Arsip Jurnal
29 Jan, 08
SUARA HATI PETANI KEDELE
Ditulis oleh Webmaster

Menjadi petani kedele awalnya karena aku lahir dari keluarga petani kedele. Memanfaatkan lahan dan iklim yang sesuai dengan kebutuhan tanaman kedele merupakan tradisi lama turun temurun. Pilihan ini bagiku merupakan keputusan yang mulia, setingkat dengan dokter yang mengobati orang sakit, guru yang mencerdaskan rakyat dan pemuka agama yang menyebarkan ajaran-NYA. Aku berusaha menjadi pekerja keras, banting tulang, di terik matahari yang panas untuk mengemban tugasku. Dibawah terik matahari aku terus mengolah tanah, menanam dan merawat kedele yang nota benenya tanaman subtropis, yang tentu memerlukan teknologi yang tepat agar produktifitasnya masih bisa tetap tinggi walau ditanam di daerah tropis. Alhamdulilah dengan ketekunan dan sentuhanku, kedele dapat diselamatkan dari serangan hama dan penyakit yang jumlahnya sangat banyak. Juga dapat diselamatkan dari kondisi curah hujan yang sering tidak menentu dimana tanaman kedele ini juga rentan terhadap curah hujan tinggi. Aku merasa bahagia dan bangga, sekalipun secara ekonomi usaha taniku hanya pas-pasan. Menjadi kaya hanya angan angan, naik pesawat hanya impian, kalau makan cukup saja sudah bersyukur. Kepuasanku manakala, aku dapat berkontribusi menyediakan makanan sehat kegemaran saudara sebangsa dan setanah airku yaitu tempe, tahu, kecap dan tauco.
Saat panen raya, harga meluncur jatuh, aku hanya menangisi seorang diri. Jerih payah dan pengorbananku memang tidak sia sia, tetapi tidak mendapatkan penghargaan yang sepadan dari mitraku. Dalam pikiran sederhanaku, mengapa harga tahu dan tempe tidak pernah turun, tetapi harga kedele naik dan turun? Mungkinkah bahwa pengrajin tahu dan tempe sudah sangat bergantung kepada importir kedele sebagai akibat importir membanjiri produk sejenis dari impor sehingga harga kedeleku jatuh? Aku tidak peduli, mau pedagang dan pengrajin kedele mengimpor kedele dengan harga semu lebih murah, aku tetap bertanam kedele. Sekalipun produk kedeleku dicerca mutunya kurang baik, warnanya kurang bersih, harganya mahal, pasokannya tidak kontinyu, aku tidak peduli. Sekali berproduksi, tetap berproduksi, aku yakin pasti ada pengadilan yang paling tinggi, tidak bisa diintervensi, apalagi disogok.
Dalam kondisi tertekan, aku tetap tegas dan berprinsip: siapa yang menanam pasti memanen, siapa berbuat baik, maka merekalah yang akan memetik hasilnya kelak di kemudian hari. Bertahun-tahun prinsip itu aku pegang, sambil berusaha dan terus berdoa, agar nasibku dan keluargaku dimuliakan. Sekalipun aku didzolimi bertahun tahun, aku tidak pernah protes apalagi berdemo sampai istana. Selain tidak punya biaya, buang buang waktu, aku tahu diri, karena belum banyak yang aku bisa perbuat untuk negeri ini. Masak minta-minta terus, aku malu sekalipun rakyat miskin dan tidak mampu. Aku selalu tulus, berprasangka baik kepada siapapun termasuk kepada pedagang kedele dan pengrajin tahu tempe yang beberapa kali menjatuhkan harga kedeleku. Aku tetap, pasrah atas nasib setelah berusaha dan berdoa sesuai kemampuanku. Aku percaya sepenuhnya, bahwa di atas pengadilan, pasti ada pengadilan yang paling adil dan tidak dapat dipengaruhi atau diintervensi siapapun, apapun pangkat, posisi dan kekuatan finansialnya. Aku juga sadar bahwa kebanyakan masyarakat Indonesia masih miskin dan memerlukan pangan bergizi tinggi yang murah, pangan berbahan baku kedele adalah pilihannya.
Kesabaranku berbuah ketika tahun 2007, harga jagung melonjak akibat trade off dengan penggunaan bioenergi. Lahan potensial pertanaman kedele baik di Indonesia maupun di Amerika dialihkan menjadi lahan jagung. Pasokan kedele nasional turun, konsumsi tetap bahkan ada kecenderungan meningkat seiring dengan pertambahan penduduk, harga kedele impor melonjak tidak tertahankan. Pedagang, pengrajin tahu dan tempe menjerit dan panik, karena harga kedele melonjak melebihi ambang psikologis. Memanfaatkan jejaringnya, mereka membangun opini publik, protes, berdemo ke Istana Presiden dan DPR untuk memprotes kenaikan harga kedele dalam negeri, seakan hanya mereka saja selama ini yang terdzalimi, lupa jika petani kedele sudah jauh lebih lama terdzalimi. Bahkan, secara terbuka mereka mengancam mogok produksi sampai ada keputusan pemerintah untuk menurunkan harga kedele. Mereka lupa, kalau aku mogok juga, memang mereka bisa dan bakal jadi apa? Mereka lupa berpuluh tahun petani kedele tetap setia bertani dan tidak pernah mogok. Andai petani mogok satu musim saja, apa yang akan terjadi di negeri ini? Pemerintah terpaksa menurunkan bea masuk impor kedele untuk sedikit meringankan beban pengrajin tahu dan tempe. Pengrajin lupa, bahwa kondisi chaos ini merupakan produk resultante perlakuan mereka terhadap aku dalam waktu yang lama.
Tanpa disadari, mereka melupakan keringat petani yang sudah miskin dan tidak punya kemampuan untuk demo sekalipun. Mereka memanfaatkan, mahalnya harga komoditas strategis kedele untuk memperoleh perhatian dan dukungan masyarakat. Apalagi saat ini, tahu dan tempe merupakan makanan dengan spektrum konsumen luas dan fanatik, termasuk keluarga kaya, terdidik, perkotaan. Keresahan itu tanpa disadari terus di blow up dan dimanfaatkan oleh sebagian kalangan untuk mendiskreditkan pemerintah. Mereka hanya ingat nasib mereka saja, bagaimana dengan nasibku dan jutaan petani sepertiku? Mereka lupa bahwa untuk mendapatkan pangan bergizi yang murah itu diraih dengan mengorbankan nasib petani yang harus mendapatkan keuntungan yang sangat kecil dari hasil usahanya. Mereka tak sadar jika kedele impor yang murah itu bukanlah karena usaha pertanian di negara pengekspor (Amerika) lebih efisien tapi lebih disebabkan karena petani di negara tersebut disubsidi dan ekspor kedele mereka ke negara lain juga disubsidi dengan berbagai fasilitas yang mereka ciptakan. Andai subsidi itu tidak ada maka aku berani bersaing dengan mereka, sekarang terbukti, begitu lahan kedele mereka berkurang saja ternyata harga kedele mereka lebih mahal dari harga kedele yang aku hasilkan, apalagi jika subsidi yang mereka nikmati itu dicabut seluruhnya.
Belajar dari pengalaman pahit ini, maka aku menghimbau agar pengrajin tahu dan tempe serta pedagang kedele harus mau bermitra dengan petani kedele sepertiku. Mari saling bersinergi, saling menghidupi dan hubungan mutalistik ini harus kita jaga keberlanjutannya. Jangan silau dengan godaan kedele impor, karena harganya semu dan mungkin saja merupakan muslihat pihak asing untuk menghancurkan pengembangan kedele nasional, agar Indonesia selalu bergantung kepada negara maju tertentu. Jika para pengrajin tahu dan tempe membutuhkan kepastian usaha dengan harga kedele yang stabil dan terjangkau maka aku juga butuh kepastian usaha dengan harga kedele yang memberi keuntungan usaha yang layak bagi usaha budidaya kedeleku. Aku berharap para pengrajin tahu dan tempe serta pedagang kedele mau membuat kontrak denganku dan dengan petani petani kedele lainnya, agar apa yang aku usahakan ini mendapat jaminan pemasaran dengan harga yang layak. Mari perbaiki keadaan ini mitraku, agar azab yang lebih besar tidak datang lagi. Kalau itu terjadi, maka kita akan hancur bersama. Peringatan dan pelajaran dari kejadian akhir-akhir ini harus diambil hikmahnya, jangan sampai jatuh dan celaka pada masalah yang sama.
RSS Blog
Satu komentar untuk artikel ini. Tambah komentar
Pertama2 saran saya untuk posting tulisan ini dipisah intro dengan tulisan selengkapnya. Jadi tulisan per judul tidak terlalu panjang dan pembaca bisa memilih judul yang menarik.
Mengenai masalah pertanian saya juga prihatin bagaimana bangsa Indonesia yang katanya bangsa petani (Agraris) ternyata mengimpor sebagian besar produknya dari negara Industri seperti AS.
Sebagai contoh, kedelai 60% impor dari AS dgn nilai lebih dari Rp 12 trilyun per tahun. Belum lagi impor gandum yang mencapai 90% dari kebutuhan lokal.
Padahal jika pemerintah mau menganggarkan Rp 10 trilyun bagi 200.000 transmigran baru dan mereka disuruh menanam produk2 pertanian yang kita masih impor, niscaya lapangan kerja akan terbuka, kita mandiri di bidang pangan, devisa bisa dihemat, gejolak harga juga bisa diredam.
Silahkan baca “Beberapa Langkah Mengurangi Kemiskinan di Indonesia” di http://infoindonesia.wordpress.com untuk tulisan lengkap saya tentang ini.
Saya yakin pak Anton jujur dan ingin Indonesia mandiri di bidang pertanian. Tapi butuh kerjasama dgn menteri keuangan, menteri kehutanan, dan mentri transmigrasi agar proyek transmigrasi dan swasembada pangan di Indonesia bisa jalan.
Agus Nizami (January 31st, 2008 at 11:14 am)