Arsip Jurnal
23 Nov, 07
Laporan dari Roma: FAO Bertanggung Jawab Kurangi Kemiskinan Penduduk Dunia
Ditulis oleh Webmaster
ROMA - Masyarakat dunia hanya punya waktu 8 tahun saja untuk mengurangi separuh jumlah penduduk yang kelaparan. Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) bertanggung jawab untuk itu.
Demikian disampaikan Menteri Pertanian RI Anton Apriantono dalam pidatonya pada sidang Konferensi FAO ke-34 di kantor pusat FAO, Roma, pada 19/11/2007. Konferensi ini berlangsung seminggu, 17/11 - 24/11/2007, dihadiri oleh 192 negara anggotanya.
“Kita hanya tinggal punya waktu delapan tahun saja untuk mencapai target Millennium Development Goals (tujuan pembangunan milenium), yaitu terkuranginya separuh jumlah penduduk yang kelaparan pada 2015,” kata Anton, seperti disampaikan Atase Pertanian KBRI Roma Erizal Sodikin kepada detikcom kemarin malam atau Kamis pagi hari ini, 22/11/2007.
Pertanyaannya, menurut Anton, adalah apakah masyarakat dunia sudah pada jalur yang benar untuk tujuan tersebut?
Anton menegaskan bahwa sektor pertanian merupakan sektor yang berperan secara signifikan untuk mencapai tujuan itu. “Karena sektor inilah yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi sebagian besar negara berkembang,” tandas Anton.
Berkelanjutan
Dalam pidatonya Anton juga menyinggung tentang komitmen pemerintah Indonesia untuk membangun sektor pertanian secara berkelanjutan (sustain).
Sebagai produsen utama minyak sawit, Indonesia sangat perhatian dalam penerapan prinsip-prinsip dan kriteria yang menyangkut perkebunan sawit secara berkelanjutan. Oleh karena itu dia mengajak semua peserta konferensi FAO untuk lebih memperkuat hubungan kerjasama mencari solusi daripada saling tuduh satu sama lain.
“Pada konteks ini, FAO mempunyai peranan sangat penting,” tambah Anton.
Terkait dengan penanggulangan flu burung, Anton atas nama pemerintah dan rakyat Indonesia mengucapkan terima kasih kepada FAO atas dukungannya yang besar dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit ini di Indonesia. Berbagai tindakan telah dilakukan untuk memerangi penyakit ini, termasuk dibentuknya Pusat Pengontrolan dan Penanggulangan Penyakit Flu Burung pada level daerah.
Dalam kesempatan itu Anton juga menyambut baik beberapa rekomendasi yang dikeluarkan oleh tim evaluasi independen eksternal. Selain itu Anton juga mengajak semua anggota FAO bekerjasama untuk memformulasikan strategi terbaik dalam implementasi rekomendasi tersebut, sehingga memungkinkan FAO memprioritaskan program kerjanya secara lebih tepat dan bermanfaat. (sumber detik.com)
RSS Blog
2 komentar untuk artikel ini. Tambah komentar
Yth. Bapak Anton Apriyanto,
Bapak benar pertanian berperan penting dalam meningkatkan pertmbuhan ekonomi, pertanian bertanggung jawab atas terjaminnya terpenuhinya kebutuhan pangan masyarakat. Ironi sekali negeri negeri agraris ini petaninya sebagian besar berada di bawah garis kemiskinan. Kita harus segera mengatasi masalah ini. jika tidak generasi mendatang akan tetap kelaparan di ‘gudang beras’ ini. mari kita fokus untuk memperbaiki sistem pertanian kita.
Pak, kemarin pada kuliah agribisnis pangan ditampilkan profil sistem pertanian di karawang di bawah naungan sebuah KUD yang secara intensif melakukan perbaikan di sistem pertanian. semua subsistem terintegrasi dengan baik, hingga hasil pertanian mereka dapat menembus supermarket dan dilirik untuk eksport. Kenapa kita tidak meniru kesuksesan yang sudah dicapai Karawang dan menerapkannya secara agrerat dalam sistem pertanian kita?para petani kecil akan kesulitan jika mereka tercecer, sehingga harus terorganisir dalam suatu wadah yang mempunyai program berkelanjutan. wadah ini berupa Unit usaha yang terintegrasi dan profit orientid.hal ini akan mempermudah mereka untuk mendapatkan modal dan melakukan peningkatan kinerja produksi,ketahanan pangan akan lebih terjamin. dan masyarakat akan memandang pertanian sebagai sebuah bisnis yang menjanjikan. sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi jika hal ini dapat diterapkan dalam sistem pertanian kita. Smoga bapak berkenan mempertimbangkan pendapat saya, orang awam yang merasakan bagaimana rasanya kelaparan di gudang beras..
Terima kasih
Husnul Khotimah (November 29th, 2007 at 1:57 pm)
Di situs Dephut disebut bahwa 69,4 juta hektar dikuasai oleh 652 pengusaha dan BUMN.
Di sisi lain, banyak petani yang tanahnya kurang dari 0,5 ha dan tidak punya tanah hingga hanya bisa bekerja sebagai buruh tani. Padahal jika 69,4 juta hektar tanah itu dibagi secara adil melalui reformasi tanah/transmigrasi maka jutaan petani bisa mendapat tanah yang cukup untuk bertani sehingga bebas dari kemiskinan.
Kapan Departemen pertanian bekerjasama dengan Dephut dan Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi mengadakan reformasi tanah atau proyek transmigrasi seperti dulu untuk meningkatkan kesejahteraan buruh tani yang tidak punya tanah?
http://infoindonesia.wordpress.com/2007/10/30/tanah-untuk-rakyat-dan-keadilan-sosial/
Agus Nizami (November 30th, 2007 at 3:21 pm)