Arsip Jurnal

Presiden dan Mentan Panen Bersama Padi SRI

Ditulis oleh Webmaster

Ada satu terobosan besar yang dilakukan pemerintah, pengusaha dan kalangan petani, awal pekan ini di Cianjur, Jawa Barat. Kolaborasi pemerintah yang diwakili Deptan dengan pengusaha lewat Medco Foundation serta para petani yang dibina Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS), dan Yayasan Aliksa Organic, membuahkan hasil yang menjanjikan guna meningkatkan ketahanan pangan bangsa ini. Apalagi hal itu ditandai dengan kehadiran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat melakukan panen perdana padi pola intensifikasi atau SRI (system of rice intensification) di Desa Bobojong, Mande, Cianjur, Jawa Barat. Metode penanaman padi dengan pola intensifikasi atau SRI, kendati bukan teknologi baru, namun terbilang baru dimanfaatkan para petani

Indonesia di beberapa tempat salah satunya di Cianjur, Jawa Barat ini. Dalam kesempatan panen, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajak kalangan petani, perbankan, pengusaha, dan pemangku kepentingan di bidang pertanian untuk terlibat mengembangkan metode penanaman padi dengan pola intensifikasi ini secara luas. Pengembangan tanam padi dengan metode SRI, kata Presiden adalah contoh nyata mengoreksi gerakan revolusi hijau, yaitu upaya meningkatkan produksi padi yang bertumpu pada pupuk kimia. “Dengan SRI, peningkatan produksi padi untuk mendorong peningkatan kesejahteraan petani tercapai, masalah ketahanan pangan dapat diselesaikan, tetapi caranya tanpa merusak lingkungan,” kata Yudhoyono.

Metode SRI juga menghemat air. Hal ini penting mengingat ketersediaan air, khususnya di Pulau Jawa yang kini memprihatinkan. Mengingat pola tanam yang bersahabat dengan lingkungan, pada kesempatan itu, Presiden SBY malah mengusulkan tambahan nama environment friendly pada SRI sehingga menjadi system of environment friendly rice intensification (SEFRI). “Ini sekadar usulan saja.”

Menteri Pertanian Anton Apriyantono mengungkapkan, metode SRI tepat diterapkan di Indonesia di tengah persoalan lahan. Lahan terus menyempit akibat laju alih fungsi yang tak terkendali. “SRI merupakan contoh meningkatkan produksi beras dengan inovasi teknologi pertanian,” katanya.

Metode SRI, tambah Mentan, bisa menjadi pilihan teknologi yang menarik karena beberapa hal. Pertama, ada efisiensi penggunaan input benih dan penghematan air. Kedua, mendorong  penggunaan pupuk organik. Dengan demikian, bisa menjaga bahkan merehabilitasi kesuburan tanah, selain tentu saja mengurangi ketergantungan pada pupuk anorganik.Penggunaan pupuk organik, lanjut Mentan, memberi nilai tambah tersendiri. Padi/beras organik lebih sehat, karena itu bisa dihargai lebih tinggi.

Ini dibenarkah oleh Solihin GP, sesepuh Jawa Barat yang juga Ketua Dewan Penasihat DPKLTS. Secara khusus, Solihin minta kepada Presiden agar membuat kebijakan yang menguntungkan petani organik. “Kami para petani tolong dibantu, difasilitasi untuk bias mengekspor beras ke luar negeri.”

Di Singapura, kata Solihin, beras organik dihargai sampai Rp 50.000 per kg. Solihin meminta pemerintah mencarikan pengusaha yang bisa memasarkan beras produk SR agar ada jaminan harga bagi petani.“Kami tak minta muluk-muluk. Petani hanya minta  padi organik diserap dengan harga Rp 4.500 per kg. Selanjutnya terserah pedagang dan eksportir mau dijual berapa di luar negeri.”

Chairman Medco Foundation Arifin Panigoro mengungkapkan, pengembangan padi SRI merupakan peluang usaha menjanjikan. Beras organik harganya mahal dan bisa mendorong peningkatan kesejahteraan petani. Setelah berhasil melakukan uji coba penanaman SRI di lahan 7,5 hektar, Medco Foundation berniat akan memperluas lahan penanaman SRI, konsep kemitraan dengan petani dan perbankan di lahan 10.000 hektar dengan anggaran Rp 100 miliar.

17 komentar untuk artikel ini. Tambah komentar

  1. Ass. Wr. Wb.
    Pertama, saya menyambut gembira dengan blog-nya Pak Anton. Semoga bisa bermanfaat dan dimanfaatkan oleh semua kalangan yang berkepentingan dengan kemajuan pertanian Indonesia.

    Selanjutnya soal SRI… wah itu baru bagus dan terus didukung, dikembangkan, diperluas, dst. sehingga bisa memacu produksi padi dalam negeri. Saya salut dengan pihak-pihak yang memelopori aplikasi dan implementasi metode ini.

    Tapi saya masih punya pertanyaan yang mengganjal, yaitu :
    1. Apakah benar kapasitas (out-put) produksinya sebesar itu?
    2. Kalau mau dikembangkan secara luas, kira-kira ada kendalanya tidak? Sebagai contoh, untuk penggunaan pupuk organik (kompos) saja bila akan diaplikasikan secara luas akan dibutuhkan dalam jumlah besar sekali. Bagaimana mengatasi ini?
    3. Kalau alamat Yayasan Aliksa dimana ya ?

    Bagaimanapun saya gembira dengan perkembangan ini.
    Bravo Pak Anton… bravo petani… bravo beras murah..

    Wassalam,

    Ismail (August 6th, 2007 at 12:55 am)

  2. ass.wr.wb
    langsung saja ya pak,benarkah penanaman padi dengan metode SRI, hasilnya sebegitu besarnya? saya di kediri hasil padi disini tidak sampai segitu,tolong kasih tahu cara metode SRI itu untuk masyarakat kediri khususnya kecamatan mojo.Terima kasih atas perhatiannya,kami tunggu jawabannya.

    wassalam.wr.wb

    baskoro (August 8th, 2007 at 9:55 am)

  3. ass.wr wb.kepada bpk mentan kami petani purwoasri kediri pernah menerapkan sistim sri dan hasilnya cukup signifikan yang saya belum paham apakah jenis hibrida bisa diterapkan dari anto petani blawe terimakasih

    anto (August 17th, 2007 at 5:52 pm)

  4. ass wrwb.kepada bpk mentri pertanian sayapetani desa blawe ,kediri pernah mencoba pola sri dan hasilnya sangat menarik.hambatan didaerah kami soal kesadaran masyarakat.dan hasil panen kami terimakasih

    ANTO (August 21st, 2007 at 5:59 pm)

  5. Kami sungguh menyambut gembira dan ‘fantastic’ bagi pengembangan pertanian organik di Indonesia atas campaign yang dilakukan oleh Bapak Presiden dan Menteri Pertanian, juga atas prakarsa Bapak Arifin Panigoro dalam pengembangan padi organik SRI.
    Namun masih banyak pekerjaan rumah yang semestinya dipersiapkan untuk menuju pengembangan pertanian organik di Indonesia, khususnya oleh pak Anton, antara lain :
    - Tim penyuluh lapangan di bidang pertanian organik
    - Lembaga sertifikasi dan produsen pertanian organik
    - Pelatihan bagi produsen dan juga bagi inspektor
    - Infrastruktur, seperti irigiasi, ternak, soil, distribusi dan pemasaran dan hal lain yang berkaitan dengan pengembangan pertanian organik.
    Sekali lagi, semoga pretanian Indonesia jaya !

    purbo winarno (August 27th, 2007 at 4:59 pm)

  6. Salam Sejahtera Pak Anton!

    Saya bukan mau mengomentari artikel diatas pak, tapi ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan. Perkenalkan nama saya Houtmand Saragih, wartawan majalah wartaekonomi. Begini pak, setelah saya amati ternyata ada beberapa pejabat kita yang punya blog. Saya pikir ini tren baru (sebatas pengetahuan saya). Kebetulan saya juga sedang menulis artikel soal tren pejabat ngeblog ini pak. Saya penasaran dan jadi ingin bertanya (biasalah pak wartawan).
    1. Apa latar belakang Anda membuat Blog seperti ini?
    2. Siapa yang menginspirasi Anda untuk membuat blog?
    3. Sudah lama kenal dengan dunia blog, Pak?
    4. Apakah blog ini Anda tulis sendiri?
    5. Kalau ada tanggapan dari para pembaca atau blogger lainnya apakah langsung di respon?
    6. Apakah konten blog memang harus berisi tulisan-tulisan yang berkaitan dengan tugas Anda sebagai menteri pertanian?
    7. Apakah pernah membayangkan seorang petani membaca blog ini dan kemudian dia memberi komentar?
    8. Siapa sasaran pembaca blog anda?
    9. Banyak blogger yang menuliskan pengalaman pribadinya dalam blog, apakah anda tidak melakukan hal yang sama?

    Maaf pak kalau pertanyaannya terlalu banyak, tapi saya harap ada jawaban. Mungkin bisa dikirim di email saya di houtmand@wartaekonomi.com. Terimakasih Pak!

    Salam,

    Houtmand P Saragih

    Houtmand (August 28th, 2007 at 12:07 pm)

  7. Inilah saatnya yang sangat diharapkan bagi para petani. Sebetulnya Metode SRI sudah diucicoba di Sukamandi yaitu tepatnya di BB Padi tetapi kenapa sampai saat ini para petani yang tinggal khusunya di daerah kec. Ciasem, Binong - Subang, sendiri belum diaplikasikan. Oleh karena itu saya mohon bantuan Bapak kirannya dapat memberikan bimbingan dan penyuluhan kepada kepada saudara2 saya yang berada di sana khusunsnya di desa Tegal Panjang dan Kalihurip dan sekitarnya.
    Terima kasih
    Soim Ramadhan
    Jl.Delimajaya V No.55 Rempoa -Ciputat 15412 rt.03/02
    Tangerang - Banten asal dari Subang.
    untuk menghubungi saya di 08151671764

    SOIM RAMADHAN (August 29th, 2007 at 3:12 pm)

  8. Saya sangat setuju sekali dengan methoda System of Rice Intensification ini. Methoda ini akan meningkatkan hasil padi 0,5 sampai 1 kali lipat.
    Saya sangat senang sekali kalau pak Mentri Pertanian Indonesia secara pribadi sudah mensosialisasikan methoda ini di Blognya. Saran saya system ini perlu di aplikasikan pada tahap kebijakan dan undang-undang pak. Karena methoda ini benar-benar metoda yang bagus dan merupakan sistem pertanian berkelanjutan. Pak menteri perlu berangkali membekali PPL yang ada di seluruh indonesia dengan sistem ini sehingga sistem ini dapat tersebar dengan cepat kepada petani. Saya secara pribadi sudah mencoba sistem ini di lahan milik saya dan pada panen perdana memberikan hasil 65 % diatas cara konvensional.
    Salam
    Hendra Rinaldi

    Hendra Rinaldi (August 31st, 2007 at 4:48 pm)

  9. Assalamu’alaikum wr.wb.
    Puji syukur kepada Tuhan ternyata Indonesia masih diberi kesempatan untuk dapat berswasembada beras melalui Padi SRI. Kebetulan istri saya pada awal tahun 2007 ini mengikuti seleksi penerimaan Tenaga bantu Penyuluh Pertanian dan sering mendapat informasi dari teman-temannya di Purbalingga bahwa pemerintah melalui deptan meluncurkan proyek penanaman padi dengan SRI. Kami yang di Wonogiri kapan bisa ikut berpartisipasi melakukan penanaman padi dengan SRI tersebut serta tolong untuk dibrikan petunjuk bagaimana proses dan cara-cara penanaman padi dengan SRI tersebut karena kami berencana akan melakukan demplot padi dengan SRI. Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    Gunawan Wibisono (September 1st, 2007 at 10:36 am)

  10. Pak Anton tolong kami diberitahu cara-cara dan proses penanaman padi dengan SRI, terima kasih.

    Gunawan Wibisono (September 1st, 2007 at 10:49 am)

  11. assalamu’alaikum wr. wb. pak anton. saya dari mahasiswa pertanian unoversitas jenderal soedirman purwokerto, menyampaikan apresiasi sebesar-besarnya kepada pemerintah dalam rangka pengembangan SRI, mudah-mudahan dapat menjadi alternatif menjawab permasalahan ketahanan pangan nasional. saatnya melestarikan alam!!! sukses buat bangsa kita tercinta! wassalamu’alaikum wr. wb

    riki (September 13th, 2007 at 2:01 am)

  12. Ass.War.Wab. Kebetulan pak saya adalah pengembang SRI organik di Daerah Irigasi Dataran Flores. Hasil dari Demplot yang kami lakukan memberikan hasil yang significant dengan pola konvensional. Hal ini harus didukung oleh kebijakan pemerintah yang harus membatasi pemberian subsidi kepada pertanian Anor ganik dan mengarahkan subsidi pada pertanian organik seperti pengadaan mesin kompos, sehingga petani ada minat terhadap pembuatan kompos.

    M.Lafhaddin (October 3rd, 2007 at 9:45 am)

  13. Ass.Wr.Wb

    Bapak Mentan yg terhormat…saya turut bangga atas kinerja deptan saat ini yang terus aktif dalam menggulirkan program pertanian, salah satunya P2BN, namun pendekatan peningkatan produksi padi dg metode SRI menurut hemat saya yg awam, perlu hati2.
    SRI yg berbasis organik sangat memerlukan ppk organik dg volume tinggi sekitar 10 t/ha. Sementara hasil yg diperoleh berdasarkan temuan saya tdk lebih dr 5 t/ha GKP. Dari sini saja peningkatan biaya produksi utk ppk organik ( @ Rp 1,000/Kg = Rp 10 jt/ha), blm lagi kendala bhn baku. Hemat saya pendekatan SRI perlu dilakukan secara bertahap. Pilihan mensubsidi ppk organik pun kurang tepat, karena akan melahirkan ppk2 organikan aspal yg kualitas mutunya tidak dpt dipertanggungjawabkan.

    Bpk menteri yg terhormat, dengan adanya pembangunan pertanian yg ramah lingkungan tidak berarti kita memenafikan penggunaan pupuk kimia, jg sampai produsen ppk organik melakukan black campaign trhdp ppk anorganik. Kemudian promosi penggunaan ppk organikpun (POC) perlu dilakukan dan diarahkan agar proporsional, searingkali kita dengar petani seolah-olah dibodohi bahwa ppk organik tersebut dpt menggantikan fungsi ppk kimia, shg penggunaan ppk kimia bisa 0 %. Hal ini sangat menyesatkan krn fungsi utama ppk organik bukanlah pemasok hara bagi tanaman, tapi lebih kepada memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah agar lebih optimal sebagai media tumbuh tanaman.

    Demikian komentar saya, mohon maaf atas segala kekurangan…

    Semoga Alloh SWT merahmati ikhtiar kita bersama…

    Wassalam Wr. WB

    doedy (November 19th, 2007 at 10:21 pm)

  14. Tempat Training Centre ALIKSA ORGANIC SRI Consultant :

    Kampung Cipetir, Desa Nagrak
    Cibadak Sukabumi
    (dari Ciawi sebelum pasar Cibadak belok kiri)

    Lebih lengkapnya hub 0811 840 856 dgn Bp. Jatika

    Salam

    Rian (December 5th, 2007 at 12:26 pm)

  15. Yth. Pak Anton,
    saya sangat tertarik dengan metoda SRI ini, mohon dapat dikirim panduannya, saya akan mencoba untuk mengaplikasikannya.
    Terima kasih.

    Frieda (January 15th, 2008 at 8:24 am)

  16. Ass.Wr.Wb. Pembangunan pertanian harus mulai dari kebutuhan petani, bukan kebutuhan pejabat sehingga menjadi penjahat. Usahakan pejabat dapat menjadi contoh bukan hanya memberi contoh, coba turun ke desa dan coba bertani sehingga dapat mengetahui betapa parahnya pertanian kita yang sangat tertinggal dengan IPTEK yang berkelanjutan. banyak Program Pemerintah hanya bersifat menghabiskan uang negara, dampaknya tidak pernah dievaluasi dan hanya atas nama petani yang akhir-akhirnya menjadi korban pembangunan. Saya sangat salut dengan Pak Menteri yang punya gebrakan segudang dan dapat menjadi contoh seorang menteri yang bersih dan sederhana dan bersahaja seperti petani yang bersahaja hidup di desa.

    M.Lafhaddin (June 1st, 2008 at 3:05 pm)

  17. Ass.Wr.Wb. Slamat buat Pak menteri dan jajarannya yang telah memberikan produktivitas semangat petani dan masyarakat peduli pertanian untuk tetap eksis dibidangnya. Pengembangan pertanian yang komparatif dapat meningkatkan kompetitif yang positif bagi petani, terutama dalam pengembangan produksi yang organik.

    M.Lafhaddin (October 27th, 2008 at 2:59 am)

Tuliskan komentar Anda...

Tulisan terkait

Komentar Terbaru

  • M.Lafhaddin: Ass.Wr.Wb. Slamat buat Pak menteri dan jajarannya yang telah memberikan...
  • M.Lafhaddin: Ass.Wr.Wb. Pembangunan pertanian harus mulai dari kebutuhan petani, bukan kebutuhan...
  • Agus Nizami: Untuk membebaskan kembali sesuai harga beli pemerintah harus mengeluarkan uang rp...
  • Setyo Budi: Pendekatan yang dilakukan bapak menteri, menurut saya bijaksana. saya senang kalau...
  • Agus Nizami: Tambahan komentar dari saya (kok cuma saya ya yang kasih komentar…???:)...