Arsip Jurnal

Semua bergantung juga pada kita

Ditulis oleh Webmaster

Belum lama ini Food and Agriculture Organisation (FAO) meluncurkan perkiraan pangan dunia. Kita harus melihat apa yang dikemukakan oleh FAO itu sebagai general picture seluruh dunia, yang gambarannya memang demikian. 

Hal itu karena ada beberapa faktor. Pertama, perebutan antara pangan dan energi, yang sudah diketahui secara umum. Di sisi lain perubahan iklim sudah terjadi sekarang. Dengan perubahan iklim ini ada daerah-daerah yang kelebihan curah hujan dan ada yang kekeringan. Jelas, ini akan mempengaruhi produksi manakala juga iklim tidak mudah diprediksi, sehingga timbul statement seperti itu secara umum. 

Nah, akan tetapi, inti laporan yang lebih rinci dari FAO itu, dimana saya ikut dalam siding FAO yang terakhir ketika masalah itu dibicarakan, disebutkan bahwa yang mengalami pengaruh severe (berat) terjadi pada least developing country karena  ketidakmampuan mereka untuk meningkatkan produksi. Negara maju, tetap masih tertinggi dalam meningkatkan produksinya. Negara-negara berkembang cukup bagus. Nah, jadi kalau kita katakan krisis, kemungkinan, yang paling terkena dampak itu Negara-negara yang masih belum maju. Kedua, negara berkembang bisa terkena kalau tidak hati-hati. Ini gambaran umumnya.  

Sekarang, masuk ke Indonesia. Kita sebenanrnya punya dua sisi. Pertama, kalau kita tidak hati-hati, krisis itu bisa terjadi di Indonesia. Kedua, atau di  sisi lain, ini merupakan suatu peluang. Jadi antara ancaman dan peluang itu, sama besarnya. Artinya, kemungkinan terjadinya sama besar. Sekarang tinggal pandai-pandainya kita memanfaatkan situasi ini. 

Saya ingin bicara dari sisi peluang. Pertama, harga pangan dunia naik. Ini akan memberikan insentif yang sangat besar bagi petani-petani Indonesia untuk bisa lebih meningkatkan produksi dengan cara meningkatkan produktivitas dan ekstensifikasi. Harga pangan yang bagus ini merupakan dorongan yang luar biasa karena keuntungan petani meningkat dan dengan sendirinya diharapkan kesejahteraan petani juga meningkat. Contoh-contoh seperti itu sudah ada. 

Kemampuan kita meningkatkan produksi beras itu diantaranya didorong oleh harga beras yang cukup bagus sepanjang tahun. Retorika lama yang mengatakan harga gabah drop pada saat panen, itu tidak terlalu terjadi. Mungkin terjadi tapi sifatnya sangat lokal. Secara nasional harga selalu di atas harga pembelian pemerintah (HPP) rata-rata. Jadi itu membuktikan bahwa petani-petani kita sangat bergairah bertanam padi.  

Indikasi lain, makin banyak swasta-swasta yang masuk ke padi, yang sebelumnya hampir tidak pernah ada. Ini indikasi bahwa bisnis produksi padi itu sesuatu yang menguntungkan, yang menarik. 

Saya malah sudah menghitung, secara umum, angka rata-rata keuntungan bisa 100% dari modal dalam waktu sekitar tiga hingga empat bulan. Bisnis mana yang bisa menyaingi seperti itu? Saya selalu mengatakan kalau petani kita masih miskin, bukan bisnisnya yang tidak menguntungkan. Tapi, karena masalah lain seperti kepemilikan lahan yang sempit, mereka tidak punya modal, harus pinjam dulu, dan macam-macam. Tapi bisnis sendiri, luar biasa menguntungkan. 

Jagung juga demikian. Harga membaik, keuntungan membesar. Bahkan ada sedikit kekhawatiran dari kami. Jagung bisa menggeser padi seperti di beberapa tempat. Kenapa? Karena bisa lebih menguntungkan daripada padi, terutama jika menggunakan benih jagung hibrida yang potensi produksitifitasnya bisa mencapai 12 ton per hektar. Pemeliharaannya juga lebih sederhana, modalnya lebih rendah, tapi hasilnya lebih baik atau minimal sama dengan padi. 

Itu dari sisi harga. Dari sisi potensi, masih memungkinkan untuk meningkatkan produksi. Bukan hanya dengan jalan ekstensifikasi, tapi juga dengan jalan intensifikasi. Kalau kita lihat sebaran daerah yang didasarkan pada produktivitas, terlihat masih banyak terjadi ketimpangan. Secara umum, luar Jawa produktivitasnya masih rendah dibandingkan dengan Jawa. Di Jawa pun masih ada variasi. Apalagi di luar Jawa. Jadi, potensi meningkatkan produktivitas di luar Jawa jauh lebih besar dibandingkan dengan Jawa. Walau di Jawa pun masih memungkinkan untuk naik, apalagi berkembangnya varitas-varitas unggul. 

Kemudian, di luar Jawa, dan bahkan di Jawa sekalipun (khususnya di lahan sawah tadah hujan), itu masih banyak yang memiliki IP (Indeks Pertanaman) hanya 1 atau secara nasional masih 1,5-1,6. Bayangkan kalau kita naikkan menjadi dua saja secara rata-rata nasional. Secara nasional berarti ada kenaikan 0,4. Lalu kalikan dengan luas panen 12 juta hektare. Berapa? 4,8 juta hektare dan kalikan dengan produktivitas yang rata-rata 4.7 ton GKG/Ha. Berapa hasilnya? Bisa kita hitung sendirilah itu. Saya hitung minimal ada tambahan sekitar 10 juta ton beras. Bagaimana cara meningkatkan IP? Salah satunya dengan membangun dan memperbaiki irigasi. Kalau irigasi diperbaiki, dibangun, sawah-sawah menjadi sawah irigasi teknis semua. Itulah yang bisa menaikkan IP. 

Kemudian di luar Jawa, masih banyak yang satu kali tanam. Kalau irigasinya diperbaiki bisa dua kali tanam dalam setahun. Dari sisi lain, di Sumatra, Kalimantan, masih banyak daerah-daerah rawa pasang surut, rawa lebak yang bisa kita manfaatkan. Itu kita buktikan 2007. Bagaimana Sumatra Selatan bisa naik produksinya sampai 15%. Diantaranya dengan memanfaatkan rawa pasang surut. Jadi itu contoh-contoh gambaran bagaimana kita masih punya potensi. 

Belum lagi kita berbicara intensifikasi. Perbaikan varietas, yang kita lakukan, itu diantaranya yang menyumbang kenapa kita bisa menaikkan produksi. 

Kalau kita evaluasi tahun 2007, peningkatan produksi karena dua hal. Pertama, luas tanam. Kedua, karena peningkatan produktivitas. 

Kita menduga peningkatan produktifitas itu karena perbaikan varietas. Itu pun program bantuan benih kita baru lancar diakhir tahun, sehingga sebagian besar hasil program benih itu baru bisa kita peroleh tahun 2008.  

Namun, katakanlah pada 2007 perkiraan kita hanya 30% dari program benih kita yang terealisasi, yang menyumbangkan produksi di tahun 2007. Tapi, itu saja dampaknya sudah besar. Itu dari sisi padi, jagung potensinya juga sangat besar. Disamping  penggunaan benih jagung hibriada yang produktivitasnya tinggi, baru sekitar 30-an%. Kalau itu kita naikkan 70%, berapa besar dampaknya? 

Itu dari segi produktivitas. Dari segi eksistensifikasi luas tanam masih mungkin. Kita perhatikan saja secara kualitatif. Petani-petani kita masih banyak yang belum terbiasa menanam palawija di musim kemarau. Sawah-sawah banyak yang menganggur di musim kemarau. Ini suatu potensi. Mereka selalu menginginkan padi, padi, padi. Padahal kan tidak mungkin. Sawah tadah hujan kita masih cukup besar. Ini masih bisa kita manfaatkan untuk menanam jagung, sehingga rencana kita, kita akan memberikan benih jagung gratis di sawah-sawah tadah hujan di musim kemarau, yang masih memungkinkan sedikit air, tapi untuk padi tidak cukup.  

Itu kita baru bicara dua. Belum untuk bahan pangan yang lain. Itupun kita masih punya banyak potensi. 

Lalu bagaimana semua itu diakselerasi? Kita kembali pada hal yang mendasar, yang harus kita bangun, yang sering saya katakan, yakni Pancayasa. Ada lima hal yang harus dilakukan secara bersamaan. Pertama, infrastruktur harus dibangun, diperbaiki dan dipelihara. Kedua, penguatan kelembagaan petani. Saya baru saja berkunjung ke Banten, disana saya menyimpulkan bahwa memang kelembagaan ini masih sangat diperlukan. Kenapa? Ini karena struktur petani kita di tingkat desa itu ‘dikuasai’ oleh pemimpin-pemimpin informal, yang dalam bahasa sehari-hari disebut dengan tengkulak, rentenir, dll. Mereka ini ternyata juga betindak sebagai penyalur pupuk, benih, menyewakan lahan, dan lain-lain seperti meminjamkan modal. Semua itu dibayar setelah panen, hasil panen petani mereka serap tapi dengan harga yang relatif lebih rendah dari harga pasaran. Dengan Yarnen (dibayar setelah panen) sebetulnya petani rugi, sebagai contoh satu karung urea (50 Kg) seharga Rp 120,- dibayar dengan satu karung (50 Kg) gabah seharga minimal Rp 200,-. Ini sebenarnya titik kritis, sehingga kenapa petani kita sebagian besar masih miskin, karena ketergantungan kepada orang-orang seperti itu. 

Karena itu, untuk mengatasi masalah ini, program kita  adalah penguatan kelembagaan petani yaitu kelompok tani, gabungan kelompok tani, dan penumbuhan lembaga keuangan mikro di tingkat desa yang dikelola oleh petani sendiri. Kita harapkan lembaga keuangan mikro ini menjadi pengganti tokoh informal itu. Mau tidak mau harus seperti ini. Ketidakberdayaan petani terhadap akses sarana produksi dan modal akan berdampak pada produktivitas dan lainnya. 

Dengan ketersediaan modal yang memadai yang pengembaliannya ringan, petani bisa dikatakan mampu memproduksi secara optimal. Ketiga, penyuluhan. Ini juga sedang kita perkuat tahun-tahun terakhir ini. Orangnya ditambah, dana operasionalnya ditambah. Di samping juga program-programnya. Tetapi juga penyuluhan ini ternyata kita lihat di lapangan masih belum bergerak sesuai dengan yang kita harapkan. Contoh sederhana bagaimana pengetahun petani soal pemupukan, yang kita nilai masih belum sesuai anjuran. Ini berarti penyuluhan belum berjalan dengan baik, masih akan kita tingkatkan terus. Pemupukan yang tidak sesuai anjuran tentu berpengaruh pada produksi. 

Keempat, permodalan. Banyak petani kita yang kekurangan bahkan tidak punya modal dan jangan bicara perbankan apabila kita bicara petani kecil. Bank hanya menjangkau petani menengah atas dengan agunan dan persyaratan yang begitu rumit bagi petani kecil. Hampir tidak mungkin petani kecil dibiayai oleh bank. Bank mensyaratkan adanya agunan. Mereka tidak punya, sehingga kuncinya adalah lembaga keuangan mikro di tingkat desa, dimana modal awalnya dari pemerintah. Lembaga inilah yang memberikan modal kepada petani kecil dengan tanpa agunan. Inilah yang kita programkan dalam program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) untuk 10.000 desa miskin di Indonesia pada 2008. Dana satu trilyun telah disediakan untuk memodali 10 ribu lembaga keuangan mikro yang akan ditumbuhkan di 10 ribu desa dimana masing masing desa memiliki satu lembaga keuangan mikro dengan modal awal dari APBN sebesar Rp 100 juta per desa. 

Kelima, jaminan pemasaran, ini yang akan kita aktifkan dan kembangkan lagi, misalnya, pembelian yang dilakukan untuk Bulog. Kita akan lebih aktif lagi mendorong agar gabungan kelompok tani itu bermitra dengan Bulog supaya hasil mereka itu, jika harganya tidak bagus, bisa dijual ke Bulog. Kalau harga bagus, mereka bisa langsung menjual ke pedagang sampai ke tingkat wholesale market dimana para petani menjual secara berkelompok. Sebab, secara berkelompok lebih menguntungkan daripada sendiri-sendiri. Kelima hal itu yang akan kami lakukan secara simultan dalam upaya meningkatkan produksi pangan sehingga tidak hanya tercapai swasembada tapi juga mampu mengekspor pangan (net exporter), khususnya jagung yang ditargetkan mampu kita lakukan di tahun 2008 ini, insya Allah.

Tuliskan komentar Anda...

Tulisan terkait

Komentar Terbaru

  • M.Lafhaddin: Ass.Wr.Wb. Slamat buat Pak menteri dan jajarannya yang telah memberikan...
  • M.Lafhaddin: Ass.Wr.Wb. Pembangunan pertanian harus mulai dari kebutuhan petani, bukan kebutuhan...
  • Agus Nizami: Untuk membebaskan kembali sesuai harga beli pemerintah harus mengeluarkan uang rp...
  • Setyo Budi: Pendekatan yang dilakukan bapak menteri, menurut saya bijaksana. saya senang kalau...
  • Agus Nizami: Tambahan komentar dari saya (kok cuma saya ya yang kasih komentar…???:)...