Arsip Jurnal

Mentan Optimis Indonesia Bisa Jadi Pengekspor Beras

Ditulis oleh Webmaster

Jakarta –Mentan Apriyantono optimis Indonesia bisa menjadi negara pengekspor beras. Caranya dengan menggenjot produktivitas dan menaikkan index pertanaman. Tampil sebagai pembicara kunci dalam seminar nasional Penguatan Strategi Ketahanan Pangan Nasional yang diselenggarakan CIDES Indonesia di Jakarta, Senin (25/2), Mentan menjelaskan bahwa optimisme itu bukan mimpi. Tapi ada dasarnya. Bahkan ada bukti empiriknya.

Melalui program P2BN (Peningkatan Produksi Beras Nasional), tahun 2007 Indonesia berhasil meningkatkan produksi padi sampai 4,8%. ‘’Ini capaian pertumbuhan terbesar dalam 15 tahun terakhir.’’

Prestasi itu, tambah Mentan, antara lain berkat penggunaan benih unggul. Karena berbagai hal, realisasi penggunaah benih unggul bersubsidi baru mencapai 30-an persen. Namun begitu, hasilnya sangat bermakna meningkatkan produksi padi nasional.

Ke depan, selain meningkatkan produktivitas dengan benih unggul, upaya peningkatan produksi padi nasional masih terbuka ditingkatkan dengan menaikkan index pertanaman. Pasalnya, selama ini index pertanaman padi secaranasional masih sekitar 1,5-1,6 per tahun. Jika bisa ditingkatkan menjadi 2,0 per tahun terbuka menambah produksi lebih dari 13,5 juta ton padi atau setara 9 juta ton beras.

Di depan ratusan peserta seminar, Mentan menegaskan bahwa ketahanan pangan tidak sekedar masalah kecukupan (ketersediaan pangan), melainkan juga soal keterjangkauan dan menyangkut kesejahteraan petani. Yang ingin kita adalah bahan pangan tersedia cukup memenuhi kebutuhan konsumsi, harga terjangkau, dan yang tak kalah penting petani harus terjamin kesejahteraannya.

Masalah kita sekarang bukan ketersedian. Bahan pangan itu ada tersedia cukup. Tapi, harganya menjadi masalah bagi sebagian kalangan masyarakat. Ini terkait dengan rendahnya daya beli dan tingginya masyarakat miskin.

Untuk menjamin keseimbangan tiga hal itu, mutlak diperlukan instrumen kebijakan yang memadai untuk membei insentif dan proteksi bagi petani. ‘’Di negara mana pun insentif dan proteksi ini masih ada. Jadi merupakan hal yang wajar saja.’’ Apalagi pertanian tak hanya berperan menyediakan pangan, melainkan juga solusi untuk pengentasan kemiskinan dan bahkan solusi pertumbuhan ekonomi nasional.

Akhir tahun 2007, sektor pertanian tercatat sebagai penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi nasional. Triwulan I 2008, menurut BPS, sektor pertanian juga mencapai rekor sebagai sektor dengan indeks tendensi bisnis (ITB) yang tertinggi dibanding sektor lain. ITB pertanian mencapai 128, sementara rata-rata sektor baru 114,5.

Dengan serangkaian program dan kebijakan yang ada, Mentan yakin indikator keberhasilan pembangunan pertanian bisa meningkat lagi. Berbagai insentif yang selama ini diberikan dalam bentuk subsidi pupuk yang terus naik mulai dari Rp 5,8 trilyun (2006), Rp 7,5 trilyun (2007), hingga Rp 20 trilyun (2008); berikutnya subsidi benih unggul untuk padi, jagung dan kedelai; subsidi modal dalam bentuk subsidi bungan, penjaminan dan beberapa skim paket kredit lunak. Sementara proteksi diterapkan misalnya dalam bentuk pembatasan impor komoditas dan penerapan bea masuk.

Mengingat lahan yang terbatas dan jumlah penduduk yang amat besar, kata Mentan, Indonesia sebaga negara agraris tak mungkin seluruhnya memenuhi kebutuhan sendiri. ‘’Kita harus memilih, mana komoditas yang strategis sebagai prioritas.’’ Dalam hal ini, tegas Mentan, pemerintah telah memilih lima komoditas strategis yaitu: padi, jagung, kedelai, gula, dan daging sapi.

Untuk memperkuat ketahanan pangan nasional, dalam seminar tersebut, CIDES menawarkan tiga rekomendasi. Pertama, penyediaan lahan yang memadai untuk petani. Kedua, meningkatkan subsidi untuk petani (pangan) yang dinilai jauh lebih sedikit dibanding subsidi untuk BBM. Ketiga, perlunya peningkatan DKP dalam menyelesaikan persoalan ketahanan pangan di Indonesia. (

2 komentar untuk artikel ini. Tambah komentar

  1. Agar Indonesia bisa ekspor pangan perlu perluasan kebun/pertanian. Transmigrasi sulit jalan karena pemerintah dana terbatas, sedang para petani di Jawa enggan ke luar Jawa atau Kalimantan yang luas untuk bertani. Di sisi lain, Jawa dengan ibukota Jakarta menjadi magnet/gula yang menarik para pendatang dari seluruh Indonesia untuk mencari uang. Akibatnya luas lahan pertanian di pulau Jawa terus berkurang. Artinya produksi pangan Indonesia turut berkurang.

    Untuk itu saya usulkan Pemindahan Ibukota Negara Indonesia dari Jakarta ke Kalimantan Tengah. Sekilas tidak ada hubungan dengan peningkatan produksi pertanian, tapi sebenarnya ada. Para penduduk dari seluruh Indonesia akan pergi ke Kalimantan Tengah. Lahan pertanian di Jawa aman. Sedang orang yang tak bisa kerja di Kalteng bisa membuka lahan pertanian di sana.

    Silahkan baca tulisan lengkap saya tentang Pemindahan Ibukota Negara Indonesia dari Jakarta di sini:
    http://infoindonesia.wordpress.com/2008/02/18/memindahkan-ibukota-dari-jakarta

    Agus Nizami (February 29th, 2008 at 10:14 am)

  2. Tambahan komentar dari saya (kok cuma saya ya yang kasih komentar…???:)

    Alhamdulillah kelihatannya stok beras mulai cukup. Yang jadi masalah sekarang harganya mahal tidak terjangkau rakyat banyak (Rp 6.000/kg) sementara beras raskin yang harganya Rp 2.000/kg selain sulit dicari di pasaran (paling cuma pas operasi pasar sebulan/2 bulan sekali) juga tetap saja tidak terjangkau bagi rakyat yang tidak punya uang.

    Di sisi lain garis kemiskinan versi pemerintah terlampau rendah (Rp 5.500/hari/orang).

    Kemudian meski harga beras tinggi, harga gabah petani malah diturunkan Bulog dari Rp 2.000/kg jadi Rp 1.800/kg padahal harga beras saat ini rp 6.000/kg.

    Bisakah Deptan membantu petani dengan menyediakan huller yang bisa digerakan dengan tangan/kaki sehingga para petani bisa merubah gabah jadi padi dan menjualnya dengan harga Rp 3.000/kg (bisa langsung/via KUD).

    Dari situ nanti distributor dgn truk bisa menjualnya ke pasar induk dengan harga Rp 4.000. Jika muatan per truk 5 ton, maka tiap truk untung Rp 5 juta (Rp 2 juta bisa untuk sewa truk). Dengan cara ini, harga beras di pasar bisa ditekan jadi Rp 4.500-5.000/kg sementara petani untung karena harga jual padi mereka meningkat.

    Wassalam

    Jusuf Kalla: Beras Cukup, Apa yang Kurang? Jawab: Rakyat Tak Mampu Beli
    Diarsipkan di bawah: Ekonomi — nizaminz @ 2:05 am Sunting Ini

    Di SCTV pagi tanggal 6 April 2008 diberitakan kunjungan Jusuf Kalla ke gudang beras. Bertumpuk-tumpuk karung beras ada di sana. JK dengan bangga berkata pada para wartawan: ”Ini beras cukup. Apanya yang kurang?”

    ”Tapi pak, banyak warga makan nasi aking dan kelaparan,” kata satu wartawan.

    ”Ah itu kan cuma di koran”, kata JK. ”Kan persediaan beras cukup. Dan pemerintah sudah memberikan beras raskin (Beras untuk orang Miskin)” kata JK.

    Mungkin JK tidak tahu kalau beli beras itu harus pakai uang. Dengan harga beras sekitar Rp 6.000/kg, maka harga beras sudah tidak terjangkau lagi oleh rakyat miskin yang penghasilannya hanya Rp 5.000-10.000 per hari. Bahkan beras raskin pun harus dibeli dengan harga sekitar Rp 2.000/kg. Kadang harga tersebut dinaikan lagi oleh para petugas untuk ongkos. Bagi rakyat yang tak punya uang, tetap saja harta itu tidak terjangkau.
    Lebih jauh lihat di:
    http://infoindonesia.wordpress.com/2008/04/07/jusuf-kalla-beras-cukup-apa-yang-kurang-jawab-rakyat-tak-mampu-beli/

    Agus Nizami (April 7th, 2008 at 1:30 pm)

Tuliskan komentar Anda...

Tulisan terkait

Komentar Terbaru

  • M.Lafhaddin: Ass.Wr.Wb. Pembangunan pertanian harus mulai dari kebutuhan petani, bukan kebutuhan...
  • Agus Nizami: Untuk membebaskan kembali sesuai harga beli pemerintah harus mengeluarkan uang rp...
  • Setyo Budi: Pendekatan yang dilakukan bapak menteri, menurut saya bijaksana. saya senang kalau...
  • Agus Nizami: Tambahan komentar dari saya (kok cuma saya ya yang kasih komentar…???:)...
  • Agus Nizami: Untuk meningkatkan kerjasama ekonomi negara2 Islam bisa baca di:...