Arsip Jurnal
13 Jun, 07
Pemerintah akan Paksa Swasta Dalam Negeri Produksi Benih
Ditulis oleh Webmaster
Pemerintah akan memaksa swasta di dalam negeri untuk bisa memproduksi sendiri benih berbagai tanaman dalam waktu dua tahun mendatang, sehingga “Langkah pemaksaan ini dilakukan untuk melepaskan ketergantungan benih. Kalau tidak ada paksaan bisa bertahun-tahun mengandalkan luar negeri,” kata Menteri Pertanian Anton Apriyantono di Jakarta, Selasa.
Upaya itu, menurut Anton, karena pihaknya tidak ingin kebiasaan yang terjadi di masa lalu tidak terulang. Selama ini kita sering sosialisasikan dan melakukan percobaan untuk berbagai benih baru, tetapi hingga saat ini kita masih terus mengimpor benih.
“Kita tidak mau seperti itu. Ini terakhir impor benih, selebihnya harus diproduksi sendiri,” tegas dia. Untuk itu, dia mengatakan, Indonesia akan mencoba melakukan kerjasama dengan China untuk memproduksi benih padi hibrida, bukan mengimpornya.
Pengembangan benih dilakukan di dalam negeri. Menurut dia, pihak swasta baik dari Indonesia dan China sudah mau melakukan kerjasama untuk mengembangkan benih tersebut. Mentan sempat menyebutkan bahwa batas akhir melakukan impor benih yakni 2009, dan 2010 harus sudah mampu memproduksi benih sendiri di dalam negeri, kecuali benih induk yang masih diperbolehkan impor.
RSS Blog
32 komentar untuk artikel ini. Tambah komentar
#1. Selamat datang di belantara blog pak menteri.. :)
#2. …iya deh… kita harus secepatnya swasembada beras lagi…
andi miswar (June 18th, 2007 at 12:52 pm)
Bagaimana cara memaksanya, Pak? Kalau mereka tidak mau, apakah mesti masuk penjara?
andersonite (June 18th, 2007 at 9:52 pm)
Mengadakan pertukaran mahasiswa di bidang pertanian aja pak, tapi kalau udah selesai harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, bukan pertukaran tapi setelah itu ilang… :)
Belajar WordPress (June 19th, 2007 at 10:56 am)
Numpang lewat ya Pak… baru dapet kabar dr Mas Budi Putra ttg blog ini.
Ak add di blogroll ah…
rd Limosin (June 19th, 2007 at 2:39 pm)
Ass. wr. wb.
Mohon weblog ini dikembangkan seperti yang dilakukan oleh Pak Juwono Sudarsono dan Pak Yusuf Asy’ari, untuk ini perlu diluangkan waktunya Pak Anton untuk menulis sendiri artikel di weblog ini, dan juga menjawab beberapa pertanyaan atau komentar penting.
Wass. wr. wb.
Syafrudin (June 19th, 2007 at 6:55 pm)
Selamat ngeblog pak mentri. Kalo bisa Pak Anton sendiri yang mengisi blog ini, tapi jangan dipaksakan kalo lagi sibuk & banyak tugas. :D
mufti (June 20th, 2007 at 11:13 pm)
selamat mengemban tugas mulia memajukan pertanian dan perkebunan Indonesia. semoga istiqomah dan terus semangat.
eka (June 29th, 2007 at 1:01 am)
kok komennya sopan2 ya?? gak kyk pas komen di blog ak?? tanya kenapa??
rd Limosin (June 29th, 2007 at 9:20 pm)
Maaf OOT,
Selamat datang di bLogosphare, smg blog ini benar2 juga dpt membantu informasi apdet tentang pemerintahan kita sbg kontrol kita kpada pemerintah.
@ rD Limosin : blah, ngaco loe, ya iyalah.. namanya juga komen di pak menteri, harus sopan donk *smbil lirak lirik berharap d krmi donasi krn telah membela :P
aLe (July 2nd, 2007 at 7:40 am)
Selamat nge-blog pak Anton.
Sekadar bertanya, webmaster itu nickname bapak, kah?
Salam,
syam
syam (July 16th, 2007 at 12:25 pm)
alhamdullillah, bapak masih punya waktu buat nge-blog, kalo bisa nulisnya jangan di wakil kan ya….!! Selamat ya pak
yokee (July 18th, 2007 at 2:02 pm)
Selamat buat pak Menteri dengan adanya pembuatan blog ini ^_^
Salam kenal,
Rici
rici (July 20th, 2007 at 5:28 pm)
Ass. wr.wb,
Saya sangat setuju dengan akan adanya pemaksaan produksi benih sendiri sehingga tidak tergantung kepada benih impor. yang saya ingin tanayakan bagaimana langkah konkret yang akan ditempuh oleh DEPTAN mengenai bibit kentang, walaupun BBI kentang Pangalengan telah dapat memproduksi bibit kentang bermutu tetapi produksinya kalah jauh dibandingkan dengan bibit impor dari Jerman ataupun Belanda. apa perlu mendatangkan ahli dari luar negeri agar kita dapat memproduksi bibit kentang dengan produksi tinggi. petani banyak mengeluh dengan rendahnya produktifitas bibit kentang dari BBI saat ini, sementara harga jual kentang ditingkat petani kisaran Rp. 2000,-. petani serba canggung tidak tanam kentang dapur tidak ngebul tanam kentang keuntungan mepet bahkan rugi. mohon sekiranya dapat dicarikan jalan keluarnya.
Suhendi (July 29th, 2007 at 3:33 pm)
Setuju pak menteri. memang harus dipaksa. itu produsen jagung hibrida spt pioneer juga dipaksa buat melakukan penelitian di Indo juga, jgn cuma produksinya saja.
peje (July 30th, 2007 at 6:57 pm)
asslamau’alaikum
pak menteri mbok yang dikejar itu jangan hanya swastanya, apalagi petaninya . . . kecian . .
peran pemerintah gitu loh pak; biaya penelitian, penyediaan bibit - pupuk murah . .
tanggung jawab terbeasar untuk penyediaan pangan tuh pada negara loh . . . jadi peran negaralah yang harus gedhe
ya too
pak mentri akan ditanya loh di akhirat besok kalau ada rakyat kelaparan
wassalam
muhasabah (July 31st, 2007 at 7:51 pm)
Semoga melalui media ini informasi tentang peningkatan taraf hidup masyarakat bangsa indonesia kususnya pada industri pertanian lebih cepat terpublikasi berikut cara dan prosesnya….(sok tau padahal nggak ngerti proses dan pengembangannya seperti apa)
hik..hik…
Sukses lah pak…terus ngeblog
Wong Ndeso (August 7th, 2007 at 4:44 pm)
assalamualaikum wr.wb
trima kasih pak bapak sangat demokratis sekali ketika minta masukan masalah subtansi dari masyarakat indonesia adalah padi/beras,dan ketika itu pak kalu kita barsama temen2 petani di jombang melihat/melakukan analisis padi hibrida yang di lakukan kerjasama dengan china sngat merugukan bagi petani pak mengapa karena akan menghilang kan budaya petani masyarakat indonesia kenapa ,?
1.melakukan perawatan yang lebih dari padi biasanya
2.efisiensi biaya pak sangat mahal dan berbagai persoalan yang berat bagi petani .mungkin ini hasil pertemuan kamiHASIL PERTEMUAN III
MENYIKAPI SUBSIDI BENIH HIBRIDA
Tanggal 15 Juli 2007
Untuk mengatasi masalah kesenjangan produksi dan konsumsi beras. Di beberapa negara telah mulai mengembangkan padi hibrida, yang diakui oleh beberapa pihak merupakan jawaban sementara terhadap problem pangan dunia. Indonesia bermaksud untuk mengembangkan varitas benih hibrida seperti yang sudah dilakukan oleh Cina, Filiphina, Vietnam dan Negara-negara lain.
Atas kebijakan ini pemerintah akan melakukan :
• Pengalihan subsidi dari pupuk ke benih Hibrida
• Pemerintah akan mengajak dan butuh Pemodal atau kemitraan dalam menjalankan proyek pertanian.
• Pemerintah memerlukan struktur hukum untuk melegalkan langkah-langkah yang ditempuh oleh pemerintah dapat berupa UU, PP, Permen dll..
• Pemerintah memerlukan sistem dan program untuk mengimplementasikan secara teknis dilapangan
• Media akan memiliki peran penting untuk mempengaruhi public untuk mengkampanyekan program pemerintah.
DAMPAK POSITIF
• Potensi hasil meningkat 5-10% (asumsi)
• Kenampakan tanaman lebih segar dan bersaing terhadap gulma
• Mendapat subsidi harga
Dampak bagi petani atas benih hibrida (diskusi, 5 juli 07)
• Petani tidak mampu membeli benih karena harganya mahal dan tidak dapat ditanam kembali
• Tidak ada jaminan produksi meningkat secara signifikan
• Kesepian alat produksi (bibit, pupuk dan teknologi)
• ketergantungan petani akan semakin meningkat
• Peningkatan produksi tidak sebanding dengan peningkatan biaya produksi
• Petani tetap pada posisi obyek bukan subyek kebijakan
• berdasarkan uji coba di Jombang ternyata Hibrida mudah terserang hama penyakit berupa wereng
• adanya rekayasa genetika
Dampak Negatif (pertemuan 15 Juli 07)
• Harga mahal (Rp. 35.000 – Rp. 75.000 per-Kg) bandingkan dengan harga bibit in-hibrida Rp. 3000 – Rp. 5000 per-Kg)
• Hasil panen (gabah) tidak dapat dijadikan benih à petani harus selalu membeli bibit
• Benih tidak bisa diproduksi sendiri oleh petani sehingga akan terjadi ketergantungan yang besar pada industri (perusahaan) benih
• Kebutuhan pupuk akan semakin meningkat seiring dengan kenaikan biaya produksi dan jenis hibrida rakus akan unsur hara
• Biaya produksi akan semakin tinggi jika dibanding dengan kenaikan produksi yang diasumsikan 5-10% sedang kenaikan biaya produksi 27,7% à jelas tidak sebanding
• Dalam teknis bercocok tanam benih hibrida tidak dapat diusahakan secara konvensional/kebiasaan petani
• Rentan/mudah terserang hama dan penyakit (wereng)
ANALISIS BIAYA PRODUKSI
(per 100 bata)
Hibrida Non Hibrida
1. Benih 2,5 x 35.000 = 87.500
2. Urea 100 x 1.240 = 124.000
3. Ponska 20 x 1.750 = 35.000
4. SP-36 15 x 1.700 = 25.500
5. ZA 15 x 1.200 = 25.500
Jumlah = 297.500 1. Benih 8 x 4.000 = 32.000
2. Urea 100 x 1.240 = 124.000
3. Ponska 20 x 1.750 = 35.000
4. ZA 25 x 1.200 = 30.000
Jumlah = 221.000
Pertanyaannya;
• Apakah keinginan dan kebijakan pemerintah Indonesia merupakan jawaban dan kebutuhan petani atas kesenjangan produksi yang terjadi?
• Apakah keinginan ini malah akan memunculkan ketergantungan baru bagi petani setelah sekian lama lahan pertanian rusak akibat pupuk kimia yang notabene kelompok industi?
phey (August 31st, 2007 at 1:29 pm)
Subsidi Benih Hibrida;
Pilihan Kebijakan Yang Menjerumuskan Petani
Petani dalam anggapan masyarakat luas yang berkembang saat ini merupakan suatu profesi yang dekat dengan kemiskinan dan kelompok masyarakat tidak berdaya. Anggapan ini sah-sah saja dan tidak perlu disalahkan, memang demikian realitasnya. Namun perlu diingat bahwa keberadaan petani sangat berarti bagi negeri ini, setidaknya ada peran ganda yang dijalankan oleh petani. Pertama kemampuan menyediakan lapangan kerja minimal memenuhi kebutuhan keluarganya , kedua menyediakan kebutuhan pangan bangsa. Sehingga tidaklah salah jika kita turut memikirkan nasib petani yang lekat dengan kemiskinan dan ketidakberdayaan.
Sektor Pertanian dari dulu hingga kini kurang mendapat perhatian yang serius bahkan cenderung dieksploitasi demi kepentingan penguasa dan pemodal. Salah satu contoh yang paling sederhana dan dekat, ketika pemerintah menyatakan stok beras Nasional tidak tercapai atau menipis, maka asumsi yang muncul selalu produktivitas petani rendah. Kemudian ujung-ujungnya petani diarahkan untuk merubah system budidaya, parahnya petani diarahkan menggunakan produk-produk Industri yang notabene sudah dipersiapkan sebagai solusi alternatif ala pemerintah. Sehingga petani menjadi konsumen yang tidak tahu apakah akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan hidupnya sementara industri jelas mengantongi keuntungan dari penjualan produknya.
Menurut sejarah pada era 70-an guna mencapai kecukupan pangan atau swasembada beras, pemerintah mengarahkan petani untuk menggunakan benih unggul, pupuk An-organik, pestisida yang kesemuanya produksi industri, paket ini dikemas dalam sebuah program yang dikenal Revolusi Hijau. Memang pada awalnya produksi meningkat dan swasembada beras tercapai bahkan sempat mengekspor beras tahun 1984-1985. Namun itu tidak berjalan lama masuk tahun 1986 kembali mengalami kecenderungan penurunan produksi bahkan memasuki era 90-an kembali mengimpor beras.
Kebijakan Yang Menjerumuskan
Nampaknya saat ini model Kebijakan seperti diatas akan diulangi kembali oleh pemerintah, yang menjadi dasar pun masih sama yakni kerawanan pangan. Dan yang menjadi asumsi selalu rendahnya produktivitas lahan. Namun saat ini strengh pointnya terletak pada benih yang dianggap kurang unggul sehingga tidak berpotensi untuk produksi tinggi. Saat ini pemerintah lagi bersemangat untuk menggalakkan penggunaan benih hibrida sebagai solusi untuk mendongkrak produktivitas. Demi tercapainya program ini pemerintah berani mengalokasikan dana yang cukup besar bahkan rencananya pada tahun ini pemerintah akan memberikan benih secara gratis (sumber. TRUST).
Kebijakan tersebut terkesan populis (berpihak rakyat/petani), namun bila dicermati sebenarnya petani akan dihadapkan pada suatu ancaman pada keberlanjutan dari usaha taninya. Petani tidak mampu/berdaya dalam menjamin ketersediaan benih saat mereka butuhkan. Perlu menjadi catatan benih hanya dapat dipakai satu kali tanam dan yang memproduksi benih adalah industri sehingga kemungkinan terjadinya monopoli sangat terbuka dan petani mengalami ketergantungan. Dan yang lebih mengkhawatirkan adalah induk benih berasal dari luar negeri, artinya negara kita akan bergantung pada negara lain dalam memproduksi benih.
Jika Saat ini pemerintah mampu dan mau membiayai dengan mensubsidi bahkan memberikan gratis, apakah ini akan berlangsung terus? sementara petani menjalankan usaha taninya tidak hanya satu dua tahun tapi selamanya. Yang jelas petani kita semakin menjadi ajang eksploitasi keuntungan kaum pemodal. Setiap kebijakan yang diambil oleh pemerintah sampai saat ini terlihat kurang memperhatikan aspek peningkatan kesejahteraan hidup petani dan keberdayaan petani, pemerintah hanya mengejar target kecukupan pangan dan kepentingan politiknya.
Berbicara tentang kelangkaan stok beras, ada beberapa hal yang dapat menjadi penyebab kelangkaan/kekurangan pangan diantaranya ;
1. Produksi yang rendah,
Faktor penyebab :
a. Benih potensi produksinya rendah, rentan hama dan penyakit.
b. Tingkat kesuburan tanah yang semakin menurun terkait erat dengan penggunaan pupuk
c. Serangan hama dan penyakit.
d. Ketersediaan air yang tidak sesuai dengan pola pertumbuhan tanaman
e. Teknis budidaya yang masih konvensional dan tidak memperhatikan kelestarian lingkungan.
f. Rendahnya semangat untuk meningkatkan produski akibat dari tidak adanya jaminan harga yang layak dan menguntungkan bagi petani.
2. Sistem Penyimpanan dan Distribusi,
Bulog tidak berperan secara optimal sebagai penyangga stok pangan Nasional, hilangnya budaya menyimpan dipetani (lumbung) sehingga kendali pangan tidak tangan dipetani maupun pemerintah. Beras banyak terakumulasi ditangan pemodal sehingga mampu mengendalikan stok dan harga.
3. Komoditas/bahan pangan alternatif (keanekaragaman pangan)
Hampir Semua rakyat Indonesia mengkonsumsi beras sebagai makanan pokok padahal dulu banyak suku/daerah tidak menjadikan beras sebagai makanan pokok. Setelah ada program Revolusi Hijau semua menjadikan beras sebagai makanan pokok, dengan hal ini kebutuhan beras semakin meningkat.
Jika rendahnya produksi diasumsikan penyebabnya adalah benih yang digunakan petani selama (in-hibrida) ini kurang unggul rasanya kurang bijak. Perlu diingat padi in-hibrida dulu pada awalnya juga mempunyai kemampuan produksi tinggi walau lama kelamaan mengalami penurunan kemampuan produksi namun itu tidak dialami semua daerah. Penyebabnya bukan menurunnya kualitas benih tapi lebih banyak disebakan oleh menurunnya kualitas kesuburan tanah yang ditandai oleh rendahnya kadar Bahan Organic (BO) dan rusaknya ekologi tanah. Selain itu dukungan sarana irigasi masih kurang memenuhi persyaratan kebutuhan teknis budidaya, ada beberapa daerah khususnya di kabupaten Jombang mendapatkan air irigasi dua minggu sekali.
Bahkan berdasar kenyataan dilapangan dibeberapa daerah padi in-hibrida saat ini masih mampu berproduksi mencapai 7 ton hingga 8 ton. Dan dengan padi jenis ini petani tidak perlu setiap musim tanam membeli benih sehingga biaya produksi dapat ditekan. Saat ini tercatat 30% - 35% dari total biaya produksi merupakan input produksi (asupan) dari luar, bila petani menggunakan benih hibrida maka input produksi dari luar akan mencapai 45% - 50%.
Dengan demikian, apakah petani kita akan sejahtera dan berdaya? Apakah keinginan dan kebijakan pemerintah merupakan jawaban dan kebutuhan petani atas kesenjangan produksi yang terjadi? Apakah keinginan ini malah akan memunculkan ketergantungan baru bagi petani setelah sekian lama lahan pertanian rusak akibat pupuk kimia yang notabene kelompok industi?
Untuk menjawab beberapa pertanyaan diatas, mari simak analisa dampak dan keuntungan dari penggunaan benih hibrida.
Dari paparan diatas, persoalan kelangkaan/kerawanan pangan tidak dapat hanya diarahkan pada rendahnya produktivitas lahan. Melainkan juga harus ditinjau kembali system penyimpanan dan distribusi beras serta potensi keanekargaman bahan pangan. Sehingga Kebijakan yang diambil tidak dapat bersifat parsial semua harus dilakukan secara terpadu dan menyeluruh. Apalagi hanya dengan menggunakan benih hibrida apakah sudah dapat menjamin peningkatan produksi?
Langkah kedepan yang mestinya ditempuh pemerintah dalam upaya terjaminnya kecukupan pangan dengan harga yang stabil dan menguntungkan petani diantaranya :
1. Mengupayakan peningkatan produksi meliputi ;
a. Meningkatkan peran dan kinerja PPL sebagai pendamping teknis dilapangan dan motivator perubahan.
b. Mengembangkan system pertanian yang ramah lingkungan dan memandirikan petani sehingga kesuburan tanah terjaga dan petani dapat berdaulat atas pangan.
c. Meningkatkan daya dukung infrastruktur pertanian guna terpenuhinya persyaratan teknis budidaya.
d. Membangun kelembagaan petani yang mampu menopan kebutuhan dan persoalan petani
e. Memberikan rangsangan semangat meningkatkan produksi melalui kebijakan pembelian hasil pertanian oleh pemerintah dengan harga yang adil dan layak.
2. Perbaikan system penyimpanan dan distribusi
a. Meningkatkan peran dan kinerja BULOG sebagai lembaga stabilisator stok dan harga beras.
b. Menumbuhkan kembali peran lumbung petani sebagai ketahanan pangan yang utama, sehingga tumbuh kembali budaya menyimpan dipetani.
3. Adanya keanekaragaman bahan pangan
a. Memasyarakatkan keanekaragaman bahan pangan sehingga tumbuh potensi bahan pangan alternatif.
b. Pengembangan teknologi pangan yang mampu meningkatkan daya tarik dan kualitas bahan pangan untuk layak dan diminati.
phey (October 3rd, 2007 at 4:26 pm)
saya setuju dengan kebijakan tersebut, namun ada hal yang perlu lebih diperhatikan yaitu biaya produksi pertanian yang kian mahal membuat penghasilan para petani menjadi semakin menurun. belum lagi ditambah dengan kecenderungan generasi muda sekarang enggan untuk menekuni bidang pertanian, hal ini membuat tenaga kerja di bidang pertanian semakin berkurang, akibatnya ongkos tenaga kerja menjadi semakin mahal. sedangkan untuk mekanisasi pertanian, untuk kebanyakan petani kita belum bisa menjangkau karena harganya yang mahal, walaupun pemerinthan telah memberikan fasilitas kredit, namun karena terkendala penghasilan yang tidak memungkinkan untuk mengangsur, maka mereka tidak mungkin bisa memanfaatkan fasilitas tersebut.
agus (October 4th, 2007 at 1:19 pm)
pak mentri, saya membaca di media bahwa Bapak dan rombongan meninjau panen benih di PT. SAS Trimurjo Lampung Tengah. Menurut info dari Lampung Post, bahwa Bapak memang belum mengetahui bahwa di lampung sedang dikembangkan benih unggul likal lampung SERTANI-1.
Saya sebagai Ketua Umum Serikat Tani Indonesia yang salah satu kegiatan yang saat ini sedang kami fokuskan adalah memperbanyak benih teresebut untuk kepentingan anggota (intern) di lampung.
benih SERTANI-1 merupakan hasil persilangan dua padi darat, yaitu Sirendah dan Dayang Rindu — keduanaya tetuanya dari Lampung Tengah. Pemulia padi SERTANI-1 adalah SURONO DANU. kegiatan pemuliaan padi tersebut diakui oleh ybs sejak tahun 1985-an. jadi sudah 22 tahun. Dia orang yang sangat sederhana dan hampir sepanjang waktu tersebut dilakoni hidupnya dalam penderitaan lahir-batin, tanpa pengakuan dan dukungan dari pihak manapun — termasuk Pemerintah.
Saat ini padi SERTANI-1 terus diperbanyak. Sampai tulisan ini dibuat, kami sedang mengemas lebih kurang 25 ton untuk memenuhi kebutuhan Anggota sendiri. Kelebihan padi SERTANI-1 adalah potensi produksinya 12-14 ton/ha. Rata-rata biji/malai mencapai 350 bulir, jauh di atas padi-padi lainnya, termasuk padi hibrida sekalipun.
Pada musim tanam akhir tahun 2007 ini s/d awal tahun 2008 kami akan menggelar “sayembara” menanam padi SERTANI-1 di Lampung. Diperkirakan ada lebih dari 5000 petani akan turut serta dalam perlombaan tersebut. Setiap petani hanya mendapatkan kesempatan menanam 5 kg benih (untuk 5000 m2). penggunaan benih SERTANI-1 sangat hemat, yaitu hanya 8 - 10 kg / ha. jarak tanam 25 x 25 atau 30 x 30 cm. tanam cukup satu-satu per lubang tanam. Umur tanaman hanya 105 hari (dihitung setelah semai).
Dengan informasi ini, kiranya Bapak bisa mendapatkan keterangan tentang SERTANI-1 tersebut. Kami sangat mendukung program P2BN untuk mencapai ketahanan pangan nasional, yaitu mencapai tambahan produksi beras 2 jt ton pada tahun ini.
anang prihantoro (October 19th, 2007 at 10:53 am)
salam perjuangan,
saya heran dengan pemimpin bangsa ini, cara berfikirnya selalu kerjasama dengan pihak asing. seharusnya mulai bekerja dengan kemampuan sendiri, untuk benih sudah ada contohnya sertani 1. tinggal bagaimana memperluas penyebaran benih tersebut kepada petani yang ada di indonesia dan menjaga agar benih yang dihasilkan oleh anak bangsa aman dari monopoli kapitalis.
perkuat dulu kemampuan dalam negeri sebelum memutuskan untuk bekerjasama dengan pihak asing maupun perusahaan swasta, karena sudah dapat dipastikan bahwa idiologi pengusaha dimanapun berada adalah meraih keuntungan yang sebesar-besarnya dan mengeluarkan modal yang sekecil-kecilnya.
nasip kaum petani saat ini tidak berbeda dengan kaum buruh, kedua-duanya adalah klas pekerja yang tertindas dari sebuah sistem yang tidak berpihak.
musrianto (November 23rd, 2007 at 9:40 pm)
Assalamu’alaikum. Wr. Wb
Saya sangat setuju dengan kebijakan yang bapak. karena pembuatan benih akan berdampak luas terhadap perkembangan ilmu dan kemajuan pertanian di negeri kita. dan saya sangat yakin bahwa kita sangat mampu memproduksi benih yang mampu bersaing dipasaran. dan saya berharap bukan hanya suasta saja yang dipakasa.. tapi perusahaan BUMN seperti PT Pertani atau sanghiang seri saya pikir harus mulai di revormasi total. karena produksi benih terkait dengan minimal 4 hal :
1. Penelitian dan pengembangan (R&D) terkait dengan penemuan varietas dan bank plasma nutfa.
2. Produksi —- terkait dengan perbanyakan, yang menggunakan sistem dan management yang baik agar kebutuhan benih dengan pengadaannya sesuai dengan kebutuhan
3. QC ( Quality Qontrol) atau dibeberapa perusahaan ada yang menyebut QA (quality Insurance) — terkait dengan kualitas seperti : germanation, Rafaksi dan Purity
4. Marketing — jelas terkait dengan pemasaran dan promosi benih yang tentunya harus mempunyai kemampuan yang baik.
mungkin juga sekedar informasi, sudah banyak perusahaan luar yang “menitipkan” produksi benihnya di Indonesia (seperti Thailan dengan Chia Thai, Jepang dengan Takii Seed, Taiwan dan lainnya). dan petani serta tenaga kita mampu untuk melakukan itu. jadi sekarang tinggal support dari pihak deptan melalui pembinaan dan bantuan permodalan, agar kelompok/ organisasi / perorangan yang mampu melakukan itu bisa berkembang secara kompetitif.
Wallahua’lam… Assalamu’alaikum Wr Wb
Abu Faqih (December 5th, 2007 at 7:47 am)
Untuk Andi Miswar:
Cara nenaksanya yaitu kita tidak mengeluarkan lagi izin impor kepada importir ybs jika si importir/produsen ybs tidak mengembangkan benih tsb didalam negeri. Jadi, setelah 2 tahun mengimpor kita akan evaluasi, jika tidak mengembangkan benih yang dimpor didalam negeri maka izin impornya dicabut dan si importir/produsen tidak bisa lagi mengimpor benih ybs.
Anton Apriyantono
Anton Apriyantono (January 6th, 2008 at 2:51 pm)
Untuk Abu Faqih:
Wass wr wb.
Terima kasih atas dukungan dan sarannya, insya Allah akan kita dorong industri perbenihan didalam negeri, benar sekali bahwa sebetulnya kita mampu dan ini dibuktikan bahwa kita juga sudah mampu mengekspor benih hortikultura ke mancanegara.
Wass wr wb.
Anton Apriyantono
Anton Apriyantono (January 6th, 2008 at 2:54 pm)
Untuk Anang Prihantoro:
Terima kasih atas informasi benih padi Sertani-1. Kami tentu sangat senang sekali jika masyarakat mampu mengembangkan benih unggul. Saya minta agar Sertani-1 segera didaftarkan di Deptan sehingga bisa dilakukan proses pelepasan benih unggul. Kami akan membantu proses pelepasan benih tsb, misalnya dalam melakukan verifikasi silsilah varitas, uji multilokasi, dll.
Anton Apriyantono
Anton Apriyantono (January 6th, 2008 at 3:00 pm)
Untuk Agus:
Agar usaha tani mendatangkan keuntungan (untuk mengimbangi kenaikan biaya produksi) maka harus ditingkatkan produktifitasnya, misal untuk padi jika biasanya mampu menghasilkan 5 ton GKP per Ha maka harus ditingkatkan menjadi 6 atau lebih GKP per Ha. Selain itu, untuk mencapai skala usaha yang layak maka luas lahan harus cukup besar, disini sebetulnya permasalahan utama kebanyakan petani kita. Penguasaan lahan petani kita masih kecil sekali (untuk sawah rata-rata hanya sekitar 0.4 Ha). Jadi, program reforma agraria harus berjalan sehingga petani memiliki luas lahan garapan yang cukup luas. Cara lainnya, jumlah petani harus berkurang dengan cara beralih ke bidang kerja sektor lain selain pertanian (sektor lain harus berkembang), jika jumlah petani bisa dikurangi maka lahan-lahan pertanian yang ada akan dikelola oleh jumlah petani yang lebih sedikit sehingga luas lahan yang dikelolanya lebih luas.
Anton Apriyantono
Anton Apriyantono (January 6th, 2008 at 3:09 pm)
kita tunggu pak inisiatif dari dari pak mentri gimana penguatan pertanian masyarakat indonesia dalam pertanian karena itu sangat penting bagi petani dan ini pak perlu dipertimbang kan juga pak kita ngomong juga swasta ,di jombang swasta di kuasai oleh birokrasi pemerintah tapi bagaimana pemaksaan terhadap swsta ,perlu adanya pengawasan dari deptan yang serius dan tau tau swasta sudah dikuasai oleh deptan karena takut dengan swasta yang di kuasai oleh penguasa.
PHEY (January 7th, 2008 at 5:49 pm)
ya setuju tapi perlu gagasan yang lebih solutif dan menggunakan pendekatan yang realistis. saya yakin bisa langkahnya jelas,tegas, dan teraarah. soal ketetepatan adalah terkait perjalannya. insyaAllah jika kontrolnya optimal pasti di mudahkan.
saya akan mengawali dengan kentang di DATARAN TINGGI DIENG.
mohon dukungannya. senang bila di beri saran oleh pak menteri langsung.
Setyo Budi (January 8th, 2008 at 2:42 pm)
Kami mengundang Bapak untuk mengunjugi blog kami dan adalah kehormatan bagi kami jika Bapak meninggalkan pesan buat kami…
Pbt pusat (January 9th, 2008 at 9:38 am)
Kepada YTH.
Menteri Pertanian RI
Bapak Anton Apriyantono
Kami adalah pabrikan Pupuk NPK Organik Lengkap + Mikroba merk TASUKE Powder & Cair (TAnah SUbur KEmbali) produksi PT. Tanah Airku Subur Kembali, Sidoarjo - Jawa Timur. Kami telah melakukan pembinaan langsung pada petani di : Bali, Sidoarjo, Gresik, Probolinggo, Nganjuk, dalam menyadarkan petani untuk mengembalikan kesuburan tanah pertanian yang saat ini sudah KRITIS, RUSAK dan MISKIN UNSUR HARA, sehingga tingkat kesuburan lahan pertanian sangat memprihatinkan. Dalam hal ujicoba yg telah kami lakukan dan hasilnya pupuk NPK organik TASUKE dapat meningkatkan hasil panen padi, padi tahan terhadap hama, lahan pertanian menjadi gembur dan panen rata2 berumur maksimum 85 - 90 hari. Hasil ujicoba pupuk NPK organik TASUKE adalah : Peningkatan padi varietas Ciherang dr 6 Ton/Ha menjadi 11,3 Ton (di ds. Ketanen, Panceng, Gresik/ujicoba bersama pabrik pupuk lainnya dgn Balai Penyuluhan Pertanian Kec. Panceng - Gresik), Peringkatan padi varietas Ciherang dr 6 Ton/6.700 M2 menjadi 8,6 Ton/6.700 M2 (di ds. Masangan Wetan - Sidoarjo), Peningkatan padi Ciherang dr 6 Ton/Ha menjadi 10,9 Ton/Ha (diBr. Sayan, Badung - Bali), Peningkatan dr 6 Ton/Ha menjadi 8,5 Ton (di ds. Kapal, Badung - Bali) dan untuk Hortikultura dan Perkebunan rata2 peningkatan hasil diatas 30% dan waktu panen lebih singkat. Dengan menggunakan pupuk NPK organik TASUKE, petani binaan kami benar2 merasakan hasil yg diperolehnya krn dr biaya pupuk (600 Kg/Ha, hanya sekali pupuk saja yaitu ditebar -7 hari sebelum bibit ditanam) dan tenaga kerja dapat ditekan dan kami terus memantau petani yg peduli dg lahan pertaniannya. Kamipun saat ini sedang ujicoba padi pada lahan gambut di Kalimantan, Insya Allah bulan Februari ini lahan yang menggunakan pupuk NPK organik TASUKE akan panen. Kami berharap petani kita sadar untuk mengembalikan kesuburan lahan pertaniannya untuk anak cucunya kelak dan membantu pemerintah agar tidak impor beras.
Kami sangat mendukung program pemerintah untuk GO ORGANIK 2010.
Terima Kasih.
PT. TANAH AIRKU SUBUR KEMBALI
Riza Ghazali R.
HP. 0817 0303 1968, 08883022221
Riza Ghazali R. (January 12th, 2008 at 11:20 pm)
Ass wr wb pak Anton,
Selamat pak Menteri, semoga tulisan blog ini bisa menjadi sarana penyampaian informasi sekaligus temu rempug seluruh pelaku bidang pertanian di jagat maya.
Semoga semua sumbang saran dan pemikiran dari masyarakat yg tidak bisa bertemu langsung dapat dijawab langsung oleh pak Anton.
sekali lagi selamat
syahid (January 14th, 2008 at 9:59 pm)
selama ini ada banyak model kemitraan antara petani dengan sawsta/perusahaan. tetapi sangat disayangkan posisi petani dalam penyusunan MoU selalu tidak dilibatkan, sehingga pada akhirnya harus kalah. sebagai contoh dalam kemitraan sawit, tebu dan apalagi singkong. padahal petani yang terlibat dalam aneka kemitraan tersebut jumlahnya jutaan kepala keluarga. Bagaimana pak mentri hal ini bisa dijembatani/diadvokasi. kasihan lho petani, kalau hanya jadi bulan2an kapitalis.
anang prihantoro (January 17th, 2008 at 6:06 pm)