Arsip Jurnal
8 Jan, 09
Presiden: Kita Kembali Swasembada
Ditulis oleh Webmaster
Di depan anggota DPR, Presiden SBY mengakui tahun 2008 adalah tahun yang sulit dan sarat dengan tantangan. Harga minyak dunia mencapai titik tertinggi dalam sejarah. Harga pangan di berbagai penjuru dunia melonjak drastis. Ekonomi dunia terancam resesi. Bank Dunia memprediksi bahwa situasi energi dan pangan ini berpotensi memicu krisis sosial, ekonomi dan politik di 33 negara, dan mengakibatkan 100 juta orang di seluruh dunia kembali jatuh di bawah garis kemiskinan.
Kenaikan harga minyak dan pangan dunia yang sangat tinggi, kata Presiden, dengan cepat berdampak kepada melambungnya subsidi energi dan pangan dalam anggaran kita. ‘’Masalah yang kita hadapi sungguh tidak ringan. Beban subsidi minyak dan listrik diperkirakan akan naik tiga kali lipat sampai akhir tahun, dibanding anggaran subsidi energi pada APBN tahun 2008,’’ jelas Presiden SBY pada pidato kenegaraan menyambut HUT Kemerdekaan ke-63 RI di Gedung DPR/MPR, 15 Agustus 2008.
Namun, di tengah situasi ekonomi dunia yang tidak menentu ini, sesungguhnya kita patut bersyukur, karena kondisi pangan negara kita relatif lebih baik dari banyak negara lain. Mungkin fakta ini belum banyak diketahui masyarakat. Oleh karena itu, tambah Presiden SBY, ‘’Saya ingin menyampaikan kepada Sidang Dewan yang terhormat, dan kepada seluruh rakyat Indonesia, insya Allah, pada tahun ini kita kembali mencapai swasembada beras.’’ Ini adalah untuk pertama kalinya sejak masa Orde Baru, produksi beras nasional lebih tinggi daripada kebutuhan konsumsi beras. ‘’Itulah sebabnya, juga untuk pertama kali sejak masa Orde Baru, harga beras di dalam negeri lebih rendah daripada harga beras internasional,’’ tegasnya.
Apa yang dinyatakan Presiden SBY memang benar adanya. Dalam forum KTT Roma Mei 2008, menurut Mentan Anton Apriyantono, tak kurang dari organisasi pangan sedunia FAO memuji Indonesia sebagai negara paling responsif dan stabil dalam mengelola harga pangan. Faktanya, ketika harga pangan melambung sampai di atas 100% di sejumlah negara, termasuk Vietnam, Filipina, Malaysia, di Indonesia harga pangan cenderung stabil bahkan saat melewati lebaran dan tahun baru.
Stabilitas harga terjadi tentu karena ada pasokan yang cukup. Dan, dalam produksi padi dan jagung Indonesia memang pantas bersyukur. Dalam dua-tiga tahun terakhir jumlah produksi telah melebihi kebutuhan konsumsi dalam negeri. Tahun 2007, produksi padi naik 4,96%, jagung melejit sampai 14,5% dibanding capaian produksi tahun sebelumnya. Yang lebih menggembirakan, tambahan produksi padi Indonesia telah menyumbang 35% dari tambahan produksi dunia.
Per 1 Juli 2008, BPS merilis antara lain angka ramalan (ARAM) II 2008 sebagai berikut: padi 59,877 juta ton atau naik 4,76% dibanding angka tetap (ATAP) 2007 yang mencapai 57,157 juta ton gabah kering giling (GKG); jagung 14,854 juta ton atau naik 11,79% dibanding ATAP 2007 yang mencapai 13,287 juta ton pipilan kering; dan kedelai 723.535 ton atau naik 22,11% dari ATAP 2007 yang 592.534 ton.
Angka-angka yang dilaporkan BPS per 1 Juli 2008 adalah perkiraan yang bisa dicapai berdasarkan pantauan terhadap realisasi musim tanam Januari-April 2008 plus ramalan pada periode Mei-Desember 2008. ARAM II biasanya selalu lebih kecil dari ARAM III maupun ASEM (angka sementara) dan ATAP.
Dirjen Tanaman Pangan Deptan Sutarto Alimoesa yakin produksi padi 2008 lebih baik. Target peningkatan produksi 5% akan tercapai. Kekeringan dan serangan OPT sudah diperhitungkan dan tidak akan mengganggu target peningkatan produksi 5%. Dia percaya Bulog bisa memenuhi cadangan beras sampai 3 juta ton. Sekarang saja Bulog sudah menyerap 2,2 juta ton. Kekurangannya, bisa diserap dari panen selama Agustus (1 juta ha), September (975.000 ha) dan Oktober (642.000). ‘’Panen juga masih akan terjadi pada Nopember dan Desember,’’ tegasnya.
RSS Blog
Satu komentar untuk artikel ini. Tambah komentar
Hal ini meski kita syukuri.
Di sisi lain kita juga harus terus berusaha agar hari ini lebih baik dari kemarin.
Saya dengar susu kita masih impor 80%. Apa bisa peternakan sapi digalakkan di sini hingga Indonesia mandiri di bidang susu? Ini membuka banyak lapangan kerja dan menghemat devisa.
Kemudian sebisa mungkin pangan terjangkau oleh rakyat.
Petani juga harus sejahtera dengan meminimalisir biaya produksi seperti pengadaan pupuk organik dari tahi sapi/lembu misalnya. Kemudian kalau bisa sambil bertani mereka bisa beternak sapi.
Pestisida sebaiknya yang kimia dihindari hingga rakyat sehat. Cari predator hama alami seperti burung hantu untuk tikus, dsb.
Masukan lain, sepertinya web ini kurang interaktif.
Maksudnya saya ragu apakah komentar ini dibaca oleh pak Menteri atau hanya sia2 saja…:)
Agus Nizami (January 9th, 2009 at 4:58 pm)