Arsip Jurnal

Mentan Canangkan Percepatan Swasembada Daging Sapi 2010

Ditulis oleh Webmaster

MATARAM – Menteri Pertanian Anton Apriyantono, Ahad (9/9) lalu, mencanangkan program percepatan swasembada daging bersama-sama 19 pemerintah daerah penghasil utama ternak di Indonesia. Acara tersebut berlangsung di komplek Balai Laboratorium Produksi dan Kesehatan Hewan di Desa Banyumulek Kecamatan Kediri Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.
Hadir bersama Mentan dalam acara tersebut Dirjen Peternakan Deptan Mathur Riyadi, Gubernur NTB Lalu Serinata, Kadis Peternakan NTB Abdul Muthalb serta para pejabat utusan 18 pemda yang menjadi sentra produksi peternakan di Indonesia. Upaya percepatan ini guna mengurangi defisit sapi potong dan daging yang setiap tahunnya mengimpor 450 ribu sapi dari Australia dan Selandia Baru.
Dalam arahannya, Menteri Pertanian Anton Apriyantono mengungkapkan keberhasilan swasembada daging sangat ditentukan oleh beberapa faktor. Pertama, semakin luas dan banyaknya usaha pembibitan sapi pedaging. Dengan makin banyaknya pembibitan dilakukan, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten di seluruh Indonesia, maka akan sangat mungkin menambah jumlah ternak yang ada.
Kedua, lanjut Mentan, adanya sinergi dan saling mendukung antara peternakan rakyat dan swasta. ‘’Peternakan rakyat dan swasta harus digalakkan, kalau kita memang mau mandiri,’’ tegas Mentan.
Dalam hal ini, Mentan mengakui bila masih ada keengganan pihak swasta untuk terjun ke bisnis peternakan ini. ‘’Memang harus diakui ada kendala dari pihak swasta terkait dengan persoalan permodalan. Pihak perbankan masih belum banyak yang tertarik untuk memberi kredit di sektor ini,’’ papar Mentan.
Oleh karena itu, Mentan menyebut pihaknya tengah mengupayakan adanya subsidi yang lebih besar lagi guna memacu usaha agribisnis di sektor peternakan, khususnya di bidang perbibitan. ‘’Kita sebenarnya sudah menyurati Menteri Keuangan terkait dengan hal ini. Namun, sampai sekarang belum ada respon dari beliau,’’ jelas Mentan.
Faktor ketiga, ungkap Mentan, adalah masih belum memadainya lahan penggembalaan bagi sapi-sapi yang dimiliki para petani dan pengusaha. Karenanya, menurut Mentan, pihak pemerintah daerah perlu mengalokasikan lahan-lahan tidurnya untuk menjadi lahan penggembalaan. ‘’Di sini memang perlu sekali kita memberdayakan potensi lokal guna  mengatasi persoalan tersebut,’’ ujar Mentan.
Menurut Mentan, kendati swasembada tercapai namun tak mungkin kran impor ditutup rapat-rapat. ‘’Dalam perdagangan global seperti sekarang ini, tak mungkin kita menutup arus masuknya ternak dari negara lain ke negeri kita. Apalagi, kita masih membutuhkan sapi-sapi bakalan yang menjadi sumber dari bibit sapi kita,’’ jelas Mentan.
Dengan pertimbangan itu, Mentan memperkirakan saat swasembada tercapai sesungguhnya Indonesia masih membutuhkan impor yang jumlahnya, kurang dari 10 % dari kebutuhan nasional.
Saat ini, populasi ternak sapi dan kerbau di seluruh Indonesia mencapai 10,5 juta ekor. Setiap tahunnya, tak kurang dari 220 ribu ekor dipotong guna memenuhi konsumsi daging penduduk Indonesia.
Sementara dalam laporannya, Kepala Dinas Peternakan Nusa Tenggara Barat (NTB) Abdul Muthalib mengemukakannya, pelibatan 18 daerah sentra produksi utama ternak sapi se Indonesia bersama NTB dimaksud sebagai langkah strategis dalam mengurangi ketergantungan impor. ‘’Ini dilakukan agar kalau pun impor pun hanya lima persen saja,” ujarnya.
NTB berada di urutan lima nasional dalam produksi ternak sapi dan kerbau. Dalam setahunnya produksi sapi dan kerbau mencapai 110 ribu ekor yang terdiri 78.000 ekor ternak potong dan 32.000 ekor ternak bibit. Kelebihannya, 34.740 ekor sapi dan 9.965 ekor kerbau  dikirimkan ke 10 propinsi di Indonesia mulai dari Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku, Jambi, Jawa Timur, Jawa Barat dan DKI Jakarta. Terbanyak dikirim ke Kalimantan dan seluruh transaksi ternak NTB nilainya Rp1,089 triliun setahun. Adapun populasi ternak sapi di NTB mencapai 481.376 ekor, kerbau 156.000 ekor, kambing 355.000 ekor. (***)

6 komentar untuk artikel ini. Tambah komentar

  1. Pak, perkenalkan Saya seorang petani organik & peternak di mana membaca sebuah berita sebagai berikut:

    Sumber Berita:
    http://www.mediaindonesia.com/berita.asp?id=143634

    *RI Bidik Pasar Organik*
    Penulis: Asep

    JAKARTA–MIOL: Departemen Pertanian memprediksi pasar pangan organik dunian
    akan mencapai USD100 miliar di 2010. Namun, dari pangsa pasar sebesar itu,
    kontribusi Indonesia masih sangat kecil.

    “Tahun 2003, pasar global organik hanya USD27 miliar yang bagian terbesarnya
    berada di Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang. Namun, yang menarik untuk
    diamati ialah pertumbuhannya yang sangat cepat,” kata Menteri Pertanian di
    Jakarta, Kamis.

    Menurut Anton, negara yang paling besar menikmati pasar organik ini ialah
    Thailand. Tahun 2002 pasar pertanian organik negeri Gajah Putih ini baru
    mencapai USD9,4 juta. Angka ini meningkat pesat dalam tiga tahun hingga 145%
    atau menjadi senilai US$23 juta. Setelah pertumbuhan tersebut, Thailand
    selalu menikmati pertumbuhan sebesar 30%.

    Sedangkan di Indonesia, Anton mengatakan potensinya sangat besar bahkan saat
    ini, trennya mulai meningkat. Hal ini ditandai dengan meningkatnya lahan
    organik bersertifikat menjadi 21,7 ribu hektare pada 2005. Padahal,
    sebelunya lahan organik ini hanya mencapai 2.100 Ha. “Peningkatan ini juga
    bisa dilihat dari banyaknya petani organik, LSM, dan praktisi yang
    berkecimpung di pertanian organik,” jelasnya.

    Untuk membantu pengembangan sektor ini, Anton mengatakan, pemerintah akan
    meningkatkan promosi pangan organik. Selain itu, pemerintah juga mneyiapkan
    skema subsidi untuk pupuk organik. Program ini akan diawali tahun depan
    dengan alokasi pupuk 200 ribu ton. Pemerintahpun telah mengeluarkan Standard
    Nasional Indonesia (SNI). Standard ini tidak diberikan pada produk tapi pada
    pelaksana atau sistemnya. (Toh/OL-1)

    Bilamana boleh menyarankan:
    Pak, bagaimana untuk pengadaan pupuk organik dikembangkan juga sektor usaha peternakan. Jadi keduanya saling bersinergi, Integrated Farming System. Hasil survey yang pernah dilakukan, 64% petani menyatakan Pupuk Organik sulit didapat dipasar, 60% petani menyatakan tidak yakin efektivitasnya dan 59% petani menyatakan mutu tidak terjamin.

    Salam.

    Agus Ramada S.

    http://www.dombagarut.blogspot.com
    http://www.organicindonesianvanilla.blogspot.com

    Agus Ramada Setiadi (September 20th, 2007 at 10:22 pm)

  2. Assalammu’alaikum Wr Wb

    Bapak Menteri yang saya hormati,
    Saya aktivis organisasi non pemerintah WAMAPI (Wahana Masyarakat Agribisnis Peternakan Indonesia).
    Saya menaruh hormat dengan program swasembada daging sapi yang bapak canangkan,alangkah lebih baiknya program ini direvisi dari segi waktu ataupun konsep dari definisi swasembada itu sendiri.
    Saya menyarankan coba kita ganti dengan kata swasembada dengan kata kecukupan karena secara realistis kondisi perbibitan sapi potong kita tidak menggambarkan untuk tercapainya swasembada apalagi surplus.
    Saya sarankan mulai dari pembenahan sistem perbibitan sapi potong dulu, karena itu kata kunci dari program ini.
    Maju terus Pak, saya berharap bapak dapat mewujudkan program ini tidak harus 2010, mundur tidak apa2 asal realistis dan disertai rasionalisasi dan argumentasi yang secara ilmiah diterima
    Terimakasih

    Wassalammu’alaikum Wr Wb

    Galih Sudrajat (September 27th, 2007 at 4:35 pm)

  3. Maaf pak satu lagi pak, saya ingin sekali berdiskusi banyak dengan bapak tentang pembangunan peternakan di negeri ini
    Jika bapak tidak keberatan kita bisa saling tukar informasi di email saya:ahoii_38@yahoo.com.

    Galih Sudrajat (September 27th, 2007 at 4:47 pm)

  4. BismillaahirRahmanirRahim

    Assalamu’alaikum warahmatullaah wabarakatuh.

    Pak Anton yang saya hormati,
    Semoga Allah selalu memberikan kesehatan, kebijaksanaan dan ketaqwaan kepada anda.

    Saya mempunyai sebuah usaha kecil tanaman hias, yang dengan segenap tenaga saya ingin mengimpor tanaman hias dari amerika serikat, tentunya biaya yang dibutuhkan sangatlah besar. Untuk itu kami beserta teman-teman dan saudara usaha patungan.

    Kami berusaha untuk mentaati peraturan yang berlaku di Indonesia, yaitu dengan Phitosanitary Certificate dan Surat Ijin Menteri.

    Saya berasal dari solo, dan memberikan kuasa kepada saudara saya “Heru” untuk mengurus surat-surat. Kami mohon bapak menteri memudahkan bagi kami untuk mendapatkan surat ijin tersebut tanpa ada halangan. dan Tanpa ada pungutan yang tidak dibenarkan.

    BarakAllaahu fikh.

    Semoga Allah selalu melindungi bapak dan keluarga.

    Wassalamu’alaikum warahmatllah

    Dina Istofa (September 28th, 2007 at 11:55 am)

  5. assalamu’alaikum.
    untuk swasembada ternak bapak bisa sinergikan dengan perusahaan perkebunan sawit yang merupakan dibawah kendali departemen bapak. sapi tersebut digembalakan di perkebunan sawit untuk membersihkan lahan dari rumput liar dan memberikan pupuk bagi pohon sawit.

    yusuf arhakim (October 8th, 2007 at 12:02 pm)

  6. Yth. Pak Anton Apriyantono

    Saya adalah mahasiswa Ilmu dan Teknologi Pangan IPB, meskipun begitu, saya sangat tertarik di dunia peternakan. Pak, jikalau kita berbicara tentang ketahanan pangan dan bila dihubungkan dengan swasembada daging, maka yang spektrum utama yaitu ketahanan pakan.

    Sulit sekali mengembangkan peternakan di Indonesia sedangkan untuk memenuhi kebutuhan pakan saja kita harus impor. Sebuah solusi dari saya dan teman-teman saya dari Fakultas Peternakan IPB adalah konversi dan pemanfaatan pakan yang telah ada dengan silase dari sampah organik. Silase ini bila dikombinasikan dengan pakan hijauan biasa dengan formulasi 50:50 akan meningkatkan perkembangan ternak.

    Silase ini, selain menanggulangi masalah kebutuhan pakan, juga merupakan solusi pemanfaatan sampah yang menjadi masalah lingkungan hidup. Sampah yang digunakan adalah sampah primer berupa sayur-sayuran dari pasar. Hal ini akan mengurangi volume sampah organik di TPA yang mencapai 79% dari total sampah. Ditambah lagi bahan baku yaitu sampah mudah didapatkan dari pasar-pasar yang harganya sangat-sangat murah, berpotensi memngkas biaya pembalian paklan sampai 50%.

    Saya dan teman-teman telah menciptakan sebuah produk biostarter untuk membuat silase dari sampah organik. Produk kami bernama SOLLU-1. Sayangnya kami memiliki hambatan untuk mengembangkan usaha kami pak, terkait dengan kurangnya sosialisasi dan distribusi. Padahal, saya sangat optimis bila silase ini dapat digunakan oleh seluruh peternakan di Indonesia, masalah pakan setidaknya muali teratasi.

    Saya sangat berharap Departemen Pertanian dapat melirik program kami ini. Kami baru akan berencana mengadakan pelatihan pembuatan silase di Rumah Kompos Mawar Depok, tahun depan, itupun bila PKM kami diloloskan DIKTI. Harapannya, dengan visi bersama mengembangkan peternakan Indonesia, Bapak dapat membantu kami menyosialisasikannya pada masyarakat. Ini merupakan salah satu karya kami, kami mempersembahkannya untuk pertanian Indonesia..

    Hidup Mahasiswa
    Hidup Pertanian
    Hidup Masyarakat Indonesia

    Palestina Santana

    Palestina Santana(ITP43-IPB) (October 15th, 2007 at 2:35 pm)

Tuliskan komentar Anda...

Tulisan terkait

Komentar Terbaru

  • Agus Nizami: Hal ini meski kita syukuri. Di sisi lain kita juga harus terus berusaha agar hari...
  • M.Lafhaddin: Ass.Wr.Wb. Slamat buat Pak menteri dan jajarannya yang telah memberikan...
  • M.Lafhaddin: Ass.Wr.Wb. Pembangunan pertanian harus mulai dari kebutuhan petani, bukan kebutuhan...
  • Agus Nizami: Untuk membebaskan kembali sesuai harga beli pemerintah harus mengeluarkan uang rp...
  • Setyo Budi: Pendekatan yang dilakukan bapak menteri, menurut saya bijaksana. saya senang kalau...