Jurnal
18 Apr, 08
Mentan: Indonesia Ekspor Beras Tahun 2009
Ditulis oleh Webmaster
Menteri Pertanian Anton Apriyantono memastikan ekspor beras tidak akan dilaksanakan pada tahun 2008 ini, meskipun harga beras di luar negeri cukup tinggi. Ekspor baru akan dilakukan tahun 2009 mendatang ketika cadangan beras nasional sudah melebihi 3 juta ton.
“Tahun ini belum ekspor. Kemungkinan tahun depan. Tahun ini kita memperkuat stok nasional dulu. Namun, kita tetap menyiapkan aturan-aturan. Bisa saja ekspor jika stok beras di Bulog sudah lebih dari 3 juta ton. Kalau sekarang masih sangat jauh,” ujar kata Anton, Selasa (1/4) siang.
“Sekarang ini, stok beras nasional masih jauh dari angka 3 juta ton, yaitu sekitar 1,25 juta ton. Kalaupun target 3 juta ton tahun ini bisa saja tercapai, namun ekspor belum bisa dilakukan. Stok beras masih digunakan untuk mengantisipasi jika terjadi sesuatu seperti bencana alam atau pun untuk beras rakyat miskin (raskin),” katanya saat ditemui seusai rapat terbatas soal ketahanan pangan, yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Kantor Presiden. Ratas ini pun dihadiri oleh sejumlah menteri di antaranya Menteri Perdagangan Marie Elka Pangestu dan Dirut Perum Bulog Mustafa Abubakar.
Menurut Anton, kalau pun saat ini terjadi kelebihan hasil panen, Perum Bulog harus menyerap hasil panen tersebut sebanyak-banyaknya guna mengantisipasi berbagai hal. “Ekspor bisa saja dan tidak tertutup tahun ini. Asalkan stoknya lebih dari 3 juta ton,” tambah Anton saat didesak wartawan.
Ditanya soal impor beras, Anton berdalih, tak ada satu negara pun di dunia yang bisa memenuhi kecukupan pangannya secara sendiri, tanpa pasokan dari negeri lainnya. “Kita sendiri tidak akan sanggup. Jadi, kita hanya penuhi yang pokok-pokok saja. Kalau beras, cukup saja sudah bagus. Kalau jagung, kita masih impor, dan tinggal 8 juta ton lagi. Akan tetapi, kalau kedelai masih sangat jauh. Karena lahan kan sangat terbatas,” terang Anton. (sumber KOMPAS)
18 Apr, 08
Panen Hibrida di Buol, Mentan Digelari Taudako
Ditulis oleh Webmaster
BUOL – Udara terasa amat segar. Langit terlihat cerah membiru di angkasa. Sejak bada shubuh ratusan wajah-wajah sumringah mulai berkerumun di sekitar Bandara Buol. Sebagian malah sengaja berjajar hanya beberapa meter di kiri dan kanan landasan pacu. Tepat pukul 10.20 pesawat baling-baling NC-212 mendarat. Tepuk tangan pun bergema, diselingi teriakan “Allahu Akbar”, tatkala Mentan Anton Apriyantono turun dari tangga pesawat, diiringi Gubernur Sulawesi Tengah HB Paliuju dan Bupati Buol Amran H Bataligo.
‘’Asaslamualaikum!’’ Mentan menyapa sambil menyalami satu per satu pejabat dan tokoh-tokoh masyarkat yang menghampirinya. Setelah dikalungi bunga ‘selamat datang’, Mentan dan rombongan langsung diminta naik kendaraan. Rombongan – antara lain Dirjen Perkebunan, Staf Khusus Mentan, Gubernur Sulteng, Bupati Buol, Presdir Cipta Cakra Murdaya (Siti Hartarti Murdaya) dan anggota Muspida Buol – bergerak menuju Istana Raja Buol. Tak kurang dari 100 kendaraan penjembut ikut mengiringinya dari belakang.
Sepanjang jalan, rombongan Mentan disambut meriah oleh warga dan anak-anak sekolah. Sambil berdiri di kiri dan kaanan jalan, tak henti-hentinya mereka melambaikan tangan. Mentan membalasnya dengan lambaian tangan dan ucapan salam. ‘’Assalamualaikum?’’ Mereka, warga dan anak-anak sekolah, dari SD, SMP sampai SMA, pun menjawab serempak: ‘’Walaikum salam. Hidup Pak Menteri!’’
‘’Alhamdulillah. Kami senang sekali mendapat tamu terhormat. Akhirnya ada juga pejabat tinggi negara yang mau datang ke kampung kita,’’ ungkap H Abdullah, seorang anggota kerabat Istana Raja Buol. Menurutnya, Mentan adalah menteri pertama yang datang ke wilayah ujung Utara Sulterng ini. Untuk bisa sampai ke Buol, seorang pejabat dari Jakarta perlu waktu 16 jam perjalanan darat dari Palu. Karena ada jalan yang rusak, waktu tempuh malah bisa molor sampai 20 jam.
Tak sampai setengah jam. Iring-iringan rombongan Mentan tiba di Istana Raja Buol. Di markas utama bangsawan Kabupaten Buol inilah Mentan diangkat menjadi warga kehormatan dengan gellar ‘’Taduako Buol’’. Dalam tradisi masyarakat Buol, Taduako adalah gelar tertinggi yang diberikan kepada orang besar atau pejabat tinggi. Taduako bermakna orang besar yang dituakan. Dialah tempat untuk menyampaikan aspirasi, orang yang layah diminta pendapat dan nasihatnya.
Menanggapi penobatan itu, Mentan menyampaikan ungkapan terima kasih. ‘’Sungguh ini merupakan kehormatan. Terima kasih atas apresiasi dan kepercayaan yang diberikan. Semoga Allah SWT dengan yang lebih baik lagi.’’
Mentan menjelaskan, sebagai pejabat publik yang diamanahi untuk memimpin Departemen Pertanian, adalah wajar jika dia rajin berkujung ke daerah pelosok. Karena pertanian ada di desa-desa wajar pula jika pembangunan pertanian berangkat dari desa. Bagi Mentan, berada di tengah-tengah warga petani dan suasana pesesaan adalah merupakan kenikmatan tersendiri. ‘’Di tempat seperti ini, dimana ada sawah-swah yang menguning dan kebun-kebun menghijau, seolah-olah saya sedang merasakan indahnya surga,’’ ucap Mentan, Sabtu (29/3).
Selama 24 jam tinggal di Buol, Mentan dan rombongan mengikuti serangkaian acara yang digelar oleh Pemda Buol, PT Hardaya Inti Plantation (HIP), dan PT Cipta Cakra Murdaya (CCM). Acara pertama, adalah penanaman kelapa sawit di kebun plasma hasil kerjasama CCM, HIP dan Koperasi Tani Amanah. Kebun plasma sawit yang siap ditanam seluas 1000 ha. Dalam waktu dekat akan dikembangkan sampai 4.000 ha. Di Kabupaten Buol, Murdaya Grup sendiri memiliki izin uintuk membuka kebun sawit sampai 70.000 ha. ‘’Sejauh ini, kami sudah menanam di areal seluas 12.000 ha serta membangun pabrik CPO dengan kapasitas produksi sampai 90.000 ton per tahun,’’ jelas Hartarti Murdaya.
Acara kedua adalah panen perdana padi hibrida. Bersama Gubernur Sulteng, Bupati Buol, dan Presdir CCM, Mentan menandai panen padi hibrida dengan varitas Bernas Prima. Melalui kemitraan antara CCM dan kelompok tani, produksi padi bisa ditingkatkan dari rata-rata sekitar 4 ton per ha menjadi 9-10 ton per ha.
Malamnya, bertempat di Balai Permusyawaratan Umum (BPU) Buol, Mentan memberi pengarahan dan melakukan dialog dengan aparat pemda, anggota DPRD, tokoh masyarakat, penyuluh dan perwakilan kelompok tani.
Ahad (30/3) pagi, Mentan dan rombongan kembali ke Palu. Dengan menggunakan pesawat khusus milik Media Group, Mentan dan rombongan bertolak ke Pangkalan Bun. Di sini, Gubernur Kalimantan Tengah Teras A. Narang, CEO Media Group Surya Paloh, dan CEO Tanjung Lingga Group Abdul Rasyid telah menunggu. Mentan dan rombongan kemudian diangkut helikopter menuju lokasi acara penanaman kelapa sawit di kebun milik PT Sawit Multi Utama. Perusahan hasil kemitraan antara Media Group dan Tanjung Lingga Group ini mendapat izin membuka kebun sawit seluas 60.000 ha. ***
18 Apr, 08
Di Pasar Murah Migor, Mentan Ajak Masyarakat Rajin Menanam
Ditulis oleh Webmaster
JAKARTA – Menyikapi harga bahan pangan yang cenderung terus naik, Menteri Pertanian Anton Apriyantono mengajak masyarakat rajin menanam. “Gang dan lahan sempit sekitar rumah-rumah dapat dimanfaatkan untuk pot-pot tanaman bernilai ekonomi dan mudah dirawat,” ujarnya di Jakarta.
Berbicara di sela-sela kunjungan ke pasar murah minyak goring di Cipinang, Jakarta Timur, Selasa (18/3), Mentan menegaskan bahwa pertanian bukan hanya menanam padi. Untuk wilayah seperti Jakarta dan wilayah padat penduduk, pertanian lahan sempit bisa menjadi pilihan. Komoditasnya, jelas Mentan, bisa tanaman hias yang bernilai ekonomi tinggi. Atau sayur mayur untuk konsumsi sehari-hari. Cabai, bawang, sawi, bayam, dan sejenisnya relatif mudah dirawat di pot-pot yang bisa diletakan di gang atau pekarangan rumah-rumah.
Dengan rajin menanam, warga bisa menambah penghasilan selain untuk mengurangi beban konsumsi sendiri. Mentan berharap, para penyuluh bisa membimbing warga/petani melalui kelompok dan gabungan kelompok tani.
Pada bagian lain, Mentan mengiungatkan bahwa akhir-akhir ini harga bahan pangan di Indonesia maupun di tingkat global cenderung naik terus yang antara lain dipicu oleh kebutuhan pangan yang terus meningkat. Sementara itu, sumberdaya yang ada tidak hanya dipakai untuk menutupi kebutuhan untuk pangan saja, melainkan juga untuk energi. Tanaman tebu dan singkong kini juga menjadi sumbar bioetanol, sedang kelapa sawit selain untuk minyak goring juga banyak diminati untuk dikonversi menjadi biodiesel.
Menyikapi kondisi yang terjadi saat ini –antara lain kenaikan minyak goreng, pemerintah terus berupaya dengan berbagai cara untuk dapat meringankan beban masyarakat. Salah satu di antaranya dengan menggelar pasar murah minyak goring di berbagai pasar. Antara lain pasar murah minyak goreng di Kel. Cipinang Besar Utara, Kec. Jatinegara, Jakarta Timur.
Pasar murah minyak goreng non subsidi yang digelar di halaman Kantor Kelurahan Cipinang Besar Utara ini terselenggara atas kerjasama Pemda Propinsi DKI Jakarta dengan PT Wilmar, yang menjual minyak goreng sebanyak 5000 liter dengan harga Rp. 8000,-/liter selama 6 bulan. Setiap KK yang termasuk keluarga miskin di wilayah ini dan memiliki kupon, berhak untuk mendapatkan 2 liter minyak goreng. ***
18 Apr, 08
Mentan Lepas Ekspor Benih ke India, Brunei dan Timor Leste
Ditulis oleh Webmaster
Mentan Anton Apriyantono mendorong kalangan produsen benih di Tanah Air untuk meningkatkan kualitas produksinya sehingga dapat diterima konsumen di mancanegara. Harapan ini disampaikan Mentan saat melepas ekspor benih hortikultura ke India dan Brunei Darussalam, ekspor kedelai edamame ke Jepang dan ekspor benih padi ke Timor Leste, pekan lalu di Surabaya.
Menurut Mentan, bangsa Indonesia harus punya kebangggaan karena tak bisa lagi disebut hanya sebagai bangsa pengimpor produk pertanian. ‘’Fakta sekarang kita mengekspor ke beberapa negara harus menjadi catatan kebangggaan kita. Jadi, kita tak perlu malu lagi kalau bicara pertanian karena kita sudah menjadi eksportir,’’ tegas Mentan.
Peluang ekspor, lanjut Mentan, masih terbuka lebar mengingat negara produsen benih masih terbatas jumlahnya. Saat ini, menurut Mentan, penjajagan atas pasar ekspor di Afrika terus dilakukan. Respon yang sudah ada dari Tanzania dan Sudan. ‘’Harapan kita dalam waktu dekat ekspor ke negara-negara tersebut dapat terlaksana,’’ jelas Mentan.
Ekspor benih hortikultura terutama cabai dan timun dilakukan PT Tanindo Subur Prima, satu produsen benih hortikultura yang ada di Surabaya, Jawa Timur. Perusahaan ini, menurut Junaidi Sungkono, presiden direkturnya menargetkan tahun ini mampu mengekspor benih senilai 2 juta dolar AS. ‘’Tahun lalu kita sudah membukukan ekspor senilai 1 juta dolar. Harapan kita tahun ini meningkat hingga 2 juta dolar,’’ paparnya.
Selain pasar India dan Brunei, Junaidi menyebut pasar Cina dan Filipina sejak lama telah mendapat pasokan benih dari perusahaannya. ‘’Untuk benih yang kita ekspor memang tak sama dengan benih yang kita pasarkan di dalam negeri. Kualitas dan jenisnya kita bedakan sesuai dengan permintaan dan kondisi pertanian, khususnya iklim negara tersebut,’’ jelas Junaidi.
Sementara, ekspor kedelai edamame juga dilakukan oleh Tanindo ke pasar Jepang. Kedelai ini merupakan produk favorit masyarakat Jepang yang ditanam di Indonesia, khususnya Jawa Timur. Kedelai yang siap santap ini biasanya dikonsumsi sebagai makanan kecil saat jamuan minum teh. Sedangkan, benih padi yang diekspor ke Timor Leste merupakan produksi dari PT Sang Hyang Sri. Ekspor ini merupakan ekspor perdana ke negeri bekas wilayah Indonesia tersebut. (***)
18 Apr, 08
BPS: Produksi Padi 2007 Naik 4,77%, NTP 108,63
Ditulis oleh Webmaster
JAKARTA – Jumlah produksi padi nasional tahun 2007 mencapai 57,052 juta ton gabah kering giling (GKG) atau naik 4,77% (2,60 juta ton) dibanding produksi tahun 2006. Capaian ini lebih baik dari angka ramalan (ARAM) III yang sebelumnya menyebut 57,048 juta ton atau naik 4,76% dari produksi padi 2006 yang mencapai 54,455 juta ton (Angka tetap).
Kenaikan produksi padi, berdasarkan Berita Resmi BPS per 3 Maret 2008, terjadi karena adanya penambahan luas panen sebanyak 338,4 ribu hektar (2,87%) dan peningkatan produktivitas sebesar 0,85 kuintal per hektar (1,84). Kenaikan produksi tahun 2007 sebagian besar disumbang luas Jawa sebesar 2,09 juta ton atau naik 8,54% dari catatan produksi tahun sebelumnya. Pulaw Jawa menyumbang 0,51 juta ton atau naik sekitar 1,69% dari capaian produksi 2006.
Di luar Jawa, peningkatan produksi disebabkan oleh naiknya luas panen sebesar 372,04 ribu hektar (6,10%) dan kenaikan produktivitas sebesar 0,92 kuintal per hektar (2,28%). Di Jawa, kenaikan produksi disebabkan oleh naiknya produktivitas sebesar 1,19 kuintal per hektar (2,27%). Luas panen di Jawa selama 2007 mengalami penurunan sebesar 32,64 ribu hektar (0,57%).Kenaikan yang relatif besar terjadi antara lain di Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Nanggroe Aceh darussalam, Kalimantan Selatan, Lampung dan Kalimantan Barat.
Sebelumnya, menurut ARAM III 2007 BPS, kenaikan produksi padi terjadi karena adanya penambahan luas panen sebanyak 379,18 ribu hektar (3,22%) dan peningkatan produktivitas sebesar 0,69 kuintal per hektar (1,49%). Kenaikan produksi terjadi antara lain di Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Nanggroe Aceh darussalam, Kalimantan Selatan, Lampung dan Kalimantan Barat.Dilihat dari periode waktunya, kenaikan produksi padi 2007 terjadi pada subround Mei-Agustus sebesar 3,46 juta ton (18,65%) dan subround September-Desember sebesar 2,74 juta ton (27,57%).
28 Feb, 08
Mentan: Pasar Pangan Halal Lebih dari 600 Milyar Dolar
Ditulis oleh Webmaster
JAKARTA – Prospek pasar dari produk pangan halal terbilang amat cerah. Menurut Mentan Anton Apriyantono, sedikitnya 1,6 milyar Muslim membutuhkan pangan halal dengan nilai lebih dari 600 milyar dolar AS. Di Eropa saja terdapat sekitar 30 juta Muslim punya daya beli tinggi terhadap aneka pangan halal.
Berbicara dalam Seminar Nasional
Pada bagian lain, Mentan yang telah melahirkan sejumlah buku pangan halal mengeskan bahwa kehalalan suatu produk akan menentrtamkan konsumen. Produk halal tidak saja memenuhi kebutuhan aspek keimanan dan ketakwaan, melainkan juga terjaga dari segi kualitas dan higienisnya. Itulah sebabnya, produk halal amat didambakan dan dicari oleh konsumen Muslim. Sementara konsumen non-Muslim juga dijamin memperoleh produk yang diproses secara sehat, bersih dan aman dikonsumsi.
Dengan tingkat pendidikan konsumen yang meningkat dan akses informasi yang kian luas, lanjut Mentan, konsumen akan semakin kritis dan peduli dengan masalah halal. Negara berkewajiban menjamin halalnya makanan, minuman, obat, kosmetika dan produk-produk lainnya melalui hukum dan peraturan.
Pada kesempatan itu, Mentan mengimbau agar masyarakat waspada terhadap kemungkinan masuknya produk tidak halal. Sebagai negara tujuan impor yang relatif besar, Indonesia rentan dimasuki aneka produk tidak halal. ‘’Jangan sampai kegemparan yang pernah terjadi di beberapa engara terjadi di sini.’’ Akhir 2006, warga Malaysia telah dibuat heboh oleh hadirnya sosis dan mie berlabel halal palsu. Tahun 1997, Deptan AS telah menjatuhkan sanksi bagi perusahaan daging yang memalsukan label halal. Untuk mencegah munculnya produk halal palsu lainnya, Negara Bagian California dan New jersey memberlakukan undang-undang produk halal dengan sanksi denda bagi sia[a saja yang menjual dan mempromosikan produk/makanan berlabel halal palsu.
Di Indonesia, isus produk halal palsu belum seheboh di dua engara tersebut. Namun begitu, bukan berarti umat Muslim di sini bisa tenang-tenang saja. Lembaga Pengawas Produk Obat dan makanan (LPPOM)
RSS Blog