAS dan alumni Yayasan Soposurung dalam membina para petani dan kelompok tani. Hasil 9,4 ton per ha belum maksimal. ‘’Ke depan masih bisa ditingkatkan lagi karena potensinya bisa mencapai 12 ton per ha seperti pernah dibuktikan petani di Lampung dan Jawa Timur,’’ tambahnya.

Melibatkan 59 keluarga petani dan 22 ha sawah, benih Bernas Prima hasil pembibitan PT SAS Lampung memiliki beberapa keunggulan. Antara lain waktu tanam relatif pendek sekitar 105 hari, menghemat air dan berpotensi menghasilkan 12 ton gabah per ha.

Dalam kemitraan di Balige, TB Silalahi Center menyediakan sarana produksi berupa benih, pupuk, dan pestisida. Para petani juga dibantu dalam permodalan untuk menyewa lahan dan upah buruh pengolah. Semua pinjaman dikembalikan tanpa bunga setelah panen.

0 komentar »

Indonesia Negara Pertama Terapkan Teknik Somatic Embryogenesis Kakao

Ditulis oleh Webmaster

JEMBER – Masyarakat kopi dan kakao siap memasuki babak baru. Ini diawali dengan beroperasinya Laboratorium Teknologi Somatic Embryogenesis (SE) di Indonesia. Mentan Anton Apriyantono telah meresmikan laboratorium canggih ini di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (PPKKI) di Jember, Jatim, Sabtu (16/2). Dengan peresmian Laboratorium SE tersebut, menurut Mentan, Indonesia tercatat sebagai negara pertama di dunia yang menerapkan teknologi SE untuk perbanyakan bibit kakao secara komersial. Sementara komoditas kopi, Thailand tercatat sebagai pengguna pertama teknologi SE.

Dalam sambutannya, Mentan menjelaskan bahwa sekitar 80% produksi biji kopi dan kakao Indonesia pada saat ini dihasilkan oleh perkebunan rakyat. Hasil produksi perkebunan ini juga sebagian besar untuk keperluan ekspor (biji kopi lebih dari 50% dan biji kakao hampir 90%). Dan, sekitar 2 juta petani Indonesia pada saat ini mengandalkan kopi dan kakao sebagai sumber mata pencahariannya.

Kakao merupakan salah satu komoditas utama dalam program revitalisasi perkebunan dengan target capaian pengembangan perkebunan rakyat pada tahun 2010 seluas 200.000 ha, yang meliputi program peremajaan tanaman seluas 54.000 ha, rehabilitasi tanaman tua 36.000 ha, dan perluasan areal tanaman 110.000 ha. Salah satu kunci keberhasilan program ini adalah dapat diimplementasikannya inovasi teknologi, khususnya penggunan benih unggul berkualitas. Dari target ini, dalam waktu 4 tahun ke depan diperlukan lebih dari 200 juta satuan bahan tanam (rata-rata 50 juta satuan bahan tanam/tahun). Apabila dijumlahkan dengan kebutuhan regular di luar program revitalisasi kakao sebesar 25 juta satuan bahan tanam/tahun, maka total kebutuhan menjadi 75 juta satuan bahan tanam/tahun.

Pada saat ini diperkirakan sekitar 80% dari hasil kebun kakao yang dipanen, benihnya berasal dari populasi tanaman yang telah ada sebelumnya. Hal ini menyebabkan rata-rata produktivitas kakao hanya sebesar 625 kg/ha/thn atau sekitar 0,31 % dari potensi yang diharapkan, yaitu di atas 2000 kg/ha/thn.

Kemampuan penyediaan benih kakao secara konvensional sampai lima tahun ke depan diperkirakan hanya dapat mencapai 36-50 juta pertahun atau hanya sekitar 0,48-0,67% dari kebutuhan. Selain jumlahnya belum mencukupi, benih kakao yang berasal dari biji sebenarnya belum layak disebut sebagai benih karena kualitas benihnya rendah dan sangat heterogen.

Penggunaan teknologi penghasil benih unggul bermutu yang disebut dengan teknologi Somatic Embryogenesis (SE) akan dapat mendukung penyediaan bibit klonal secara massal dengan harga yang terjangkau oleh petani. Sebagai informasi pembanding, teknologi semacam ini baru dalam tahap uji lapang untuk skala komersial di Equador, sedangkan untuk tanaman kopi Robusta telah diterapkan di Thailand.

Beberapa sifat unggul bibit yang diperoleh dengan teknologi SE adalah tanaman memiliki tajuk sempurna lengkap dengan jorquette, sistem perakaran tunggang, pertumbuhan seragam dan bersifat vigor, masa TBM empat bulan lebih cepat, relative tahan kekeringan, dan produksinya tinggi. Panen pertama dapat dilakukan pada tanaman umur tiga tahun dengan produksi sudah mencapai 500 kg/ha/thn (500% lebih tinggi dari tanaman asal benih). Pada tanaman umur lima tahun produksinya telah dapat mencapai 1.680 kg/ha/thn. Tanaman kakao yang berasal dari teknologi SE tidak hanya bersifat true type saja, melainkan juga lebih unggul dibandingkan tanaman yang diperoleh dengan teknik konvensional yang selama ini digunakan di seluruh dunia.

Pengembangan teknologi SE pada tanaman kopi dan kakao telah dilakukan oleh PPKKI, bekerjasama dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Nestle (Nestle R&D Centre) Tours, Perancis. Setelah melalui serangkaian proses uji lapang, teknologi SE dapat diterapkan dalam skala besar. Teknologi ini telah ditransfer ke PPKKI melalui system training pada tahun 2006-2007, yang diikuti dengan program pendampingan teknologi dalam proses produksi bibit.

Untuk mendukung pengembangan operasional secara massal, Deptan cq. Ditjenbun pada tahun 2007 telah mengalokasikan dana untuk renovasi bangunan gedung laboratorium tahap pertama seluas 900 m² dan pengadaan peralatan laboratorium SE yang ada di PPKKI Jember. Dengan telah selesainya renovasi laboratorium tahap pertama dan proses transfer teknologi SE kopi dan kakao, mulai tahun 2008 PPKKI siap memproduksi plantlet paska aklimatisasi kopi dan kakao asal SE, yaitu setara dengan 250.000 bibit kopi Robusta dan 1.100.000 bibit kakao.

Dalam upaya meningkatkan produksi dan menekan biaya produksi bibit SE, pada tahun 2008, direncanakan akan dilakukan renovasi laboratorium tahap kedua seluas 2.000 m² melalui anggaran Badan Litbang Pertanian, sekaligus melakukan lanjutan transfer teknologi SE kakao dan kopi Arabika menggunakan teknis bioreactor.

Target produksi bibit kopi asal SE tahun 2008 dan 2009 berturut-turut adalah 250.000 dan 1 juta satuan bahan tanam, sedangkan untuk bibit kakao tahun 2008 dan 2009 berturut-turut 1,1 juta dan 4 juta satuan bahan tanam. Selanjutnya mulai tahun 2010 target produksi kopi dan kakao pertahun berturut-turut sebesar 2-5 juta dan 10 juta satuan bahan tanam (***)

0 komentar »

Mentan pada Rakernas 2008: Jadilah Imam Pertanian yang Baik

Ditulis oleh Webmaster

JAKARTA – Mentan Anton Apriyantono meminta seluruh aparat pertanian, yang ada di pusat maupun daerah, agar bekerja profesional dengan arah koordinasi yang baik. ‘’Berusahalah menjadi sebagai ‘imam’ yang baik. Pemimpin yang bisa menggerakkan segala potensi dan sumberdaya yang ada,’’ kata Mentan di Jakarta, Rabu (13/2).

Saat membuka Rapat Kerja Nasional Sinkroninasi Kegiatan Pertanian 2008 dan Persiapan Penyusunan Rencana Kegiatan 2009 di Aula Gedung Deptan, Mentan menegaskan bahwa pembangunan pertanian tidak harus selalu bertumpu pada anggaran Departemen Pertanian (APBN). Di luar Deptan, ada departemen atau lembaga lain yang punya anggaran untuk mendukung kegiatan pertanian. Departemen PU misalnya memeiliki anggaran untuk pembangunan dan perbaikan irigasi senilai 9 triliyun. Dengan peran ‘imam’ yang baik, koordinasi dan kerjasama bisa dilakukan oleh aparat pertanian untuk mendorong optimalisasi pembangunan di daerah.

Di luar itu, ada pihak swasta yang punya sumber dana dan masyarakat yang memiliki sumberdaya. Sebagai imam, kata Mentan, kita berperan untuk menjadi regulator dan fasilitator. ‘’Tugas kita untuk mempertemukan bagaimana pihak swasta bisa diajak untuk terlibat dalam pola inti-plasma bersama para petani.’’

Kegiatan pembangunan pertanian, tambah Mentan, selalu ditempuh dengan penerapan strateggi Panca Yasa, meliputi: penyediaan/perbaikan insfrastruktur termasuk perbenihan/pembibitan dan riset; penguatan kelembagaan, perbaikan sistem penyuluhan, penanganan pembiayaan pertanian, dan fasilitasi pemasaran hasil pertanian.

Dalam rakernas yang dihadiri oleh lebih 350 peserta dari seluruh dinas/badan/kantor lingkup pertanian provinsi dan UPTP (unit Pelaksana Teknis Pusat) yang ada di daerah dan pusat, Mentan mengajak jajaran pertanian untuk sama-sama bekerja keras mensukseskan semua program yang sudah direncanakan. ‘’Jangan sampai ada lubang sedikit pun yang bisa membuat kita jadi sasaran tembak,’’ kata Mentan.

Mentan memberi contoh. Akhir 2007, sebenarnya sektor pertanian telah diakui tampil sebagai bintang lapangan. Pertumbuhan PDB sektor pertanian tercatat paling tinggi dalam sejarah. Begitu pun sektor pertanian telah menjadi sumber kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Produksi padi dan jagung secara nasional juga mencatat rekor pertumbuhan tertinggi. ‘’Sayang, gara-gara kedelai, kita dikritik habis seakan kita tidak melakukan apa-apa,’’ jelasnya.

Rakernas Pertanian, menurut Sekjen Deptan Hasanuddin Ibrahim, diselenggarakan sebagai upaya memantapkan pelaksanaan kegiatan pertanian tahun 2008 sekaligus mengantisipasi permasalahan yang mungkin timbul. Pada forum ini disampaikan arahan-arahan umum kegiatan pertanian 2008, pembahasan rancangan kegiatan masing-masing daerah dalam sidang kelompok round-table. ‘’Peserta dibagi 11 kelompok persidangan.’’

Secara khusus, peserta membahas berbagai program unggulan seperti peningkatan produksi lima komoditas prioritas swasembada (padi 60-61 juta ton GKG, jagung 15,9-16,5 juta ton, kedelai 1,0-1,3 juta ton, gula 2,74 juta ton, dan daging sapi 372 ton); pengembangan usaha agribisnis pedesaan (PUAP), tindak lanjut Inpres No.2 tahun 2007 tentang Reklamasi dan Rehabilitasi PLG di Kalimantan Tengah dan Inpres No.5 tahun 2007 tentang Percepatan Pembangunan Papua.

Sementara itu, desain akselesasi pembangunan pertanian di lapangan ditempuh dengan cara: (1) menerapkan pendekatan satu desa, satu komoditas, satu penyuluh; (2) menyusun konsep perencanaan berdasarkan mastes-plan dan road-map; (3) melibatkan partisipasi berbagai komponen masyarakat; (4) fokus penanganan terhadap sejumlah komoditas strategis dan unggulan nasional; (5) sinergis seluruh potensi sumberdaya secara optimal; (6) memperkuat sistem monitoring dan database. (***)

0 komentar »

SUARA HATI PETANI KEDELE

Ditulis oleh Webmaster

Menjadi petani kedele awalnya karena aku lahir dari keluarga petani kedele. Memanfaatkan lahan dan iklim yang sesuai dengan kebutuhan tanaman kedele merupakan tradisi lama turun temurun. Pilihan ini bagiku merupakan keputusan yang mulia, setingkat dengan dokter yang mengobati orang sakit, guru yang mencerdaskan rakyat dan pemuka agama yang menyebarkan ajaran-NYA. Aku berusaha menjadi pekerja keras, banting tulang, di terik matahari yang panas untuk mengemban tugasku. Dibawah terik matahari aku terus mengolah tanah, menanam dan merawat kedele yang nota benenya tanaman subtropis, yang tentu memerlukan teknologi yang tepat agar produktifitasnya masih bisa tetap tinggi walau ditanam di daerah tropis. Alhamdulilah dengan ketekunan dan sentuhanku, kedele dapat diselamatkan dari serangan hama dan penyakit yang jumlahnya sangat banyak. Juga dapat diselamatkan dari kondisi curah hujan yang sering tidak menentu dimana tanaman kedele ini juga rentan terhadap curah hujan tinggi. Aku merasa bahagia dan bangga, sekalipun secara ekonomi usaha taniku hanya pas-pasan. Menjadi kaya hanya angan angan, naik pesawat hanya impian, kalau makan cukup saja sudah bersyukur. Kepuasanku manakala, aku dapat berkontribusi menyediakan makanan sehat kegemaran saudara sebangsa dan setanah airku yaitu tempe, tahu, kecap dan tauco.

Saat panen raya, harga meluncur jatuh, aku hanya menangisi seorang diri. Jerih payah dan pengorbananku memang tidak sia sia, tetapi tidak mendapatkan penghargaan yang sepadan dari mitraku. Dalam pikiran sederhanaku, mengapa harga tahu dan tempe tidak pernah turun, tetapi harga kedele naik dan turun? Mungkinkah bahwa pengrajin tahu dan tempe sudah sangat bergantung kepada importir kedele sebagai akibat importir membanjiri produk sejenis dari impor sehingga harga kedeleku jatuh? Aku tidak peduli, mau pedagang dan pengrajin kedele mengimpor kedele dengan harga semu lebih murah, aku tetap bertanam kedele. Sekalipun produk kedeleku dicerca mutunya kurang baik, warnanya kurang bersih, harganya mahal, pasokannya tidak kontinyu, aku tidak peduli. Sekali berproduksi, tetap berproduksi, aku yakin pasti ada pengadilan yang paling tinggi, tidak bisa diintervensi, apalagi disogok.

Dalam kondisi tertekan, aku tetap tegas dan berprinsip: siapa yang menanam pasti memanen, siapa berbuat baik, maka merekalah yang akan memetik hasilnya kelak di kemudian hari. Bertahun-tahun prinsip itu aku pegang, sambil berusaha dan terus berdoa, agar nasibku dan keluargaku dimuliakan. Sekalipun aku didzolimi bertahun tahun, aku tidak pernah protes apalagi berdemo sampai istana. Selain tidak punya biaya, buang buang waktu, aku tahu diri, karena belum banyak yang aku bisa perbuat untuk negeri ini. Masak minta-minta terus, aku malu sekalipun rakyat miskin dan tidak mampu. Aku selalu tulus, berprasangka baik kepada siapapun termasuk kepada pedagang kedele dan pengrajin tahu tempe yang beberapa kali menjatuhkan harga kedeleku. Aku tetap, pasrah atas nasib setelah berusaha dan berdoa sesuai kemampuanku. Aku percaya sepenuhnya, bahwa di atas pengadilan, pasti ada pengadilan yang paling adil dan tidak dapat dipengaruhi atau diintervensi siapapun, apapun pangkat, posisi dan kekuatan finansialnya. Aku juga sadar bahwa kebanyakan masyarakat Indonesia masih miskin dan memerlukan pangan bergizi tinggi yang murah, pangan berbahan baku kedele adalah pilihannya.

Kesabaranku berbuah ketika tahun 2007, harga jagung melonjak akibat trade off dengan penggunaan bioenergi. Lahan potensial pertanaman kedele  baik di Indonesia maupun di Amerika dialihkan menjadi lahan jagung. Pasokan kedele nasional turun, konsumsi tetap bahkan ada kecenderungan meningkat seiring dengan pertambahan penduduk, harga kedele impor melonjak tidak tertahankan. Pedagang, pengrajin tahu dan tempe menjerit dan panik, karena harga kedele melonjak melebihi ambang psikologis. Memanfaatkan jejaringnya, mereka membangun opini publik, protes, berdemo ke Istana Presiden dan DPR untuk memprotes kenaikan harga kedele dalam negeri, seakan hanya mereka saja selama ini yang terdzalimi, lupa jika petani kedele sudah jauh lebih lama terdzalimi. Bahkan, secara terbuka mereka mengancam mogok produksi sampai ada keputusan pemerintah untuk menurunkan harga kedele. Mereka lupa, kalau aku mogok juga, memang mereka bisa dan bakal jadi apa? Mereka lupa berpuluh tahun petani kedele tetap setia bertani dan tidak pernah mogok. Andai petani mogok satu musim saja, apa yang akan terjadi di negeri ini? Pemerintah terpaksa menurunkan bea masuk impor kedele untuk sedikit meringankan beban pengrajin tahu dan tempe. Pengrajin lupa, bahwa kondisi chaos ini merupakan produk resultante perlakuan mereka terhadap aku dalam waktu yang lama.

Tanpa disadari, mereka melupakan keringat petani yang sudah miskin dan tidak punya kemampuan untuk demo sekalipun. Mereka memanfaatkan, mahalnya harga komoditas strategis kedele untuk memperoleh perhatian dan dukungan masyarakat. Apalagi saat ini, tahu dan tempe merupakan makanan dengan spektrum konsumen luas dan fanatik, termasuk keluarga kaya, terdidik, perkotaan.  Keresahan itu tanpa disadari terus di blow up dan dimanfaatkan oleh sebagian kalangan untuk mendiskreditkan pemerintah. Mereka hanya ingat nasib mereka saja, bagaimana dengan nasibku dan jutaan petani sepertiku? Mereka lupa bahwa untuk mendapatkan pangan bergizi yang murah itu diraih dengan mengorbankan nasib petani yang harus mendapatkan keuntungan yang sangat kecil dari hasil usahanya. Mereka tak sadar jika kedele impor yang murah itu bukanlah karena usaha pertanian di negara pengekspor (Amerika) lebih efisien tapi lebih disebabkan karena petani di negara tersebut disubsidi dan ekspor kedele mereka ke negara lain juga disubsidi dengan berbagai fasilitas yang mereka ciptakan. Andai subsidi itu tidak ada maka aku berani bersaing dengan mereka, sekarang terbukti, begitu lahan kedele mereka berkurang saja ternyata harga kedele mereka lebih mahal dari harga kedele yang aku hasilkan, apalagi jika subsidi yang mereka nikmati itu dicabut seluruhnya.           

Belajar dari pengalaman pahit ini, maka aku menghimbau agar pengrajin tahu dan tempe serta pedagang kedele harus mau bermitra dengan petani kedele sepertiku. Mari saling bersinergi, saling menghidupi dan hubungan mutalistik ini harus kita jaga keberlanjutannya. Jangan silau dengan godaan kedele impor, karena harganya semu dan mungkin saja merupakan muslihat pihak asing untuk menghancurkan pengembangan kedele nasional, agar Indonesia selalu bergantung kepada negara maju tertentu. Jika para pengrajin tahu dan tempe membutuhkan kepastian usaha dengan harga kedele yang stabil dan terjangkau maka aku juga butuh kepastian usaha dengan harga kedele yang memberi keuntungan usaha yang layak bagi usaha budidaya kedeleku. Aku berharap para pengrajin tahu dan tempe serta pedagang kedele mau membuat kontrak denganku dan dengan petani petani kedele lainnya, agar apa yang aku usahakan ini mendapat jaminan pemasaran dengan harga yang layak. Mari perbaiki keadaan ini mitraku, agar azab yang lebih besar tidak datang lagi. Kalau itu terjadi, maka kita akan hancur bersama. Peringatan dan pelajaran dari kejadian akhir-akhir ini harus diambil hikmahnya, jangan sampai jatuh dan celaka pada masalah yang sama.

 

1 komentar »

Semua bergantung juga pada kita

Ditulis oleh Webmaster

Belum lama ini Food and Agriculture Organisation (FAO) meluncurkan perkiraan pangan dunia. Kita harus melihat apa yang dikemukakan oleh FAO itu sebagai general picture seluruh dunia, yang gambarannya memang demikian. 

Hal itu karena ada beberapa faktor. Pertama, perebutan antara pangan dan energi, yang sudah diketahui secara umum. Di sisi lain perubahan iklim sudah terjadi sekarang. Dengan perubahan iklim ini ada daerah-daerah yang kelebihan curah hujan dan ada yang kekeringan. Jelas, ini akan mempengaruhi produksi manakala juga iklim tidak mudah diprediksi, sehingga timbul statement seperti itu secara umum. 

Nah, akan tetapi, inti laporan yang lebih rinci dari FAO itu, dimana saya ikut dalam siding FAO yang terakhir ketika masalah itu dibicarakan, disebutkan bahwa yang mengalami pengaruh severe (berat) terjadi pada least developing country karena  ketidakmampuan mereka untuk meningkatkan produksi. Negara maju, tetap masih tertinggi dalam meningkatkan produksinya. Negara-negara berkembang cukup bagus. Nah, jadi kalau kita katakan krisis, kemungkinan, yang paling terkena dampak itu Negara-negara yang masih belum maju. Kedua, negara berkembang bisa terkena kalau tidak hati-hati. Ini gambaran umumnya.  

Sekarang, masuk ke Indonesia. Kita sebenanrnya punya dua sisi. Pertama, kalau kita tidak hati-hati, krisis itu bisa terjadi di Indonesia. Kedua, atau di  sisi lain, ini merupakan suatu peluang. Jadi antara ancaman dan peluang itu, sama besarnya. Artinya, kemungkinan terjadinya sama besar. Sekarang tinggal pandai-pandainya kita memanfaatkan situasi ini. 

Saya ingin bicara dari sisi peluang. Pertama, harga pangan dunia naik. Ini akan memberikan insentif yang sangat besar bagi petani-petani Indonesia untuk bisa lebih meningkatkan produksi dengan cara meningkatkan produktivitas dan ekstensifikasi. Harga pangan yang bagus ini merupakan dorongan yang luar biasa karena keuntungan petani meningkat dan dengan sendirinya diharapkan kesejahteraan petani juga meningkat. Contoh-contoh seperti itu sudah ada. 

Kemampuan kita meningkatkan produksi beras itu diantaranya didorong oleh harga beras yang cukup bagus sepanjang tahun. Retorika lama yang mengatakan harga gabah drop pada saat panen, itu tidak terlalu terjadi. Mungkin terjadi tapi sifatnya sangat lokal. Secara nasional harga selalu di atas harga pembelian pemerintah (HPP) rata-rata. Jadi itu membuktikan bahwa petani-petani kita sangat bergairah bertanam padi.  

Indikasi lain, makin banyak swasta-swasta yang masuk ke padi, yang sebelumnya hampir tidak pernah ada. Ini indikasi bahwa bisnis produksi padi itu sesuatu yang menguntungkan, yang menarik. 

Saya malah sudah menghitung, secara umum, angka rata-rata keuntungan bisa 100% dari modal dalam waktu sekitar tiga hingga empat bulan. Bisnis mana yang bisa menyaingi seperti itu? Saya selalu mengatakan kalau petani kita masih miskin, bukan bisnisnya yang tidak menguntungkan. Tapi, karena masalah lain seperti kepemilikan lahan yang sempit, mereka tidak punya modal, harus pinjam dulu, dan macam-macam. Tapi bisnis sendiri, luar biasa menguntungkan. 

Jagung juga demikian. Harga membaik, keuntungan membesar. Bahkan ada sedikit kekhawatiran dari kami. Jagung bisa menggeser padi seperti di beberapa tempat. Kenapa? Karena bisa lebih menguntungkan daripada padi, terutama jika menggunakan benih jagung hibrida yang potensi produksitifitasnya bisa mencapai 12 ton per hektar. Pemeliharaannya juga lebih sederhana, modalnya lebih rendah, tapi hasilnya lebih baik atau minimal sama dengan padi. 

Itu dari sisi harga. Dari sisi potensi, masih memungkinkan untuk meningkatkan produksi. Bukan hanya dengan jalan ekstensifikasi, tapi juga dengan jalan intensifikasi. Kalau kita lihat sebaran daerah yang didasarkan pada produktivitas, terlihat masih banyak terjadi ketimpangan. Secara umum, luar Jawa produktivitasnya masih rendah dibandingkan dengan Jawa. Di Jawa pun masih ada variasi. Apalagi di luar Jawa. Jadi, potensi meningkatkan produktivitas di luar Jawa jauh lebih besar dibandingkan dengan Jawa. Walau di Jawa pun masih memungkinkan untuk naik, apalagi berkembangnya varitas-varitas unggul. 

Kemudian, di luar Jawa, dan bahkan di Jawa sekalipun (khususnya di lahan sawah tadah hujan), itu masih banyak yang memiliki IP (Indeks Pertanaman) hanya 1 atau secara nasional masih 1,5-1,6. Bayangkan kalau kita naikkan menjadi dua saja secara rata-rata nasional. Secara nasional berarti ada kenaikan 0,4. Lalu kalikan dengan luas panen 12 juta hektare. Berapa? 4,8 juta hektare dan kalikan dengan produktivitas yang rata-rata 4.7 ton GKG/Ha. Berapa hasilnya? Bisa kita hitung sendirilah itu. Saya hitung minimal ada tambahan sekitar 10 juta ton beras. Bagaimana cara meningkatkan IP? Salah satunya dengan membangun dan memperbaiki irigasi. Kalau irigasi diperbaiki, dibangun, sawah-sawah menjadi sawah irigasi teknis semua. Itulah yang bisa menaikkan IP. 

Kemudian di luar Jawa, masih banyak yang satu kali tanam. Kalau irigasinya diperbaiki bisa dua kali tanam dalam setahun. Dari sisi lain, di Sumatra, Kalimantan, masih banyak daerah-daerah rawa pasang surut, rawa lebak yang bisa kita manfaatkan. Itu kita buktikan 2007. Bagaimana Sumatra Selatan bisa naik produksinya sampai 15%. Diantaranya dengan memanfaatkan rawa pasang surut. Jadi itu contoh-contoh gambaran bagaimana kita masih punya potensi. 

Belum lagi kita berbicara intensifikasi. Perbaikan varietas, yang kita lakukan, itu diantaranya yang menyumbang kenapa kita bisa menaikkan produksi. 

Kalau kita evaluasi tahun 2007, peningkatan produksi karena dua hal. Pertama, luas tanam. Kedua, karena peningkatan produktivitas. 

Kita menduga peningkatan produktifitas itu karena perbaikan varietas. Itu pun program bantuan benih kita baru lancar diakhir tahun, sehingga sebagian besar hasil program benih itu baru bisa kita peroleh tahun 2008.  

Namun, katakanlah pada 2007 perkiraan kita hanya 30% dari program benih kita yang terealisasi, yang menyumbangkan produksi di tahun 2007. Tapi, itu saja dampaknya sudah besar. Itu dari sisi padi, jagung potensinya juga sangat besar. Disamping  penggunaan benih jagung hibriada yang produktivitasnya tinggi, baru sekitar 30-an%. Kalau itu kita naikkan 70%, berapa besar dampaknya? 

Itu dari segi produktivitas. Dari segi eksistensifikasi luas tanam masih mungkin. Kita perhatikan saja secara kualitatif. Petani-petani kita masih banyak yang belum terbiasa menanam palawija di musim kemarau. Sawah-sawah banyak yang menganggur di musim kemarau. Ini suatu potensi. Mereka selalu menginginkan padi, padi, padi. Padahal kan tidak mungkin. Sawah tadah hujan kita masih cukup besar. Ini masih bisa kita manfaatkan untuk menanam jagung, sehingga rencana kita, kita akan memberikan benih jagung gratis di sawah-sawah tadah hujan di musim kemarau, yang masih memungkinkan sedikit air, tapi untuk padi tidak cukup.  

Itu kita baru bicara dua. Belum untuk bahan pangan yang lain. Itupun kita masih punya banyak potensi. 

Lalu bagaimana semua itu diakselerasi? Kita kembali pada hal yang mendasar, yang harus kita bangun, yang sering saya katakan, yakni Pancayasa. Ada lima hal yang harus dilakukan secara bersamaan. Pertama, infrastruktur harus dibangun, diperbaiki dan dipelihara. Kedua, penguatan kelembagaan petani. Saya baru saja berkunjung ke Banten, disana saya menyimpulkan bahwa memang kelembagaan ini masih sangat diperlukan. Kenapa? Ini karena struktur petani kita di tingkat desa itu ‘dikuasai’ oleh pemimpin-pemimpin informal, yang dalam bahasa sehari-hari disebut dengan tengkulak, rentenir, dll. Mereka ini ternyata juga betindak sebagai penyalur pupuk, benih, menyewakan lahan, dan lain-lain seperti meminjamkan modal. Semua itu dibayar setelah panen, hasil panen petani mereka serap tapi dengan harga yang relatif lebih rendah dari harga pasaran. Dengan Yarnen (dibayar setelah panen) sebetulnya petani rugi, sebagai contoh satu karung urea (50 Kg) seharga Rp 120,- dibayar dengan satu karung (50 Kg) gabah seharga minimal Rp 200,-. Ini sebenarnya titik kritis, sehingga kenapa petani kita sebagian besar masih miskin, karena ketergantungan kepada orang-orang seperti itu. 

Karena itu, untuk mengatasi masalah ini, program kita  adalah penguatan kelembagaan petani yaitu kelompok tani, gabungan kelompok tani, dan penumbuhan lembaga keuangan mikro di tingkat desa yang dikelola oleh petani sendiri. Kita harapkan lembaga keuangan mikro ini menjadi pengganti tokoh informal itu. Mau tidak mau harus seperti ini. Ketidakberdayaan petani terhadap akses sarana produksi dan modal akan berdampak pada produktivitas dan lainnya. 

Dengan ketersediaan modal yang memadai yang pengembaliannya ringan, petani bisa dikatakan mampu memproduksi secara optimal. Ketiga, penyuluhan. Ini juga sedang kita perkuat tahun-tahun terakhir ini. Orangnya ditambah, dana operasionalnya ditambah. Di samping juga program-programnya. Tetapi juga penyuluhan ini ternyata kita lihat di lapangan masih belum bergerak sesuai dengan yang kita harapkan. Contoh sederhana bagaimana pengetahun petani soal pemupukan, yang kita nilai masih belum sesuai anjuran. Ini berarti penyuluhan belum berjalan dengan baik, masih akan kita tingkatkan terus. Pemupukan yang tidak sesuai anjuran tentu berpengaruh pada produksi. 

Keempat, permodalan. Banyak petani kita yang kekurangan bahkan tidak punya modal dan jangan bicara perbankan apabila kita bicara petani kecil. Bank hanya menjangkau petani menengah atas dengan agunan dan persyaratan yang begitu rumit bagi petani kecil. Hampir tidak mungkin petani kecil dibiayai oleh bank. Bank mensyaratkan adanya agunan. Mereka tidak punya, sehingga kuncinya adalah lembaga keuangan mikro di tingkat desa, dimana modal awalnya dari pemerintah. Lembaga inilah yang memberikan modal kepada petani kecil dengan tanpa agunan. Inilah yang kita programkan dalam program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) untuk 10.000 desa miskin di Indonesia pada 2008. Dana satu trilyun telah disediakan untuk memodali 10 ribu lembaga keuangan mikro yang akan ditumbuhkan di 10 ribu desa dimana masing masing desa memiliki satu lembaga keuangan mikro dengan modal awal dari APBN sebesar Rp 100 juta per desa. 

Kelima, jaminan pemasaran, ini yang akan kita aktifkan dan kembangkan lagi, misalnya, pembelian yang dilakukan untuk Bulog. Kita akan lebih aktif lagi mendorong agar gabungan kelompok tani itu bermitra dengan Bulog supaya hasil mereka itu, jika harganya tidak bagus, bisa dijual ke Bulog. Kalau harga bagus, mereka bisa langsung menjual ke pedagang sampai ke tingkat wholesale market dimana para petani menjual secara berkelompok. Sebab, secara berkelompok lebih menguntungkan daripada sendiri-sendiri. Kelima hal itu yang akan kami lakukan secara simultan dalam upaya meningkatkan produksi pangan sehingga tidak hanya tercapai swasembada tapi juga mampu mengekspor pangan (net exporter), khususnya jagung yang ditargetkan mampu kita lakukan di tahun 2008 ini, insya Allah.

0 komentar »

Komentar Terbaru

  • M.Lafhaddin: Ass.Wr.Wb. Slamat buat Pak menteri dan jajarannya yang telah memberikan...
  • M.Lafhaddin: Ass.Wr.Wb. Pembangunan pertanian harus mulai dari kebutuhan petani, bukan kebutuhan...
  • Agus Nizami: Untuk membebaskan kembali sesuai harga beli pemerintah harus mengeluarkan uang rp...
  • Setyo Budi: Pendekatan yang dilakukan bapak menteri, menurut saya bijaksana. saya senang kalau...
  • Agus Nizami: Tambahan komentar dari saya (kok cuma saya ya yang kasih komentar…???:)...