Arsip Jurnal
19 Feb, 08
Mentan pada Rakernas 2008: Jadilah Imam Pertanian yang Baik
Ditulis oleh Webmaster

JAKARTA – Mentan Anton Apriyantono meminta seluruh aparat pertanian, yang ada di pusat maupun daerah, agar bekerja profesional dengan arah koordinasi yang baik. ‘’Berusahalah menjadi sebagai ‘imam’ yang baik. Pemimpin yang bisa menggerakkan segala potensi dan sumberdaya yang ada,’’ kata Mentan di Jakarta, Rabu (13/2).
Saat membuka Rapat Kerja Nasional Sinkroninasi Kegiatan Pertanian 2008 dan Persiapan Penyusunan Rencana Kegiatan 2009 di Aula Gedung Deptan, Mentan menegaskan bahwa pembangunan pertanian tidak harus selalu bertumpu pada anggaran Departemen Pertanian (APBN). Di luar Deptan, ada departemen atau lembaga lain yang punya anggaran untuk mendukung kegiatan pertanian. Departemen PU misalnya memeiliki anggaran untuk pembangunan dan perbaikan irigasi senilai 9 triliyun. Dengan peran ‘imam’ yang baik, koordinasi dan kerjasama bisa dilakukan oleh aparat pertanian untuk mendorong optimalisasi pembangunan di daerah.
Di luar itu, ada pihak swasta yang punya sumber dana dan masyarakat yang memiliki sumberdaya. Sebagai imam, kata Mentan, kita berperan untuk menjadi regulator dan fasilitator. ‘’Tugas kita untuk mempertemukan bagaimana pihak swasta bisa diajak untuk terlibat dalam pola inti-plasma bersama para petani.’’
Kegiatan pembangunan pertanian, tambah Mentan, selalu ditempuh dengan penerapan strateggi Panca Yasa, meliputi: penyediaan/perbaikan insfrastruktur termasuk perbenihan/pembibitan dan riset; penguatan kelembagaan, perbaikan sistem penyuluhan, penanganan pembiayaan pertanian, dan fasilitasi pemasaran hasil pertanian.
Dalam rakernas yang dihadiri oleh lebih 350 peserta dari seluruh dinas/badan/kantor lingkup pertanian provinsi dan UPTP (unit Pelaksana Teknis Pusat) yang ada di daerah dan pusat, Mentan mengajak jajaran pertanian untuk sama-sama bekerja keras mensukseskan semua program yang sudah direncanakan. ‘’Jangan sampai ada lubang sedikit pun yang bisa membuat kita jadi sasaran tembak,’’ kata Mentan.
Mentan memberi contoh. Akhir 2007, sebenarnya sektor pertanian telah diakui tampil sebagai bintang lapangan. Pertumbuhan PDB sektor pertanian tercatat paling tinggi dalam sejarah. Begitu pun sektor pertanian telah menjadi sumber kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Produksi padi dan jagung secara nasional juga mencatat rekor pertumbuhan tertinggi. ‘’Sayang, gara-gara kedelai, kita dikritik habis seakan kita tidak melakukan apa-apa,’’ jelasnya.
Rakernas Pertanian, menurut Sekjen Deptan Hasanuddin Ibrahim, diselenggarakan sebagai upaya memantapkan pelaksanaan kegiatan pertanian tahun 2008 sekaligus mengantisipasi permasalahan yang mungkin timbul. Pada forum ini disampaikan arahan-arahan umum kegiatan pertanian 2008, pembahasan rancangan kegiatan masing-masing daerah dalam sidang kelompok round-table. ‘’Peserta dibagi 11 kelompok persidangan.’’
Secara khusus, peserta membahas berbagai program unggulan seperti peningkatan produksi lima komoditas prioritas swasembada (padi 60-61 juta ton GKG, jagung 15,9-16,5 juta ton, kedelai 1,0-1,3 juta ton, gula 2,74 juta ton, dan daging sapi 372 ton); pengembangan usaha agribisnis pedesaan (PUAP), tindak lanjut Inpres No.2 tahun 2007 tentang Reklamasi dan Rehabilitasi PLG di Kalimantan Tengah dan Inpres No.5 tahun 2007 tentang Percepatan Pembangunan Papua.
Sementara itu, desain akselesasi pembangunan pertanian di lapangan ditempuh dengan cara: (1) menerapkan pendekatan satu desa, satu komoditas, satu penyuluh; (2) menyusun konsep perencanaan berdasarkan mastes-plan dan road-map; (3) melibatkan partisipasi berbagai komponen masyarakat; (4) fokus penanganan terhadap sejumlah komoditas strategis dan unggulan nasional; (5) sinergis seluruh potensi sumberdaya secara optimal; (6) memperkuat sistem monitoring dan database. (***)
RSS Blog
Tuliskan komentar Anda...