Arsip Jurnal

MENYIASATI GEJOLAK PASOKAN DAN HARGA PANGAN*)

Ditulis oleh Webmaster

Demonstrasi pengusaha tahu dan tempe se Jabodetabek menuntut stabilisasi harga kedelai merupakan fenomena gejolak pasokan dan harga komoditas pangan yang harus diwaspadai dan dicari solusinya. Kenaikan harga kedelai beberapa kali dari Rp 3500 menjadi Rp 7500 selama tiga bulan terakhir memosisikan pengusaha pada ketidakpastian. Munculnya double pressure dari konsumen dan pemasok kedelai ini sangat mencemaskan. Penolakan konsumen akibat harga naik berkepanjangan dan kontraksi modal usaha akibat harga jual tahu dan tempe yang mengakibatkan tidak dapat digunakan untuk membeli kedelai pada proses produksi berikutnya menjadikan pengusaha harus nombok modal dalam waktu tidak terbatas. Cepat dan pasti situasi ini akan mendorong pengusaha tahu dan

tempe menuju jurang kebangkrutan. Dinamika fluktuasi pasokan dan harga komoditas pangan diprakirakan semakin sering terjadi karena terjadinya perubahan iklim yang mengakibatkan intensitas dan frekuensi bencana alam semakin meningkat, trade off kebutuhan pangan dengan energi serta persaingan penggunaan lahan antar komoditas akibat disparitas harga dan produktivitas. Turbulensi harga saat terjadinya musibah selain karena akibat kelancaran distribusi yang terganggu juga akibat spekulasi dan psikologis pasar akibat pemberitaan yang gegap gempita dan cenderung mengeksloitasi bencana tersebut sehingga seakan-akan seluruh Indonesia banjir dan ketahanan pangan terganggu, kamera televisi selalu menyorot sawah yang tergenang banjir tapi tidak diimbangi dengan menyorot sawah-sawah yang selamat yang jauh lebih banyak. Menajamnya persaingan penggunaan lahan untuk jagung dan kedelai akibat perbedaan pendapatan usaha tani dan kompetisi pemanfaatan minyak sawit untuk minyak goreng dan biofiul menjadikan titik equilibrium antara pasokan dan harga makin rentan goncangan. 
Liberalisasi perdagangan ASEAN 

Liberalisasi perdagangan ASEAN memosisikan Indonesia pada dua kondisi yang dilematis antara menjadi pasar produk pangan dari luar atau mengekspor produk pangan domestik ke pasar internasional. Kesulitan paling fundamental adalah masalah kuantitas, kualitas dan kontinyuitas serta harga dari produk kita yang kadang kurang kompetitif. Membanjirnya jeruk jenis tertentu di pasaran saat ini dengan kualitas lebih baik dan harga lebih murah dibandingkan produk lokal merupakan realitanya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Penyebab utamanya adalah biaya transportasi, sebagai contoh biaya transportasi dari Medan ke

Jakarta lebih mahal dibandingkan Bangkok-Jakarta akibat tingginya pungutan liar dan infrastruktur yang kurang menunjang serta belum adanya insentif transportasi produk pertanian. Semua pihak tahu, tetapi jalan keluarnya ternyata tidak sederhana, bagai lingkaran syetan. Kita harus mencarikan jalan jika petani sebagai tiang negara semakin tidak berdaya?Harus ada keberpihakan dalam menekan biaya produksi dan pemasaran produk pertanian termasuk tata niaganya agar daya saing komoditas pertanian semakin kuat. Hampir semua komoditas mulai bawang merah, wortel, tomat, mangga, jeruk, duku, telur, ikan, daging ayam secara periodik selalu mengalami tekanan harga luar biasa saat panen raya. Ironisnya, seringkali kita juga tidak berdaya menahan harga komoditas pangan saat pasokan dalam negeri menurun. Tragis memang, pertanyaan yang mengemuka, apa jalan keluar yang bisa kita lakukan agar masalah ini tidak berulang dan berulang?. Target dan komitmen  Kunjungan Presiden dan Wakil Presiden beserta Menteri terkait ke Departemen Pertanian pertengahan Januari 2008 untuk evaluasi kinerja program tahun 2007 dan rencana program 2008 merupakan momentum penting yang dapat dimanfaatkan untuk memecahkan gejolak pasokan dan harga komoditas pangan. Prestasi spektakuler pertama sejak 12 tahun terakhir dalam peningkatan produksi padi dan jagung masing masing 4.8% dan 14.4% yang dicapai tahun 2007 harus didukung stock management dan harga yang sehat. Target peningkatan produksi tahun 2008 untuk padi naik 5%, jagung 20% dan kedelai 20% harus didukung komitmen kuat semua pihak. Stimulan harga komoditas yang menarik, dukungan rehabilitasi dan pembangunan infrastruktur irigasi, pengendalian impor, subsidi pupuk, benih gratis, penyediaan modal dan reduksi losses secara sinergis, penyediaan sarana produksi pertanian tepat waktu, jumlah, kualitas, tempat harus dioptimalkan. Apalagi presiden telah menekankan bahwa program pemenuhan pangan dan kesejahteraan petani merupakan salah satu program utama Kabinet Indonesia Bersatu yang harus berhasil sekalipun mahal ongkosnya.Peningkatan produksi bahan pangan khususnya padi, jagung dan kedele akan membantu menyediakan bahan pangan yang terjangkau dan mengurangi ketergantungan kita kepada impor dan untuk kedele dapat mengurangi tekanan kenaikan harga kedele impor. Oleh karena itu menjadi penting terbentuknya kemitraan antara produsen pengguna kedele dengan petani kedele agar mereka saling mendukung agar mampu memproduksi kedele dalam jumlah yang cukup untuk kebutuhan didalam negeri. Hal ini sangat memungkinkan mengingat lahan pertanian kita masih cukup luas, mulai tersedianya benih benih kedele unggul dengan produktifitas yang relatif tinggi dan harga kedele yang menarik bagi usaha budidaya kedele dengan keuntungan yang layak. 
Format “baru” diversifikasi 

Pengendalian laju pertumbuhan penduduk dan diversifikasi pangan merupakan instrumen penting untuk mengurangi tekanan atas permintaan dan harga pangan. Perubahan mind set terhadap pangan seperti “belum makan sebelum makan nasi”, persepsi terhadap tiwul, nasi aking dan bahan pangan lainnya sebagai makanan orang miskin dan kelaparan mutlak harus dilakukan. Media harus berkontribusi positif dalam mendorong diversifikasi dan bukan sebaliknya menyudutkan pemerintah dan memperolok masyarakat yang memakan makanan pokoknya bukan nasi. Andai masyarakat tidak mampu membeli beras dan membeli tiwul sebagai pengganti karena lebih murah maka jangan dihina, itu malah bagus karena dapat mengurangi permintaan terhadap beras dan melakukan diversifikasi ke bahan pangan yang lebih murah dengan gizi yang tidak terlalu inferior, apalagi jika dikombinasi dengan bahan pangan yang bergizi tinggi seperti ikan dan sayuran. Diversifikasi melalui kombinasi gandum dengan bahan pangan lokal untuk menghasilkan pangan bergizi, terjangkau dan prestisius merupakan pilihan lain. Keunggulan gandum dalam hal kandungan gluten, gizi, harga, kegunaan, ketersediaan, dan daya simpan harus dapat diintegrasikan dalam merancang pangan berbasis kombinasi gandum dan bahan pangan lokal. Naiknya harga gandum di pasar dunia merupakan momentum dan entry point ideal untuk mendorong terbentuknya format baru diversifikasi tersebut. Peluang sudah tersedia, saatnya kita bangkit dengan pangan hibrid agar bangsa ini tidak masuk ke perangkap pangan.*** 

*)Dimuat Harian Kompas edisi 16 Januari dengan judul Gejolak Pasokan dan Harga Pangan

Tuliskan komentar Anda...

Tulisan terkait

Komentar Terbaru

  • M.Lafhaddin: Ass.Wr.Wb. Slamat buat Pak menteri dan jajarannya yang telah memberikan...
  • M.Lafhaddin: Ass.Wr.Wb. Pembangunan pertanian harus mulai dari kebutuhan petani, bukan kebutuhan...
  • Agus Nizami: Untuk membebaskan kembali sesuai harga beli pemerintah harus mengeluarkan uang rp...
  • Setyo Budi: Pendekatan yang dilakukan bapak menteri, menurut saya bijaksana. saya senang kalau...
  • Agus Nizami: Tambahan komentar dari saya (kok cuma saya ya yang kasih komentar…???:)...